Dokter: Mitos mengira kanker serviks hanya mengincar perempuan menikah
Mitos Kanker Serviks: Bukan Hanya Mengancam Perempuan yang Sudah Menikah
Indocrowdfunding.com – Dokter – Sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa kanker serviks merupakan penyakit yang hanya menyerang perempuan yang telah menikah. Namun, menurut dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K), seorang dokter subspesialis Bedah Onkologi, anggapan tersebut sebenarnya keliru. Risiko terkena kanker serviks tidak terbatas pada perempuan yang sudah menikah saja, melainkan juga mencakup mereka yang belum menikah maupun yang belum pernah aktif secara seksual.
Siapa Saja Berisiko Terkena Kanker Serviks?
Dokter yang ditemui di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang pada hari Kamis tersebut menjelaskan bahwa perempuan yang belum menikah pun tetap memiliki kemungkinan untuk menderita kanker serviks. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini menjadi sangat penting. Ia menegaskan bahwa usia dan status pernikahan bukanlah faktor penentu tunggal dalam risiko penyakit ini.
“Yang belum menikah juga masih punya risiko untuk terkena (kanker serviks), tetap kena. Walaupun dia di bawah 17 tahun dan belum pernah seksual aktif,” ujar dr. I Gusti Ayu.
Kanker serviks adalah jenis kanker yang berkembang di bagian bawah rahim atau serviks, yang terhubung langsung dengan vagina. Penyebab utamanya adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), sebuah virus yang sangat umum dan mudah menular melalui kontak seksual. Meskipun demikian, semua perempuan dapat terinfeksi, terutama mereka yang pernah aktif secara seksual, tanpa memandang usia mereka.
Vaksinasi HPV dan Pemeriksaan Lanjutan
Salah satu langkah pencegahan yang paling efektif adalah melalui vaksinasi HPV. Namun, dr. Gusti juga mengklarifikasi mitos lain yang beredar di masyarakat, yaitu anggapan bahwa perempuan yang sudah divaksinasi HPV tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan lanjutan. Padahal, vaksinasi hanya memberikan perlindungan, bukan jaminan kekebalan total.
“Jadi walaupun sudah pernah mendapatkan vaksin HPV, tetap harus melakukan pap smear apabila sudah menikah,” tutur dokter lulusan Universitas Airlangga tersebut.
Vaksin HPV memberikan perlindungan yang sangat baik, terutama jika diberikan pada anak di bawah usia 17 tahun dengan efektivitas mencapai sekitar 95 persen. Sementara itu, bagi perempuan yang sudah menikah, vaksin ini tetap memberikan manfaat meskipun tingkat perlindungannya sedikit menurun dibandingkan dengan pemberian pada anak-anak.
Program Pemerintah dan Target Nasional
Pemberian vaksin HPV pada anak-anak bertujuan agar mereka memperoleh perlindungan yang lebih optimal terhadap risiko kanker serviks di masa depan. Dr. Gusti menjelaskan bahwa saat ini program tersebut sudah masuk dalam agenda pemerintah, sehingga anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sudah mendapatkan vaksin HPV sebagai upaya proteksi maksimal.
“Sekarang kan sudah masuk program pemerintah ya, jadi untuk anak-anak usia SD sudah mendapatkan vaksin HPV, itu gunanya untuk mendapatkan proteksi yang lebih maksimal di kemudian hari,” kata dokter yang berpraktik di RSUD Pasar Minggu tersebut.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyediakan vaksin HPV secara gratis bagi anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Vaksin ini merupakan bagian dari program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan Agustus dan November. Program nasional ini menyasar anak usia 11 dan 12 tahun, dengan pemberian sebanyak dua dosis untuk memastikan efektivitas optimal.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan target cakupan vaksinasi HPV baik pada anak perempuan maupun laki-laki mencapai 90 persen pada tahun 2030. Pemberian vaksin HPV dinilai sangat penting dan efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker leher rahim. Penyakit ini merupakan salah satu kondisi yang memiliki beban kesehatan yang berat bagi Indonesia, dengan sekitar 36 ribu kasus baru setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, hampir 60 persen berakhir dengan kematian, atau setara dengan sekitar 56 orang setiap harinya.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai risiko dan pencegahan kanker serviks, diharapkan masyarakat dapat lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan dan vaksinasi. Pencegahan dini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan investasi kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dokter?
Dokter is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dokter matter?
Dokter matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
