Menjual Internasionalisasi Hainan
Sejak akhir tahun 2025, provinsi Hainan yang memiliki iklim tropis dan merupakan salah satu wilayah terbaru di Tiongkok sedang mengambil langkah besar dalam memperluas aktivitas perdagangan internasional. Pada 18 Desember 2025, wilayah tersebut resmi meluncurkan zona pabean khusus bernama “Hainan Free Trade Port (FTP)” yang memiliki mekanisme berbeda dari sistem kepabeanan di daratan Tiongkok. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang kompetitif, mirip dengan Hong Kong dan Singapura, sebagai pusat perdagangan global.
Polisi FTP Hainan pertama kali dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping pada 2018 dan diakui oleh Dewan Negara Tiongkok. Pada 2021, pemerintah memberlakukan Undang-Undang Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan. Mulai 2023, wilayah ini mencoba model pengawasan baru berbasis “barang, bukan orang” dalam operasional bea cukai.
Kebijakan Tarif dan Prinsip Pergerakan Barang
Dalam kerangka FTP, barang yang diangkut dari Hainan ke wilayah Tiongkok daratan dianggap sebagai impor. Sistem ini bertujuan menumbuhkan ekosistem perdagangan yang lebih terbuka serta fleksibel bagi investasi asing. Arus komoditas di Hainan diatur melalui tiga prinsip: pertama, akses bebas untuk barang dari luar negeri; kedua, pengawasan ketat untuk barang yang keluar dari pulau; dan ketiga, pergerakan barang bebas di dalam wilayah.
Beberapa jenis barang impor kini mendapatkan tarif nol persen. Dari total 8.960 jenis barang berkode tarif di Tiongkok, sekitar 6.637 atau 74 persen berada dalam kategori ini. Namun, sebagian lainnya tetap dikenai tarif untuk melindungi industri lokal. Kebijakan tambahan memberikan pembebasan bea masuk bagi produk yang diproduksi di Hainan, asalkan memiliki nilai tambah minimal 30 persen dari bahan baku impor.
“Bahan utama yang kami gunakan untuk minyak goreng ini adalah biji kanola dan kedelai yang kami impor dari Kanada, Brasil, Ukraina, atau negara lain. Setelah diolah di Hainan, produk tersebut dapat dipasarkan di provinsi lain di Tiongkok bahkan diekspor ke berbagai belahan dunia,” kata Cao Youha, Deputi Manajer Umum Hainan Ausca International Oils and Grains Co., Ltd.
Perusahaan ini termasuk dalam gelombang pertama proyek yang diuji coba di area percontohan FTP Hainan. Sampai awal 2026, mereka telah menghemat 300 juta RMB (sekitar Rp750 miliar) karena kebijakan pembebasan tarif. Saat beroperasi pada 2021, volume produksi minyak goreng Ausca mencapai 190.000 ton dengan nilai 1 miliar RMB (sekitar Rp2,5 triliun). Angka tersebut terus meningkat, hingga mencapai 1,58 juta ton dengan nilai 6,8 miliar RMB (sekitar Rp17 triliun) pada 2025.
Sebagai kota pelabuhan, Hainan menjadi pusat inovasi ekonomi Tiongkok dengan kebijakan yang berupaya mendorong pertumbuhan manufaktur dan industri pengolahan. Kebijakan ini juga berdampak langsung pada perusahaan lokal, memungkinkan mereka mengakses pasar internasional secara lebih mudah.
