Bappenas Sarankan Sumbar Perlu Perluas Diversifikasi Ekonomi

Kota Padang menjadi tempat penyampaian saran penting dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Saran tersebut bertujuan agar daerah itu tidak terlalu bergantung pada satu sektor ekonomi tertentu. Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas RI, Medrilzam, menyampaikan pandangan ini selama Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sumbar 2027.

“Diversifikasi sumber ekonomi harus diperluas secara lebih luas lagi,” ujar Medrilzam di Padang, Rabu.

Dalam wawancara tersebut, ia menyoroti bahwa Sumbar masih mengandalkan pertanian dan perkebunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, hal ini membuat daerah rentan terhadap risiko ketidakstabilan. Oleh karena itu, Bappenas menyarankan Sumbar untuk mulai mencari sumber daya ekonomi lain agar bisa memperkuat ketahanan ekonomi.

Menurut Medrilzam, daerah tersebut tidak boleh hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi harus mendorong pengembangan produk turunan. Langkah ini sejalan dengan upaya hilirisasi yang digencarkan pemerintah pusat. Dengan diversifikasi, Sumbar diharapkan bisa memperoleh kemandirian lebih besar dalam perekonomian.

Gubernur Sumbar Beberkan Strategi untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi

Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi menjelaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,7 persen, Sumbar perlu mengambil pendekatan holistik. “Kita telah menetapkan arsitektur pertumbuhan yang menyeluruh sebagai cetak biru pembangunan ekonomi,” kata gubernur yang pernah menjabat wali kota Padang.

“Sumbar tidak lagi bergerak secara parsial untuk mencapai target tersebut,” ujar Mahyeldi.

Pendekatan ini didasarkan pada tiga pilar utama: hilirisasi agroindustri, penguatan pariwisata dan ekonomi hijau, serta digitalisasi UMKM sebagai penggerak pertumbuhan baru. Mahyeldi menekankan bahwa hilirisasi agroindustri menjadi strategi utama, dengan tujuan menarik devisa melalui pendekatan value chain staircase.

Metode ini mendorong komoditas diekspor setelah diolah, sehingga bisa menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Dengan implementasi strategi ini, Sumbar menargetkan peningkatan nilai ekspor dari Rp20 triliun menjadi Rp80 triliun. Selain itu, potensi penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 240.000 orang hingga 2029.