What Happened During: Timnas disiplin speed jalani “recovery” sebelum hadapi Series Chamonix

Timnas Disiplin Speed Jalani ‘Recovery’ Sebelum Hadapi World Climbing Series Chamonix

What Happened During – Jakarta, 6 Juli – Tim nasional panjat tebing disiplin speed Indonesia tengah menjalani program pemulihan fisik selama dua hari sebelum menghadapi World Climbing Series Chamonix 2026 di Prancis. Asisten pelatih Timnas Panjat Tebing Disiplin Speed Indonesia, Fitriyani, mengungkapkan bahwa para atlet telah tiba di Prancis sejak pukul dua pagi waktu setempat, atau pukul tujuh pagi WIB, sehingga bisa memanfaatkan waktu istirahat setelah mengikuti seri Krakow, Polandia, dua hari sebelumnya.

Adaptasi Fisik di Lokasi Tujuan

“Dua hari ini, 7 dan 8 Juli, keenam anggota tim akan mengambil istirahat penuh,” ujar Fitriyani saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa. Meski masa pemulihan menjadi fokus utama, para atlet tetap menjalani adaptasi fisik di lokasi Prancis. Ia menjelaskan bahwa latihan ringan tetap dilakukan guna memastikan kesiapan tubuh mereka sebelum turnamen dimulai 10 Juli.

“Setelah itu akan ada latihan sedikit sebelum turnamen yang dimulai 10 Juli,” ujar dia.

Perjuangan Atlet di Antara Jadwal yang Padat

Fitriyani menekankan bahwa para atlet tetap bersemangat tinggi meski menghadapi jadwal yang padat antara dua lokasi yang jauh apart. Pemulihan fisik dan adaptasi di Prancis dianggap penting guna mengembalikan kondisi optimal sebelum bertanding dalam dua nomor pertandingan, yaitu individu putra dan putri. “Mereka tetap antusias dan fokus untuk melanjutkan perjuangan di Chamonix,” tambahnya.

Komposisi Tim dan Persiapan Jelang Serie

Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirim 10 atlet untuk mengikuti World Climbing Series Chamonix 2026. Komposisi tim terdiri dari tujuh atlet disiplin speed dan tiga atlet lead. Pristiawan Buntoro, manajer Timnas, mengatakan bahwa penjajaran antara komposisi disiplin speed di Chamonix dan Krakow tetap dipertahankan. “Kita berangkat ke Prancis langsung setelah mengikuti seri Krakow, sehingga meminimalkan risiko kelelahan berlebihan,” kata dia saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (6/7).

Daftar Atlet yang Diturunkan

Di sektor disiplin speed, Indonesia menurunkan empat atlet putra: Veddriq Leonardo, Raharjati Nursamsa, Aditya Tri Syahria, dan Antasyafi Robby Al Hilmi. Sementara di sektor putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi, Raji’ah Sallsabillah, dan Kadek Adi Asih menjadi representasi tim. Dalam disiplin lead, tiga atlet turut diterjunkan, yaitu Putra Tri Ramadani (a.k.a. Srondeng), Ravianto Ramadhan, serta satu atlet putri, Alma Ariella Tsany.

Strategi Recovery dan Fokus pada Kondisi Mental

Tim nasional memprioritaskan pemulihan fisik sebagai strategi untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan di Chamonix. Pemulihan dilakukan secara terstruktur, mencakup rehat lengkap dan latihan ringan yang dirancang khusus untuk memperkuat stamina tanpa menguras tenaga berlebihan. “Tujuan utama recovery adalah memastikan atlet siap secara fisik dan mental,” jelas Fitriyani. Ia menambahkan bahwa latihan adaptasi di Prancis juga memperhatikan kondisi cuaca dan medan persaingan guna menghindari cedera atau kelelahan.

Kesiapan Teknis dan Konsistensi Performa

Meski jadwal yang sempit antara Krakow dan Chamonix, Timnas Disiplin Speed Indonesia tetap berusaha mempertahankan konsistensi performa. Selama pemulihan, para atlet melakukan evaluasi teknis dan pemantapan teknik berdasarkan hasil pertandingan sebelumnya. “Kami mengambil waktu untuk menyempurnakan strategi dan mengidentifikasi kekuatan-kekuatan baru sebelum melangkah ke babak final,” kata Pristiawan Buntoro. Ia juga menyoroti pentingnya persiapan mental dalam menghadapi kompetisi di luar negeri, terutama di kondisi yang berbeda.

Persiapan Logistik dan Dukungan Tim

Logistik persiapan tim sangat terencana untuk memastikan seluruh anggota bisa tiba di Prancis dengan selamat. Fitriyani mengatakan bahwa perjalanan ke Prancis diatur agar tidak mengganggu kesiapan pemulihan. “Tim lead dan saya berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu (8/7), sementara tim speed sudah ada di lokasi sejak dua hari sebelumnya,” ujar Pristiawan. Dukungan dari tim pelatih dan staf juga dijaga agar semua aspek kesehatan dan kinerja bisa terpantau secara real-time.

Target dan Harapan di Series Chamonix

Fitriyani berharap pemulihan dua hari ini bisa memberi dampak signifikan dalam meningkatkan kinerja para atlet. “Kami percaya recovery yang baik akan menghasilkan performa maksimal saat bertanding,” ujarnya. Sementara Pristiawan menegaskan bahwa target utama adalah mencapai hasil terbaik di Chamonix. “Semua usaha telah kami lakukan untuk memastikan tim siap menghadapi tantangan,” kata manajer yang sering dikenal dengan panggilan Pristiawan tersebut.

Komentar Tentang Kesiapan dan Persaingan Global

Dalam wawancara ANTARA, Pristiawan juga mengapresiasi peningkatan kualitas pemain disiplin speed Indonesia. “Atlet kita kini lebih matang dalam teknik dan mental,” katanya. Ia menyebut bahwa persaingan di World Climbing Series Chamonix cukup ketat, dengan tim dari berbagai negara yang memiliki konsistensi tinggi. “Kami siap memberikan yang terbaik, termasuk menunjukkan identitas Indonesia dalam olahraga ini,” pungkas Pristiawan.

Program Recovery dan Pemantauan Kesehatan

Program recovery dirancang dengan menggabungkan istirahat dan latihan ringan. Fitriyani menjelaskan bahwa para atlet menerima pemantauan kesehatan intensif dari tim medis guna memastikan tidak ada masalah fisik yang mengganggu. “Dukungan kesehatan menjadi bagian penting dalam persiapan kami,” katanya. Selain itu, jadwal pemulihan juga disesuaikan dengan ritme latihan sebelumnya agar tidak terjadi overtraining.

Persiapan untuk Cabang Lead

Sementara itu, para atlet lead yang turut dibawa ke Prancis tetap fokus pada persiapan teknis. Mereka menjalani latihan spesifik untuk menghadapi tantangan di lingkungan persaingan yang berbeda. “Lead membutuhkan adaptasi