New Policy: Warga binaan Lapas Ciangir dilatih keterampilan yang kompetitif

Program Kemandirian Warga Binaan Lapas Ciangir Menuju Masyarakat Mandiri

New Policy – Kabupaten Tangerang, Banten kini memiliki model pemasyarakatan yang inovatif melalui Lapas Terbuka Kelas IIB Ciangir. Fasilitas ini memberikan pelatihan keterampilan kompetitif kepada para narapidana di sektor pertanian dan peternakan. Tujuan utamanya adalah menciptakan daya saing agar warga binaan mampu bersaing dengan petani dan peternak di masyarakat luar. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten, Lili, menyampaikan hal ini saat mengunjungi fasilitas tersebut pada hari Kamis.

Saat ini, jumlah narapidana yang menempati Lapas Ciangir mencapai 50 orang. Dalam rencana pengembangan, akan ada penambahan sebanyak 20 orang lagi sehingga total penghuni mencapai 70 orang. Aktivitas sehari-hari warga binaan tidak terbatas pada makan, minum, dan tidur saja. Mereka juga diberdayakan untuk melaksanakan program akselerasi yang digagas oleh Menteri Imigrasi Dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Program ini berfokus pada ketahanan pangan sebagai bagian dari dukungan terhadap Astacita Presiden Prabowo Subianto. Melalui pendekatan ini, warga binaan diharapkan memiliki keterampilan yang lebih unggul dibandingkan dengan masyarakat umum. Lili menjelaskan bahwa tujuan akhir adalah menciptakan individu yang siap menjadi “petarung” di masyarakat setelah masa tahanan berakhir.

“Jadi, skill yang dimiliki warga binaan Lapas Ciangir bukan sama dengan yang di luar. Skill-nya ini lebih dari yang di luar biar dia ‘petarung’ di luar, bagaimana sudah dilatih di sini bisa bekerja di luar sehingga bisa bermanfaat untuk dirinya dan tidak melakukan kesalahan lagi.”

Perbandingan dengan Lapas Nusakambangan

Lili membandingkan Lapas Ciangir dengan Lapas Nusakambangan yang juga memiliki program ketahanan pangan komprehensif. Keduanya memiliki lahan pertanian, perikanan, dan peternakan yang luas. Di Lapas Ciangir, warga binaan tidak hanya bekerja di bidang peternakan dan pertanian, tetapi juga menerima premi berupa pembagian hasil usaha.

Setelah bebas, mereka diharapkan memiliki keterampilan yang membanggakan keluarga dan mampu mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, risiko untuk melakukan kesalahan kembali menjadi lebih kecil. Fasilitas ini memiliki luas total 23 hektare dengan alokasi 4 hektare untuk bangunan dan hunian warga binaan. Sisa lahan digunakan untuk berbagai aktivitas produktif.

Di sektor peternakan, terdapat ayam petelur, ayam kampung, domba, dan sapi. Selain itu, lahan juga dimanfaatkan untuk pertanian, persawahan, dan perkebunan sayur. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman nyata kepada narapidana dalam mengelola usaha ternak dan tanaman.

Inovasi dalam Peternakan Domba

Soeistanto Poedji Djatmiko, atau yang dikenal dengan nama Tanto sebagai Kepala Lapas Ciangir, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya mencakup perawatan dan pemberian makan domba. Warga binaan juga diajarkan teknik perkembangbiakan yang efektif. Jumlah awal domba yang dikembangbiakkan sebanyak 20 ekor berhasil bertambah menjadi 85 ekor dalam waktu 1,5 tahun.

Dalam momen Idul Adha 2026, sebanyak 25 ekor domba berhasil dijual. Tantangan selanjutnya adalah inovasi penyapihan yang diterapkan secara sistematis. Domba betina yang telah melahirkan dipisahkan dari anaknya, kemudian anak-anak tersebut disapih oleh warga binaan dengan pemberian susu. Sementara itu, induknya dalam beberapa bulan sudah siap untuk dikembangbiakkan kembali.

Produksi Telur dan Ayam Kampung

Peternakan ayam petelur yang baru berjalan selama 3 bulan menunjukkan perkembangan positif. Warga binaan tidak hanya bertugas memberi makan dan memanen telur, tetapi juga dilatih merawat ayam dengan pemberian pakan yang cukup serta suplemen. Tujuannya adalah menjaga kesehatan ayam agar tetap fit dan menghasilkan telur dalam jumlah besar.

Lapas Ciangir mempekerjakan seorang mentor dan dokter hewan khusus untuk melatih para warga binaan dalam beternak ayam petelur. Saat ini, terdapat 35 ribu ekor ayam petelur yang dibudidayakan dengan produksi harian mencapai 860 kilogram atau setara dengan 12 ribu butir telur. Target jangka panjang adalah mencapai 60 ribu ekor ayam petelur.

Selain ayam petelur, Lapas Ciangir juga membudidayakan ayam kampung. Ayam ini tidak hanya menghasilkan daging, tetapi telurnya juga ditetaskan untuk menambah jumlah populasi. Saat ini terdapat 60 ekor ayam kampung yang dirawat. Fasilitas dilengkapi dengan mesin penetas telur otomatis dan mesin inkubator untuk mengerami embrio selama 18 hari pertama.

“Mesin ini memiliki nampan putar otomatis untuk membolak-balikkan telur, serta suhu dan kelembapan yang lebih tinggi,” kata Tanto.

Dampak Positif bagi Warga Binaan

Yusuf, seorang warga binaan berusia 27 tahun, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan mengikuti pelatihan kemandirian. Selain mendapatkan ilmu beternak ayam, ia menerima premi bulanan sebesar Rp500 ribu. Kehidupan di dalam sel yang sebelumnya membosankan kini berubah menjadi aktivitas produktif di luar ruangan.

Pria asal Jawa Barat ini mengakui bahwa sebelum dipidana, ia belum memiliki keahlian di bidang peternakan. Setelah mendapatkan pelatihan di Lapas Ciangir, ia kini memiliki bekal untuk bekerja di peternakan ayam di kampung halamannya. Yusuf berencana untuk bekerja di peternakan ayam setelah masa tahanan berakhir.

Program ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun mentalitas dan kemandirian. Dengan adanya sistem premi dan pembagian hasil, warga binaan termotivasi untuk bekerja lebih giat. Mereka merasakan manfaat langsung dari usaha yang dilakukan setiap hari.

Kesuksesan Lapas Ciangir dalam mengembangkan program ketahanan pangan menjadi contoh bagi fasilitas pemasyarakatan lainnya. Integrasi antara pendidikan keterampilan dan praktik lapangan terbukti efektif dalam mempersiapkan narapidana untuk kehidupan pasca-penjara. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada pengurangan tingkat residivisme di Indonesia.