Main Agenda: Menpar nilai Indonesia dan India punya kedekatan peradaban yang kuat

Main Agenda: Menpar Ungkap Kedekatan Peradaban Indonesia dan India Melalui Prambanan

Warisan Budaya yang Menghubungkan Dua Bangsa

Main Agenda – Jakarta – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyoroti hubungan historis yang mendalam antara Indonesia dan India dalam konteks pariwisata budaya. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Kamis, ia menguraikan bagaimana Candi Prambanan berperan sebagai simbol penting dalam memperkuat ikatan spiritual dan budaya kedua negara. Bersama dengan pulau Bali, kompleks candi Hindu ini telah lama menjadi destinasi favorit bagi wisatawan India yang mencari pengalaman spiritual yang autentik.

Kunjungan resmi yang dilakukan untuk mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Candi Prambanan, Yogyakarta, pada Rabu (8/7), memberikan kesempatan bagi Menpar untuk menjelaskan berbagai dimensi hubungan kedua bangsa. Menurut Widiyanti, jejak peradaban India dapat ditemukan dalam seni pertunjukan, sastra klasik, arsitektur tradisional, serta berbagai ritual spiritual yang masih dilestarikan di Indonesia. Kisah epik Ramayana dan Mahabharata menjadi contoh nyata bagaimana warisan sastra India telah berakar kuat dalam budaya Nusantara.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan Prambanan sebagai salah satu jembatan strategis dalam memperkuat hubungan pariwisata budaya dan spiritual antara Indonesia dan India. Kedekatan emosional dan spiritual yang dimiliki Prambanan bersama Bali menjadi aset berharga untuk menarik lebih banyak wisatawan India,” jelas Widiyanti dengan penuh optimisme.

Prambanan: Monumen Peradaban yang Menginspirasi

Candi Prambanan bukan sekadar situs warisan dunia yang megah, melainkan representasi nyata dari pertukaran budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kompleks candi ini menampilkan keindahan arsitektur Hindu yang unik, mencerminkan bagaimana nilai-nilai spiritual India diadaptasi dan dikembangkan menjadi bentuk ekspresi kebudayaan yang khas Indonesia. Keagungan candi-candi yang tersusun rapi ini menjadi bukti sejarah tentang kedekatan peradaban yang tidak terpisahkan.

Widiyanti juga menyoroti kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia, khususnya agenda kunjungan ke Candi Prambanan di Yogyakarta, sebagai momen bersejarah dalam diplomasi budaya. Ia menilai bahwa kunjungan ini membuka peluang baru untuk memperdalam hubungan antarmasyarakat atau people-to-people contact antara kedua negara. Hubungan Indonesia dan India tidak hanya bersifat diplomatik formal, tetapi juga mencakup dimensi budaya dan peradaban yang telah terbangun sejak zaman kuno.

“Kunjungan Perdana Menteri Modi ke Prambanan merupakan momentum yang sangat signifikan untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat antara Indonesia dan India. Ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan, tetapi juga perayaan atas kedekatan peradaban yang telah ada sejak lama,” tegas Widiyanti.

Prospek Pariwisata Indonesia-India yang Cerah

Statistik terbaru menunjukkan tren positif yang konsisten dalam kunjungan wisatawan mancanegara asal India. Periode Januari hingga Mei 2026 mencatat jumlah kunjungan mencapai 298.450 orang, mengalami peningkatan sebesar 0,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selama kurun waktu 2023 hingga 2025, kunjungan wisatawan India menunjukkan pertumbuhan yang stabil, meningkat dari 606.439 di tahun 2023 menjadi 734.490 di tahun 2025.

Pengembangan hubungan pariwisata kedua negara tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada kualitas pengalaman wisata yang ditawarkan. Widiyanti menekankan pentingnya penguatan kedekatan budaya serta interaksi antarmasyarakat yang semakin erat sebagai fondasi utama dalam pengembangan hubungan ini. Ia berharap kunjungan Perdana Menteri Modi dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan eksposur pariwisata Indonesia, khususnya Candi Prambanan sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia yang mampu menarik perhatian global.

Ke depan, Indonesia dan India diproyeksikan akan terus memperkuat kerja sama dalam berbagai bidang, termasuk pariwisata, pendidikan, dan pertukaran budaya. Dengan memanfaatkan potensi wisata spiritual dan budaya yang dimiliki, kedua negara diharapkan dapat menciptakan sinergi yang berkelanjutan untuk kepentingan bersama. Main Agenda ini menjadi langkah awal yang penting dalam mewujudkan visi pariwisata yang lebih inklusif dan terhubung secara global.