# Update Situasi Pengungsi dan Pencari Suaka: Tren Terbaru 2023 Pada 2023, situasi pengungsi dan pencari suaka di seluruh dunia semakin kompleks, dengan jumlah penduduk yang terpaksa meninggalkan rumah tangga mereka mencapai tingkat tertinggi sejak perang dunia kedua. Meningkatnya konflik regional, krisis ekonomi global, dan perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperparah tekanan pada populasi pengungsi. Menurut laporan terbaru dari *UNHCR* (Badan Pengungsi PBB), jumlah pengungsi internasional mencapai sekitar 113 juta orang pada akhir 2022, dengan angka tersebut terus meningkat sepanjang tahun 2023. Fenomena ini tidak hanya menimpa wilayah konflik seperti Suriah dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi daerah-daerah yang mengalami ketidakstabilan politik, seperti Afrika Tengah dan Asia Tenggara. Di tengah situasi ini, banyak pihak berupaya meningkatkan kemampuan penanganan pengungsi dan pencari suaka melalui kebijakan migrasi yang lebih inklusif serta penggalangan dana internasional. Namun, tantangan utama tetap terletak pada kapasitas pemerintah penerima, kesenjangan dalam akses ke layanan kesehatan dan pendidikan, serta isu-isu keamanan yang sering kali memicu ketegangan antara masyarakat lokal dan pengungsi. Dengan menggabungkan data terkini dan tren terbaru, artikel ini akan mengupas dinamika dan perubahan dalam situasi pengungsi dan pencari suaka di tahun 2023. ## Penyebab Utama Situasi Pengungsi dan Pencari Suaka ### 1. Konflik Regional dan Perang Konflik regional tetap menjadi penyebab utama migrasi pengungsi dan pencari suaka di tahun 2023. Perang di Ukraina yang berlangsung sejak 2022 masih menjadi penyumbang utama jumlah pengungsi internasional, dengan lebih dari 8 juta orang terpaksa meninggalkan negara mereka. Di sisi lain, konflik di Sudan, Ethiopia, dan Yaman memicu pengungsi internal dan migrasi lintas batas. Perang di Sudan, khususnya di Darfur dan wilayah lainnya, mengakibatkan 5 juta orang terpaksa berpindah tempat tinggal. Di wilayah Timur Tengah, konflik berkepanjangan di Suriah, Irak, dan Libanon terus menghasilkan aliran pengungsi yang tidak stabil. Di Suriah, konflik yang berlangsung selama lebih dari satu dekade membuat sekitar 5 juta orang tinggal di pengungsian. Meski ada sedikit peningkatan kesejahteraan di beberapa daerah, konflik yang berlangsung di wilayah barat Suriah dan wilayah Irak Utara masih menjadi sumber tekanan migrasi yang signifikan. Konflik di Afrika juga tidak kalah memengaruhi. Di Ethiopia, ketegangan antara pemerintah dan kelompok perlawanan di wilayah Tigray memicu 1 juta orang terpaksa berpindah. Di Nigeria, situasi keamanan di wilayah Niger Delta menyebabkan 200.000 orang terpaksa mengungsi. Di Afrika Tenggara, perang di Sudan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka, mengakibatkan peningkatan jumlah pencari suaka yang masuk ke Eropa dan Timur Tengah. ### 2. Krisis Ekonomi Global Krisis ekonomi global yang berkepanjangan selama 2023 juga berkontribusi pada meningkatnya jumlah pengungsi. Inflasi yang tinggi, pengangguran, dan tekanan pada mata uang lokal membuat kehidupan ekonomi banyak masyarakat terganggu. Di banyak negara, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan listrik memaksa penduduk setempat untuk mencari penghasilan di luar negeri. Di Eropa, krisis ekonomi memengaruhi pola migrasi. Negara-negara seperti Yunani dan Spanyol melihat peningkatan jumlah pencari suaka yang datang ke wilayah mereka, terutama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika. Di Asia Tenggara, krisis ekonomi mengakibatkan peningkatan jumlah orang yang meninggalkan negara asal mereka untuk mencari peluang kerja di negara tetangga. Krisis ekonomi juga berdampak pada pemerintah penerima. Beberapa negara mengalami tekanan besar akibat meningkatnya biaya layanan publik dan peningkatan populasi pengungsi. Namun, sebagian besar negara mengambil langkah-langkah untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya, seperti mengalokasikan dana lebih besar untuk program penerimaan pengungsi. ### 3. Perubahan Iklim dan Bencana Alam Perubahan iklim dan bencana alam menjadi faktor baru dalam meningkatkan jumlah pengungsi. Dalam 2023, bencana seperti banjir, kekeringan, dan gempa bumi memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka. Di Asia Tenggara, banjir yang parah di Indonesia, Vietnam, dan Thailand mengakibatkan 5 juta orang terpaksa mengungsi. Di Afrika, perubahan iklim memperburuk krisis pangan. Pemanasan global menyebabkan penurunan hasil panen, sehingga meningkatkan jumlah orang yang terpaksa meninggalkan wilayah mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di wilayah seperti Somalia dan Kenya, kelangkaan air dan pangan memaksa masyarakat menetapkan kebijakan migrasi yang lebih fleksibel. Perubahan iklim juga memengaruhi pemerintah dan organisasi internasional. Banyak negara mulai menyadari bahwa pengungsi bukan hanya berasal dari konflik, tetapi juga dari ketidakstabilan lingkungan. Ini mendorong pengembangan kebijakan yang lebih komprehensif, yang mencakup mitigasi bencana alam dan adaptasi terhadap perubahan iklim. ## Statistik Situasi Pengungsi dan Pencari Suaka Tahun 2023 ### 1. Jumlah Pengungsi dan Pencari Suaka Global Menurut data terkini dari *UNHCR*, jumlah pengungsi dan pencari suaka di dunia pada 2023 mencapai 113 juta orang. Angka ini meningkat sekitar 3% dibandingkan tahun 2022, yang menunjukkan bahwa tren ini sedang terus berkembang. Di antara 113 juta orang ini, sekitar 47 juta adalah pengungsi internasional yang tinggal di negara lain, sementara 66 juta adalah pengungsi internal yang tetap berada di wilayah negara asal mereka. | Tahun | Jumlah Pengungsi Internasional | Jumlah Pengungsi Internal | Total Pengungsi | |——-|——————————-|————————–|—————-| | 2021 | 36,5 juta | 43 juta | 79,5 juta | | 2022 | 38,7 juta | 45,8 juta | 84,5 juta | | 2023 | 39,3 juta | 46,5 juta | 85,8 juta | ### 2. Perbandingan Negara-Negara Penerima Utama Dalam 2023, negara-negara penerima utama pengungsi internasional berubah karena adanya pergeseran dalam aliran migrasi. Terdapat tiga negara utama yang menampung sekitar 50% dari total pengungsi internasional: – Turki: 4,2 juta pengungsi dari Suriah, membuat Turki menjadi negara penerima terbesar di dunia. – India: 1,9 juta pengungsi dari Afghanistan dan Pakistan, dengan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2022. – Kazakhstan: 1,7 juta pengungsi dari Ukraina, yang terus meningkat seiring penyebaran perang. Di Eropa, Jerman, Prancis, dan Italia tetap menjadi negara penerima utama, tetapi jumlah penduduk pengungsi yang masuk ke Eropa sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya karena pemerintah mengambil kebijakan yang lebih ketat. ### 3. Perbandingan Tahun 2023 dengan Tahun 2022 Dibandingkan tahun 2022, ada beberapa perubahan signifikan dalam situasi pengungsi dan pencari suaka di 2023. Pertama, jumlah pengungsi internasional meningkat 1,5 juta orang, terutama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika. Kedua, pengungsi dari Ukraina mencapai rekor tinggi, dengan sekitar 1,7 juta orang mengungsi ke negara-negara tetangga. Ketiga, pengungsi dari Afrika Tenggara meningkat 12%, mencapai 10 juta orang yang terpaksa meninggalkan wilayah mereka karena konflik dan bencana alam. Keempat, jumlah pencari suaka dari Asia Tenggara meningkat