Pejabat kesehatan: Sistem kesehatan Gaza hadapi krisis parah akibat menipisnya obat-obatan dan layanan ambulans

Pejabat Kesehatan: Gaza Hadapi Krisis Obat dan Ambulans

Sistem Kesehatan Terancam Kelangkaan Pasokan

Pejabat kesehatan di Jalur Gaza menyampaikan peringatan mendesak terkait kondisi darurat yang melanda layanan kesehatan di wilayah tersebut. Pada hari Sabtu, 11 Juli, mereka menyoroti kombinasi faktor kritis yang memperburuk situasi, termasuk menipisnya stok obat-obatan, kerusakan fasilitas medis, serta menurunnya kapasitas layanan ambulans. Ribuan nyawa pasien kini terancam akibat keterbatasan akses terhadap perawatan medis yang layak dan tepat waktu.

Mohammed Abu Afash, direktur Organisasi Bantuan Medis di Gaza, mengungkapkan bahwa sistem kesehatan lokal masih menunggu kedatangan konvoi bantuan medis yang telah dijanjikan sejak pemberlakuan gencatan senjata. Penundaan ini telah menciptakan kekosongan pasokan yang signifikan, terutama untuk obat-obatan esensial dan peralatan medis yang dibutuhkan sehari-hari. Menurut data yang dikumpulkan, defisit pasokan alat uji medis saat ini telah melampaui angka 87 persen, sebuah tingkat kelangkaan yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan diagnosis dan pengobatan pasien.

Pasien Kronis dan Hipertensi Terdampak Parah

Krisis pasokan ini berdampak langsung pada jutaan warga Gaza yang bergantung pada perawatan medis rutin. Abu Afash menjelaskan bahwa lebih dari 24.000 pasien dengan kondisi kronis kini tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Banyak dari mereka harus menghadapi risiko kesehatan yang meningkat karena keterlambatan pengobatan atau ketidakmampuan mengakses obat-obatan yang diperlukan.

Situasi ini semakin diperparah oleh fakta bahwa lebih dari 300.000 pasien hipertensi telah mengalami komplikasi serius. Putusnya akses terhadap obat penurun tekanan darah telah menyebabkan banyak kasus yang sebelumnya terkendali menjadi kritis. Tanpa intervensi segera, angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular diproyeksikan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan suhu musim panas yang terus meningkat di wilayah Gaza, para ahli kesehatan juga memperingatkan potensi penyebaran penyakit menular yang cepat. Kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk menjadi lokasi ideal bagi transmisi penyakit, terutama ketika fasilitas sanitasi dan layanan kesehatan tidak berfungsi optimal. Kombinasi antara cuaca panas, kepadatan penduduk, dan keterbatasan medis menciptakan kondisi yang rentan terhadap wabah penyakit.

Armada Ambulans Menghadapi Tantangan Besar

Selain kelangkaan obat-obatan, sektor transportasi medis juga menghadapi tantangan besar. Otoritas kesehatan Gaza dalam sebuah pernyataan resmi menyatakan bahwa 70 persen armada ambulans tidak dapat beroperasi dengan baik. Penyebab utamanya meliputi serangan tertarget terhadap kendaraan medis, kerusakan mesin akibat penggunaan intensif, serta kelangkaan suku cadang yang parah.

Lebih dari itu, larangan yang terus berlanjut terhadap masuknya ban dan suku cadang ke Gaza berpotensi melumpuhkan sistem transportasi sepenuhnya. Tanpa ketersediaan komponen pengganti yang memadai, ambulans-ambulans yang masih berfungsi pun berisiko mengalami kerusakan total dalam waktu dekat. Hal ini berarti pasien yang membutuhkan evakuasi darurat akan menghadapi kesulitan besar dalam mengakses rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Konteks Politik dan Gencatan Senjata

Situasi yang kian memburuk ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk pejabat Fatah, Munther al-Hayek. Dalam sebuah wawancara radio, ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai “perang skala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat melalui Israel.” Pernyataan ini menyoroti dimensi politik dari krisis kesehatan yang sedang berlangsung, di mana kebijakan internasional dianggap memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan warga Gaza.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, namun implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan. Meskipun konflik bersenjata telah mereda, dampak jangka panjang terhadap infrastruktur kesehatan dan akses bantuan kemanusiaan tetap menjadi tantangan utama. Tanpa peningkatan signifikan dalam pengiriman bantuan medis dan penghapusan hambatan logistik, sistem kesehatan Gaza diperkirakan akan terus mengalami tekanan berat dalam menghadapi kebutuhan populasi yang semakin mendesak.

“Perang skala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat melalui Israel,” demikian Munther al-Hayek menggambarkan situasi krisis kesehatan di Gaza.