Topics Covered: Wakil Ketua MPR dorong kesiapsiagaan masyarakat hadapi bencana

Kesiapsiagaan Bencana: Lestari Moerdijat Dorong Masyarakat Siaga

Topics Covered – Jakarta — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Lestari Moerdijat, secara tegas mendorong pembangunan kesiapsiagaan masyarakat yang komprehensif terhadap ancaman bencana alam. Dalam kerangka meningkatkan ketahanan nasional, pendekatan holistik dan terpadu menjadi kunci utama. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Lestari pada diskusi daring bertajuk “Peningkatan Aktivitas Seismik di Pasifik: Implikasi dan Langkah Antisipatif Bagi Indonesia” yang berlangsung pada hari Rabu pekan lalu. Topics Covered menyoroti pentingnya langkah antisipatif yang tidak hanya bersifat parsial, melainkan mencakup berbagai aspek secara bersamaan.

Menurut Lestari, langkah-langkah antisipatif terhadap ancaman bencana di tanah air harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, hingga kesiapsiagaan masyarakat. Ia menekankan bahwa edukasi mitigasi bencana yang menyeluruh dan terintegrasi menjadi fondasi penting. “Langkah antisipatif terhadap ancaman bencana di tanah air harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, hingga kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Lestari dalam sambutannya. Pernyataan ini sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Dinamika Aktivitas Kegempaan di Cincin Api Pasifik

Lestari Moerdijat menjelaskan bahwa memasuki pertengahan tahun 2026, aktivitas kegempaan di sepanjang Cincin Api Pasifik menunjukkan peningkatan dinamika yang signifikan. Hal ini ditandai dengan serangkaian gempa bumi bermagnitudo besar yang melanda berbagai wilayah di Indonesia. Gempa-gempa tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat di banyak daerah. Topics Covered mencatat bahwa masyarakat perlu lebih siap menghadapi potensi bencana yang datang secara tiba-tiba.

Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif yang konkret. Langkah tersebut meliputi persiapan infrastruktur yang lebih tangguh dan peningkatan pemahaman masyarakat terkait upaya menghadapi dampak bencana. Melalui berbagai upaya edukasi dan sosialisasi, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi bencana yang datang secara tiba-tiba. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi prioritas utama dalam strategi nasional penanggulangan bencana.

Di sisi lain, Lestari juga mendorong agar kolaborasi lintas sektor diperkuat untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat yang lebih baik. Aktivitas seismik yang terus terjadi, ucapnya, perlu diantisipasi dengan mekanisme ketahanan adaptif masyarakat. Mekanisme ini memungkinkan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan dan bencana yang terjadi secara berkala. Topics Covered menyoroti bahwa mekanisme adaptif ini menjadi kunci ketahanan jangka panjang.

Narasumber Ahli Menguraikan Sumber dan Dampak Bencana

Diskusi daring tersebut menghadirkan beberapa narasumber ahli yang memberikan perspektif mendalam mengenai fenomena seismik di Indonesia. Hadir sebagai pembicara adalah Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto. Selain itu, Peneliti Senior Bidang Tsunami dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, serta analis kebencanaan ahli madya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Maryanto, juga berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Topics Covered mencatat kehadiran para ahli ini sebagai bentuk kolaborasi multidisiplin.

Wijayanto menjelaskan bahwa sumber gempa di Indonesia bersumber pada dua peristiwa utama, yaitu subduksi lempeng atau megatrust dan sesar atau patahan lempeng aktif. Ia menekankan bahwa gempa tidak dapat diprediksi secara akurat sehingga diperlukan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggi. Ia menyebut langkah antisipasi harus konsisten dilakukan dengan memanfaatkan peta rawan bencana, memperkuat sistem informasi bencana, dan membangun mitigasi bencana yang mudah dipahami masyarakat.

Sementara itu, Widjo Kongko memberikan data penting mengenai penyebab tsunami di Indonesia. Ia mengatakan bahwa 60 persen tsunami terjadi karena dipicu gempa tektonik dan 22 persen disebabkan gempa vulkanik. Menurut dia, tantangan yang dihadapi Indonesia ialah 60 persen kota di Indonesia berada di pesisir pantai yang rawan tsunami. Selain itu, wilayah penting seperti kawasan industri dan pariwisata juga berada di pesisir. Maka dari itu, ia menyebut pemahaman masyarakat akan bahaya dan risiko serta sistem peringatan dini yang tangguh harus menjadi perhatian serius semua pihak sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

Adapun Maryanto menjelaskan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2026 didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Meskipun demikian, bencana geologis seperti gempa berdampak lebih besar secara signifikan. Menurut dia, logistik merupakan elemen penting dalam upaya penanggulangan bencana, terlebih dampak gempa sering kali merusak infrastruktur. Karenanya, koordinasi yang baik di lapangan penting dalam penanganan dampak bencana. Topics Covered mencatat bahwa koordinasi ini menjadi fondasi efektivitas respons bencana nasional.

“Langkah antisipatif terhadap ancaman bencana di tanah air harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, hingga kesiapsiagaan masyarakat,” ucap Lestari Moerdijat.