Minuman Surga Disebut dalam Al Quran, Ternyata Ada di Indonesia
Menurut Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 5-6, minuman yang dijelaskan sebagai pilihan bagi penghuni surga ternyata memiliki sumber dari wilayah Indonesia. Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat baik akan meminum air kafur, yang merupakan bahan utama minuman itu. Air kafur, atau yang sering disebut sebagai camphor, ternyata diproduksi secara alami di beberapa daerah di Indonesia.
Pohon Kamper dan Sejarahnya dalam Al Quran
Kamper, bahan dasar air kafur, tidak bisa tumbuh di kawasan Timur Tengah. Hal ini membuat penduduk lokal harus mengimpor bahan tersebut dari tempat lain. Namun, sejarah mencatat bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam produksi kamper, terutama daerah yang dikenal sebagai Barus. Sebelum abad ke-10 Masehi, kamper sudah menjadi komoditas dagang utama yang dikirim ke berbagai belahan dunia.
“Kami dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar atau seluruh kamper yang diperdagangkan sebelum kira-kira abad ke-10 Masehi dan penemuan kamper di Borneo berasal dari utara Sumatra, yakni Barus,” tulis Claude Guillot dalam karya “Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008).
Berdasarkan catatan dari ahli geografi Arab Ibn Sa’id al Magribi, yang meninggal pada akhir abad ke-13, wilayah Fansur dipercaya sebagai tempat utama penghasil kamper. Menurut penelitian Nouha Stephan dalam buku “Kamper dalam Sumber Arab dan Persia: Produksi & Penggunaannya,” Fansur justru dianggap sebagai pusat pengumpulan bahan tersebut.
Kawasan Produksi Kamper di Indonesia
Berbagai sumber menunjukkan bahwa tiga kawasan utama di Indonesia, yakni Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan, adalah tempat alami tumbuhnya pohon kamper. Namun, peneliti seperti Guillot lebih spesifik menyebutkan bahwa Barus di Sumatra menjadi daerah utama penghasil yang paling relevan. Lokasi ini juga didukung oleh catatan riwayat Nabi Muhammad yang menghubungkan kamper dengan Indonesia.
Kamper bukan hanya produk dagang, tetapi juga turut berperan dalam proses Islamisasi di Nusantara. Sejak abad ke-7 Masehi, peran kamper dalam aktivitas perdagangan menjadikannya sebagai bahan pengawetan mumi di Mesir dan menjadi bagian dari tradisi religi Muslim. Bahkan, nama Barus sudah dikenal sebagai pelabuhan kuno sejak abad ke-1 Masehi berdasarkan catatan ahli Romawi, Ptolemy.
Denys Lombard dalam karya “Nusa Jawa Silang Budaya (1996)” menekankan bahwa kamper menjadi komoditas yang diminati secara global. Banyak pedagang Arab menggunakan kapal besar untuk mengangkut bahan tersebut dari Barus ke pasar internasional. Rute perdagangan mencakup perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon, hingga mencapai Pantai Barat Sumatra.
Sampai hari ini, Barus tetap menjadi sentra produksi dan perdagangan kamper yang dikenal di luar negeri. Tidak hanya menjadi bahan ekonomi, kamper juga memperkuat hubungan budaya dan agama antara Indonesia dengan dunia Islam. (hsy/hsy)
