Key Discussion: Ferry Irwandi ajak mahasiswa kuasai seni bercerita di era digital
Key Discussion: Ferry Irwandi Dorong Mahasiswa Bercerita di Era Digital
Key Discussion – Semarang menjadi saksi kehadiran Ferry Irwandi, seorang konten kreator dan aktivis yang memiliki visi kuat bagi generasi muda. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan ajakan penting agar para mahasiswa mampu menguasai seni bercerita atau yang dikenal dengan istilah storytelling. Kemampuan ini diyakini menjadi bekal krusial bagi anak muda yang harus menghadapi gelombang informasi digital yang begitu deras saat ini. Key Discussion ini menjadi momen berharga bagi para peserta untuk belajar langsung dari praktisi yang telah berpengalaman di bidangnya.
Pesan Penting dari Pembicara di Dies Natalis UPGRIS
Acara yang diselenggarakan sebagai bagian dari Dies Natalis ke-45 Universitas PGRI Semarang ini dihadiri oleh ratusan peserta. Kehadiran mereka tidak hanya terbatas pada mahasiswa, tetapi juga mencakup para dosen serta pelajar dari sekolah menengah kejuruan di wilayah Kota Semarang. Ferry Irwandi hadir sebagai pembicara utama dan menyampaikan pesan yang menggugah. Key Discussion ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan wawasan baru bagi para peserta tentang pentingnya kemampuan komunikasi di era modern.
Menurutnya, banyak orang yang sering merasa kurang percaya diri dengan kemampuan bercerita mereka. Ia menekankan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang permanen. Kemampuan berbicara dan bercerita bukanlah bakat bawaan yang harus dimiliki sejak lahir, melainkan keterampilan yang dapat dikembangkan melalui latihan rutin dan konsisten. Dengan demikian, setiap individu memiliki potensi untuk menjadi storyteller yang handal jika mau berlatih dengan sungguh-sungguh.
“Jangan pernah merasa, gua enggak ada bakat ‘storytelling’ nih atau gua enggak ada bakat ‘speaking’ nih. Itu semua bisa dilatih,” ujarnya saat berbicara di Semarang pada hari Rabu.
Storytelling sebagai Kekuatan yang Tak Tergantikan Teknologi
Ferry Irwandi menjelaskan bahwa informasi yang disampaikan melalui bentuk cerita memiliki daya tarik tersendiri. Cerita mampu membuat audiens lebih mudah memahami pesan yang disampaikan, sekaligus mampu membangkitkan emosi mereka. Dalam konteks ini, storytelling menjadi kekuatan yang belum bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau AI. Key Discussion ini juga menyoroti bagaimana manusia memiliki keunikan dalam menyampaikan cerita dibandingkan mesin.
Sebagai contoh, ia mengutip peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di beberapa wilayah pada November 2025. Bencana tersebut melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Saat kejadian berlangsung, perhatian publik tertuju pada para konten kreator yang melaporkan peristiwa tersebut. Masyarakat merasa bahwa penanganan pemerintah belum maksimal, terlihat dari prioritas perbaikan yang tidak menyentuh rumah warga maupun layanan pendidikan. Kejadian ini menunjukkan bagaimana storytelling dapat menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan informasi penting kepada masyarakat luas.
“Itulah kenapa ‘storytelling’ jadi penting sekali, karena ada rasa di situ, ada nuansa di situ. Ada makna di situ yang membuat informasi itu didapat dengan lebih baik,” jelasnya.
Perbedaan Manusia dan AI dalam Bercerita
Dalam paparannya, Ferry Irwandi juga mengakui bahwa AI memiliki kemampuan untuk menyusun cerita. Namun, pola yang dihasilkan oleh AI cenderung seragam dan kurang memiliki variasi. Di sisi lain, manusia memiliki pengalaman hidup, sudut pandang unik, serta emosi yang membuat setiap cerita menjadi lebih hidup dan bermakna. Key Discussion ini menjadi pengingat bahwa teknologi harus melengkapi, bukan menggantikan, kemampuan manusia dalam berkomunikasi.
Ia menambahkan bahwa kemampuan bercerita harus diimbangi dengan kualitas isi pesan. Penyampaian yang menarik saja tidak cukup jika substansi yang dibawa lemah. Selain itu, ia mengajak para peserta untuk memahami karakter audiens sebelum berbicara atau membuat konten. Pilihan bahasa, sudut pandang, hingga cara penyampaian harus disesuaikan dengan siapa pesan itu ditujukan. Hal ini penting agar cerita yang disampaikan dapat resonan dengan target audiens.
“Kita harus memahami dulu. Kita harus ‘mapping’ dulu target audiens kita siapa. Karena itu sangat penting banget,” tegasnya.
Visi UPGRIS Membekali Generasi Muda
Sementara itu, Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, menjelaskan bahwa seminar dan talk show merupakan agenda rutin yang selalu diadakan setiap peringatan dies natalis. Pada dies natalis kali ini, fokus utama adalah membekali generasi muda agar mampu menyampaikan gagasan secara efektif. Mereka juga diharapkan mampu membangun narasi yang membawa perubahan positif di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat. Key Discussion ini menjadi salah satu wujud komitmen universitas dalam mengembangkan kemampuan mahasiswa.
Tema Dies Natalis UPGRIS tahun ini adalah “Memberi Makna”. Tema ini menjadi pijakan dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, bahkan catur darma melalui keteladanan. Dr. Sapto Budoyo menegaskan bahwa tujuan utama dari agenda ini adalah memberikan bekal kepada generasi muda. Melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan, universitas berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik.
“Tujuannya memberikan bekal kepada generasi muda agar mampu mengomunikasikan gagasan, membangun narasi, memengaruhi perubahan, dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat di era digital,” pungkasnya.
