Trump Mau Ambil Minyak Iran lewat Pulau Kharg, Apa Risikonya?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencananya untuk menguasai Pulau Kharg, wilayah milik Iran yang menjadi pusat ekspor minyak. Penegasan ini dilakukan dalam wawancara dengan Financial Times pada hari Minggu (29/3/2026), di mana Trump mengungkapkan preferensi untuk mengambil sumber daya energi Iran tanpa ketergantungan pada batas waktu. Tindakan tersebut terinspirasi oleh upaya AS dalam mempertahankan kontrol atas sektor minyak di Venezuela, setelah penangkapan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro, di awal tahun.
Strategis dan Pentingnya Pulau Kharg
Pulau Kharg berada di lokasi strategis, sekitar 126 km dari pantai Iran di utara Teluk Persia, serta 3.483 km ke arah barat laut Selat Hormuz. Wilayah ini memungkinkan kapal tanker besar berlabuh karena kedalaman perairannya yang lebih tinggi dibandingkan daerah pesisir. Faktor ini membuat Pulau Kharg menjadi titik kritis bagi ekspor minyak Iran, dengan sekitar 90 persen minyak yang dijual keluar negeri melewati sini. Karena itu, AS ingin menguasai pulau tersebut untuk menghambat jalur perdagangan energi Iran dan memperkuat tekanan ekonomi terhadap negara itu.
Iran sendiri adalah produsen minyak ketiga terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sebelumnya, pasukan AS melakukan serangan terhadap Pulau Kharg pada pertengahan Maret 2026, yang menurut Trump berhasil menghancurkan target militer mereka. Ia juga menyatakan bahwa serangan berikutnya akan fokus pada infrastruktur minyak. Departemen Pertahanan AS sedang mempertimbangkan opsi penempatan pasukan darat untuk menduduki pulau tersebut.
Resiko Perang dan Dampaknya
“Perebutan dan pendudukan Pulau Kharg lebih mungkin memperluas dan memperpanjang perang daripada menghasilkan kemenangan yang menentukan,” ujar pakar Ryan Brobst dan Cameron McMillan dari Foundation for Defence of Democracies, dilansir Reuters pada hari Sabtu (28/3/2026).
Mereka memperingatkan bahwa aksi ini bisa memicu perang lebih luas dan lebih berkepanjangan. Pasukan AS berisiko terkena serangan rudal dan drone, termasuk drone kecil dengan kamera pandangan langsung (“first-person view”) yang kini digunakan secara luas di Ukraina. Iran diperkirakan akan memanfaatkan kematian prajurit AS sebagai alat propaganda melalui video yang dirilis secara online setelah serangan berjalan.
Mantan komandan Komando Pusat AS, Joseph Votel, menambahkan bahwa meskipun hanya sekitar 800 hingga 1.000 pasukan yang berada di Pulau Kharg, mereka membutuhkan dukungan logistik yang juga rentan terhadap serangan. Votel mengatakan, “Itu akan menjadi langkah yang agak aneh, tetapi kita tentu bisa melakukannya jika harus,” menyatakan kerentanan taktis dari operasi tersebut.
Penempatan Pasukan dan Persiapan Militer
Dilansir Times of India pada hari Senin (30/3/2026), Pentagon telah mengirimkan sekitar 10.000 personel terlatih untuk persiapan operasi darat, termasuk skenario merebut dan mempertahankan wilayah. Sejumlah 3.500 pasukan sudah tiba di Pulau Kharg pada hari Jumat (27/3/2026), dengan sekitar 2.200 di antaranya merupakan anggota Marinir. Selain itu, 2.200 Marinir lainnya masih dalam perjalanan, serta ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.
