Trenggono: Proyeksi Produksi Ikan April-Desember Capai 10,57 Juta Ton
Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan bahwa proyeksi produksi ikan nasional hingga Juni 2026 mencapai 10,57 juta ton. Target ini dirancang untuk memastikan pasokan protein masyarakat tetap terpenuhi. “KKP memproyeksikan total produksi ikan nasional hingga Juni 2026 mencapai 10,57 juta ton,” kata Trenggono.
Proyeksi tersebut mencakup kontribusi dari dua sektor utama, yaitu tangkap dan budidaya. Produksi ikan tangkap diperkirakan sebesar 5,42 juta ton, sedangkan ikan budidaya sekitar 5,15 juta ton. Dengan distribusi tersebut, KKP berupaya memenuhi kebutuhan protein hewani warga sekaligus menghadapi tantangan global dan perubahan iklim.
“KKP berkomitmen penuh untuk menjaga ketersediaan protein hewani masyarakat, khususnya dari sektor perikanan,” tegas Trenggono.
KKP juga menjelaskan bahwa produksi kelautan dan perikanan pada periode 2020-2025 terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 3,8 persen. Pemantauan ketat dilakukan terhadap delapan kota besar,结果显示 status pasokan ikan tetap stabil hingga akhir Juni 2026.
Terkait fenomena El Nino, Trenggono mengingatkan adanya ancaman terhadap ekosistem laut. Dampak utamanya adalah peningkatan salinitas air karena evaporasi yang tinggi, sehingga berpotensi memicu wabah penyakit pada budidaya ikan dan mengurangi kualitas ekosistem karbon biru. “Kondisi ini bisa mempercepat degradasi ekosistem serta meningkatkan emisi karbon secara signifikan,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah ini, KKP berencana memperkuat ketahanan pangan dengan mengembangkan teknologi budidaya, meningkatkan kualitas benih, dan optimalisasi penggunaan pakan. Langkah ini bertujuan menjaga keberlanjutan produksi.
Komisi IV DPR RI Meminta Penguatan Strategi Kelautan
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menekankan perlunya antisipasi terhadap dampak perubahan iklim dan dinamika geopolitik. “Komisi IV DPR RI menyarankan KKP meningkatkan produktivitas, memperbaiki infrastruktur, serta memastikan ketersediaan bahan bakar minyak bagi nelayan,” katanya.
Dalam penjelasannya, Titiek juga menyebutkan pentingnya penguatan sistem logistik dan rantai dingin untuk menjaga aksesibilitas harga ikan bagi masyarakat. “Ini menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional,” imbuhnya.
