AS dukung reaktivasi pipa minyak Irak-Suriah
Washington Mendukung Upaya Menghidupkan Kembali Pipa Minyak Bersejarah Irak-Suriah
AS dukung reaktivasi pipa minyak Irak – Konsorsium internasional yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat akan memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pemulihan jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas. Pipa bersejarah ini membentang di wilayah Irak dan Suriah, dan telah menjadi bagian penting dari infrastruktur energi regional sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1952. Sepanjang perjalanan panjangnya, operasional pipa tersebut mengalami berbagai penghentian, termasuk saat sabotase terjadi selama masa Krisis Suez atau Perang Arab-Israel Kedua pada tahun 1956.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus, secara resmi menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ini. Pernyataan resmi dari Deplu AS menyebutkan bahwa Washington menyambut baik niat kedua pemerintah, yaitu Pemerintah Republik Irak dan Pemerintah Republik Arab Suriah, untuk mendorong rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak mentah Irak-Suriah. Menurut keterangan resmi tersebut, komitmen kedua negara untuk bekerja sama merevitalisasi dan mengoperasikan pipa minyak ini, menciptakan kerangka hukum, serta berkolaborasi secara konstruktif dengan konsorsium tersebut akan meningkatkan keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan.
Amerika Serikat menyambut baik niat Pemerintah Republik Irak dan Pemerintah Republik Arab Suriah untuk mendorong rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak mentah Irak-Suriah.
Setelah proses restorasi selesai, jalur pipa bersejarah tersebut diperkirakan akan memiliki kapasitas distribusi awal mencapai 2 juta barel minyak mentah per hari atau 2 juta barrel per day (bpd). Departemen Luar Negeri AS juga menyambut baik keterlibatan konsorsium internasional pimpinan Amerika Serikat untuk menangani aspek teknis dan finansial proyek ini secara menyeluruh.
Perusahaan minyak milik negara asal Suriah, Syrian Petroleum Company, telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU dengan konsorsium internasional. Konsorsium ini terdiri dari dua perusahaan asal Amerika Serikat, yakni Chevron dan Capital TI, serta UCC Holding asal Qatar. Konsorsium tersebut akan bertugas menyusun studi teknis dan finansial untuk proyek restorasi jalur pipa tersebut. Kolaborasi tersebut terjalin di tengah upaya Pemerintah AS untuk melemahkan pengaruh Iran atas rantai pasok energi global di tengah konflik yang terjadi di Selat Hormuz.
Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman pada pertengahan Juni 2026 yang membahas upaya untuk mengakhiri konflik antara kedua negara. Konflik ini dimulai dengan serangan AS ke Iran pada 28 Februari lalu. Namun, sejak 8 Juli lalu, militer AS kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengklaim rangkaian serangan tersebut merupakan balasan atas intervensi Iran terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran merespons dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Sepanjang fase pertama dari konflik tersebut, harga energi global melonjak tajam akibat gangguan pelayaran yang dialami kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pipa Kirkuk-Baniyas pada akhirnya sama sekali tidak dapat beroperasi setelah hancur akibat serangan udara AS pada masa invasi ke Irak pada tahun 2003. Sebelumnya, Irak juga melakukan penutupan sepihak jalur pipa tersebut antara tahun 1982 hingga 2000 karena dukungan Suriah terhadap Iran selama perang Irak-Iran.
Komitmen kedua negara (Irak dan Suriah) untuk bekerja sama merevitalisasi dan mengoperasikan pipa minyak ini, menciptakan kerangka hukum, serta berkolaborasi secara konstruktif dengan konsorsium tersebut akan meningkatkan keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan.
Proyek reaktivasi pipa ini tidak hanya memiliki signifikansi ekonomi bagi kedua negara, tetapi juga merupakan bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Dengan kapasitas distribusi yang signifikan, pipa ini diharapkan dapat menjadi alternatif jalur ekspor minyak yang stabil bagi Irak dan Suriah. Konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan Amerika Serikat ini diharapkan dapat memastikan bahwa proyek restorasi berjalan sesuai jadwal dan anggaran yang telah ditetapkan. Kehadiran investor dari Qatar melalui UCC Holding juga menunjukkan minat regional yang kuat terhadap pengembangan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Para analis menilai bahwa keberhasilan proyek ini akan memberikan dampak positif bagi stabilitas kawasan. Selain itu, reaktivasi pipa ini juga dapat mengurangi ketergantungan kedua negara terhadap jalur transportasi laut yang rentan terhadap gangguan, terutama di tengah ketegangan di Selat Hormuz. Dengan kapasitas 2 juta barel per hari, pipa ini akan menjadi salah satu jalur ekspor minyak terbesar di kawasan tersebut.
