BPS catat ekspor di Papua masih bertumpu pada komoditas kayu

BPS Catat Ekspor di Papua Masih Bertumpu pada Komoditas Kayu

Kinerja Ekspor Papua dalam Tiga Bulan Pertama Tahun 2026

BPS catat ekspor di Papua masih – Pada Maret 2026, total nilai ekspor Papua mencapai 3.550,09 ribu dolar AS, menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut Kepala Bagian Umum Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Emi Puspitarini, angka ini menurun sebesar 47,38 persen dari total ekspor Februari 2026 yang mencapai 6.747,27 ribu dolar AS. “Dalam tiga bulan pertama tahun ini, nilai ekspor Papua juga mengalami penurunan sebesar 7,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” tambahnya.

Produk Kayu Dominasi Ekspor Nonmigas

Emi Puspitarini menjelaskan bahwa sektor nonmigas masih menjadi penggerak utama ekspor Papua, dengan kontribusi mencapai 99,98 persen dari total. Komoditas kayu dan barang dari kayu (HS44) menjadi andalan utama, dengan nilai ekspor mencapai 3.151,11 ribu dolar AS atau setara Rp54,84 juta. “Ini menunjukkan bahwa daya saing produk kehutanan Papua masih cukup kuat di pasar internasional,” ujarnya.

Menurut Emi, sektor migas hanya menyumbang 0,55 ribu dolar AS, yang relatif kecil dalam konteks ekspor provinsi tersebut. “Porsi kontribusi migas terhadap total ekspor Papua terus berada di bawah 1 persen, menandakan ketergantungan ekspor pada sumber daya alam nonmigas,” katanya. Keberhasilan ekspor kayu di Papua juga mencerminkan potensi sumber daya hutan yang masih mengalami peningkatan permintaan dari pasar global, terutama untuk produk kayu berbasis kayu kualitas tinggi.

Pasaran Utama Ekspor Papua

Dari segi tujuan ekspor, tiga negara menjadi pasar utama Papua. Australia berada di puncak daftar, dengan nilai ekspor mencapai 2.457,90 ribu dolar AS atau 69,23 persen dari total. “Australia tetap menjadi mitra dagang utama, baik untuk produk kayu maupun barang lain yang dikirimkan,” ujar Emi. Pasar lain yang signifikan adalah Selandia Baru, yang menerima ekspor senilai 444,71 ribu dolar AS, serta Papua Nugini dengan nilai 387,01 ribu dolar AS.

Komoditas kayu tetap menjadi komoditas dominan dalam ekspor Papua, meski jumlahnya terus berfluktuasi sesuai dengan kondisi pasar. “Kebutuhan pasar internasional terhadap produk kayu seperti kayu keras, kertas, dan produk turunan hutan masih tinggi, terutama dari negara-negara Asia Pasifik dan Eropa,” jelas Emi. Sementara itu, komoditas lain seperti bahan makanan, pertanian, dan elektronik juga ikut berkontribusi, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan sektor kayu.

Infrastruktur Logistik yang Menentukan

Dari sisi pelabuhan, Emi Puspitarini mengungkapkan bahwa aktivitas pemuatan ekspor di Papua tidak merata. Pelabuhan Jayapura menjadi salah satu titik utama, terutama untuk pengiriman ke negara tetangga seperti Papua Nugini. “Nilai pemuatan melalui pelabuhan ini sebesar 387,01 ribu dolar AS, yang sebagian besar berupa produk kayu,” ujarnya. Namun, sebagian besar ekspor Papua sebenarnya dimuat melalui pelabuhan di luar wilayah provinsi, khususnya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Nilai pemuatan melalui Surabaya mencapai 3.162,18 ribu dolar AS, menunjukkan ketergantungan tinggi pada infrastruktur logistik yang terpusat di daerah lain,” katanya. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah, ketersediaan pelabuhan dan jaringan distribusi masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan kinerja ekspor secara nasional.

Ketergantungan pada pelabuhan luar provinsi ini juga diakui oleh Emi sebagai faktor kritis dalam ekspor Papua. “Meski ada peningkatan kapasitas di Jayapura, masih banyak barang yang harus dialihkan ke pelabuhan Surabaya dan daerah lain untuk mencapai destinasi akhir,” ujarnya. Dengan kondisi ini, keberlanjutan pertumbuhan ekspor Papua sangat tergantung pada kemampuan aksesibilitas dan kualitas infrastruktur di luar provinsi.

Eksplorasi Potensi Ekspor di Masa Depan

Meski ekspor Papua masih kental dengan komoditas kayu, Emi menegaskan bahwa peluang diversifikasi tetap terbuka. “Banyak komoditas seperti bahan makanan, minyak tanah, dan barang elektronik juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” katanya. Hal ini penting karena ekspor beragam dapat mengurangi risiko ketidakstabilan harga komoditas utama.

Sebagai contoh, sektor pertanian Papua, seperti kopi dan kakao, telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. “Kopi Papua memiliki daya tarik di pasar internasional karena kualitasnya tinggi, dan ini bisa menjadi alternatif pemasukan tambahan,” ujarnya. Sementara itu, pertumbuhan industri kreatif seperti kain tradisional dan kerajinan juga dinilai sebagai peluang baru untuk ekspor nontradisional.

Kinerja Kumulatif Januari hingga Maret 2026

Secara kumulatif, total ekspor Papua selama Januari hingga Maret 2026 mencapai 14.629,63 ribu dolar AS. “Kinerja ini tergolong stabil, meski ada penurunan dari tahun sebelumnya,” jelas Emi. Dalam periode yang sama 2025, total ekspor mencapai sekitar 15.832,11 ribu dolar AS, sehingga penurunan 7,78 persen menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh sektor ekspor di Papua.

Emi menyoroti bahwa penurunan ini tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan fluktuasi di sektor ekspor lainnya. “Meski ada penurunan, Papua tetap menjadi salah satu provinsi dengan nilai ekspor terbesar di Indonesia,” katanya. Hal ini memberikan harapan bahwa sektor ekspor Papua masih memiliki daya tahan terhadap perubahan kondisi ekonomi global.

Analisis dan Tantangan Ke depan

Dalam mengevaluasi kinerja ekspor, Emi menyebutkan bahwa Papua perlu mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan kekaya