Rute “Sawah” ke GT Purwomartani Dihapus dari Google Maps, Pemudik Diarahkan ke Jalur Utama
YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Gerbang Tol Purwomartani di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman kini tidak lagi dilayani oleh rute alternatif melalui jalur perkampungan dan persawahan. Pengelolaan jalur ini telah diubah oleh PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ) melalui penghapusan arahan dari Google Maps. Hal tersebut diungkapkan oleh Rachmat, Humas JMJ, saat ditemui di lokasi pada Selasa (24/03/2026) malam.
Menurut Rachmat, pihaknya telah menyampaikan perubahan rute ke pengguna jalan. “Info dari lapangan menyebutkan rute alternatif ke GT Purwomartani telah dihapus dari Google Maps,” jelasnya.
Pemudik Terjebak di Area Persawahan
Beberapa pengguna jalan masih mengalami kesulitan mengikuti arahan baru. Damar, seorang pemudik, mengungkapkan ia melintasi area persawahan karena tergoda oleh petunjuk di Google Maps. “Diarahin Google Maps, jadi kok tiba-tiba ke sawah, sempet ragu, tapi mau putar balik udah enggak bisa lagi,” katanya.
“Iyadiarahin Google Maps. Tujuannya emang tol,” ujar Damar saat ditemui di lokasi.
Damar sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta setelah mudik Lebaran. Ia menyebutkan bahwa jalur yang ditempuh di area persawahan cukup berliku, bahkan menyebabkan rasa bingung saat arahan dari aplikasi tersebut berubah mendadak.
Penambahan Rambu dan Petugas
Untuk mengatasi kebingungan tersebut, JMJ telah menambahkan rambu-rambu penunjuk arah di sekitar GT Purwomartani. “Kami sudah memasang rambu-rambu yang akan mengarah ke gerbang tol,” tambah Rachmat.
Sejumlah petugas juga ditempatkan untuk membantu pengemudi yang kesulitan. “Teman-teman di lapangan sudah standby,” ujar Rachmat.
Perubahan Jalur di Google Maps
Dalam pemaparan sebelumnya, Haryono, seorang pengemudi dari Sleman menuju Surabaya, mengatakan aplikasi tersebut memperlihatkan warna merah pada Jalan Yogya-Solo akibat kemacetan. “Soalnya tadi buka Google Maps, jalan Solo (Yogya-Solo) sudah merah semua,” ungkapnya.
“Jalannya seadanya, jalan sawah. Wah ya, masih jalan tanah, belum rata semua,” urainya.
Haryono mengakui bahwa jalur alternatif melalui area persawahan lebih mudah diakses berdasarkan aplikasi tersebut, meski kondisi jalan tidak memungkinkan untuk berpindah ke jalur utama secara langsung.
