FKUI: Dampak dengue tak hanya kesehatan, juga produktivitas keluarga

Dengue Mengganggu Produktivitas Keluarga, Bukan Sekadar Masalah Kesehatan

FKUI – Infeksi virus dengue membawa konsekuensi yang jauh melampaui gangguan kesehatan fisik semata. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sri Rezeki Hadinegoro, penyakit ini juga secara signifikan menurunkan produktivitas rumah tangga. Hal ini terjadi karena keluarga harus mengalokasikan lebih banyak waktu untuk perawatan dan menghadapi peningkatan beban ekonomi selama periode pemulihan berlangsung.

Sri menjelaskan bahwa ketika seorang anak terinfeksi dan memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, orang tua biasanya harus mendampingi. Kondisi ini otomatis mengurangi jam kerja dan menurunkan output produktivitas mereka. Situasi serupa juga terjadi ketika orang tua yang menjadi tulang punggung keluarga jatuh sakit. Keluarga lain harus bergantian merawat, yang dapat mengganggu dinamika rumah tangga sekaligus menekan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

“Pada saat salah satu anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orang tua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas. Demikian pula jika orang tua yang sakit, keluarga harus merawat dan dapat mengganggu suasana dan ekonomi keluarga,” kata Sri dalam siaran pers pada Jumat.

Beban Ekonomi yang Lebih Luas

Dampak finansial dari penyakit dengue tidak hanya terbatas pada pengeluaran untuk pengobatan medis. Sri menekankan bahwa hilangnya produktivitas selama pasien menjalani perawatan dan masa pemulihan yang bisa memakan waktu satu hingga dua pekan juga merupakan komponen penting. Ia menilai bahwa dengue seharusnya dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat yang memiliki dampak multidimensi terhadap kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan yang lebih komprehensif dan terintegrasi.

Temuan ini sejalan dengan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Studi tersebut memperkirakan total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada tahun 2024 akan menyentuh angka sekitar 550,9 juta dolar AS. Jika dikonversikan, nilai tersebut setara dengan hampir Rp9 triliun. Angka ini dihitung berdasarkan lebih dari dua juta kasus yang memerlukan rawat inap.

Diah Ayu Puspandari, peneliti dari FK-KMK UGM, menyoroti bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya meringankan beban finansial pasien. Meskipun memiliki asuransi, pasien tetap harus mengeluarkan biaya mandiri yang rata-rata berkisar antara Rp1,1 hingga Rp1,3 juta untuk satu periode sakit. Biaya tambahan ini mencakup kebutuhan non-medis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, belum lagi kerugian akibat hilangnya produktivitas. Sebaliknya, bagi pasien tanpa asuransi, total biaya bisa melonjak drastis hingga mencapai Rp4,3 hingga Rp5,6 juta karena seluruh tagihan perawatan medis harus ditanggung sepenuhnya oleh keluarga.

“Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp1,1-1,3 juta saat menghadapi satu periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan non-medis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas. Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak hingga Rp4,3-5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri,” ujar Diah.

Manfaat Jangka Panjang Vaksinasi

Menurut data studi tersebut, kerugian ekonomi akibat hilangnya produktivitas pada kelompok peserta JKN diperkirakan mencapai sekitar Rp1,81 triliun sepanjang tahun 2024. Sementara itu, kelompok non-JKN mengalami kerugian produktivitas sebesar sekitar Rp755,2 miliar. Angka-angka ini menunjukkan betapa besar dampak tidak langsung penyakit terhadap perekonomian nasional.

Di sisi lain, Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Jarir At Thobari, menyampaikan bahwa hasil kajian pemodelan ekonomi kesehatan menunjukkan potensi besar dari implementasi vaksinasi dengue. Selama periode 20 tahun ke depan, vaksinasi diproyeksikan dapat menurunkan jumlah kasus bergejala, rawat inap, serta tingkat kematian secara signifikan. Dari perspektif masyarakat luas, Jarir menambahkan bahwa langkah pencegahan ini juga akan menghasilkan penghematan biaya yang substansial.

“Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang,” ujar Jarir.

Secara spesifik, penghematan biaya yang diproyeksikan mencapai USD329 hingga 731 juta atau setara dengan Rp5,2 hingga 11,5 triliun selama dua dekade. Angka ini mencerminkan penurunan biaya yang ditanggung keluarga serta berkurangnya kehilangan produktivitas akibat penyakit. Rismala Dewi, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta, menambahkan bahwa pencegahan dengue yang efektif memerlukan kolaborasi lintas sektor. Upaya ini harus mencakup peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, edukasi yang lebih masif kepada orang tua, serta penguatan sistem deteksi dini. Dengan pendekatan holistik seperti ini, dampak penyakit terhadap anak dan keluarga dapat ditekan secara optimal.