Latest Program: GMF cetak laba bersih 6,7 juta dolar AS pada kuartal I 2026

GMF Cetak Laba Bersih 6,7 Juta Dolar AS pada Kuartal I 2026

Latest Program – Jakarta, 31 Maret 2026 – Garuda Indonesia Group’s subsidiary, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), berhasil mencatatkan laba bersih sebesar 6,76 juta dolar AS atau sekitar Rp107 miliar dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. Capaian ini menjadi bukti pertumbuhan yang signifikan, karena mengalami kenaikan hingga 78,28 persen dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I 2025 yang mencapai 3,79 juta dolar AS. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan pendapatan perseroan, yang mencapai 114,94 juta dolar AS per 31 Maret 2026.

Angka pendapatan tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 20,53 persen dibandingkan dengan pendapatan kuartal I 2025 sebesar 95,36 juta dolar AS. Pertumbuhan tersebut, menurut Andi Fahrurrozi, Direktur Utama GMF, menjadi indikator kuat tentang efektivitas strategi pemulihan dan peningkatan kapabilitas yang sedang dijalankan perusahaan. “Kinerja di kuartal pertama tahun ini melebihi hasil tahun sebelumnya, yang mengartikan bahwa upaya kami dalam memperkuat operasional dan kepercayaan pasar mulai berbuah hasil,” jelasnya.

Strategi Operasional dan Pencapaian Khusus

Dalam rangka meningkatkan kinerja, GMF berhasil menyelesaikan proyek strategis yang mencerminkan peningkatan kualitas layanan. Salah satu pencapaian utama adalah pengoperasian full overhaul pertama secara mandiri untuk mesin CFM56-5B milik Citilink. Proyek ini didukung oleh dana dari Danantara, yang membantu perusahaan dalam memperluas kapasitas layanan perawatan pesawat. Selain itu, GMF juga mencatatkan kenaikan pangsa pasar internasional dengan menambah basis pelanggan baru dari Korea Selatan, yaitu Airzeta dan T-Way.

“Pencapaian di kuartal pertama 2026 ini melampaui pertumbuhan tahun sebelumnya, menandakan efektivitas strategi pemulihan dan penguatan kapabilitas yang tengah kami jalankan,” ujar Andi Fahrurrozi.

Perusahaan juga menyelesaikan beberapa proyek strategis penting, seperti overhaul pesawat A330 yang dipesan dari Korean Air serta perbaikan landing gear untuk Fiji Airways. Kehadiran pelanggan baru di pasar internasional ini, kata Andi, memperkuat posisi GMF sebagai mitra andalan dalam industri penerbangan. “Dengan menyelesaikan proyek-proyek ini, kami tidak hanya memperluas jaringan pelanggan, tetapi juga menunjukkan kemampuan operasional yang lebih matang,” tambahnya.

Ekspansi ke Sektor Non-Aviasi

Dalam upaya diversifikasi bisnis, GMF mulai menjelajahi sektor non-aviasi. Langkah ini diwujudkan melalui penyelesaian normalisasi PLTG MPP Balai Pungut TM2500 #3 untuk PLN Batam. Proyek ini membawa kontribusi signifikan terhadap pembangunan infrastruktur energi nasional, sekaligus menunjukkan adaptasi perusahaan dalam menghadapi tantangan industri yang dinamis. “Diversifikasi ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” terang Andi.

Penyelesaian proyek PLTG tersebut menunjukkan kemampuan GMF dalam melayani sektor energi, sementara kenaikan pendapatan di sektor utama (aviasi) tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan. Dengan menggabungkan kedua lini bisnis ini, perusahaan berharap bisa menciptakan stabilitas keuangan yang lebih kuat. Pertumbuhan ekuitas GMF juga menjadi indikator tambahan, karena total ekuitas perseroan meningkat menjadi 140,58 juta dolar AS per 31 Maret 2026, dibandingkan dengan 114,57 juta dolar AS di akhir tahun 2025.

Peningkatan Kualitas Keuangan dan Aksi Korporasi

Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa peningkatan ekuitas GMF berasal dari akumulasi laba berjalan yang stabil serta realisasi aksi korporasi melalui penerbitan saham baru. Penerbitan ini tidak hanya memperkuat struktur modal, tetapi juga memberikan peluang untuk menarik investasi tambahan. “Dengan kenaikan ekuitas, kami semakin yakin bahwa fundamental keuangan perusahaan sedang membaik,” katanya.

Menurut Andi, kesuksesan kuartal I 2026 menunjukkan bahwa GMF berhasil mengatasi tantangan yang dihadapi sektor aviasi sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan membuktikan bahwa langkah-langkah seperti pengoptimalan biaya, peningkatan efisiensi operasional, dan diversifikasi layanan telah memberikan dampak positif. “Kami terus berfokus pada peningkatan kualitas layanan, pengembangan segmen bisnis baru, serta penguatan struktur keuangan untuk menjaga daya saing di pasar yang kompetitif,” ujar Andi.

Di sisi lain, kinerja finansial yang meningkat juga menjadi alasan untuk optimisme menghadapi kuartal berikutnya. Andi menyatakan bahwa momentum positif ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama dengan pengembangan proyek strategis yang sedang dikerjakan. “Kami yakin bahwa kontribusi GMF akan terus berkontribusi pada pertumbuhan Garuda Indonesia Group sebagai sebuah perusahaan yang berorientasi pada inovasi dan kualitas,” katanya.

Analisis keuangan GMF menunjukkan bahwa pendapatan yang meningkat seiring dengan peningkatan volume pesawat yang dirawat, serta peningkatan layanan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Kebijakan pengelolaan dana dan penerapan teknologi modern juga memainkan peran penting dalam menurunkan biaya operasional. “Strategi kami mencakup perbaikan terus-menerus dalam manajemen keuangan, yang berdampak langsung pada kinerja bisnis,” tambah Andi.

Dengan keberhasilan di kuartal I 2026, GMF memperkuat eksistensinya sebagai pemain utama dalam industri penerbangan dan layanan perawatan. Pertumbuhan ini juga menjadi bagian dari visi Garuda Indonesia Group untuk membangun jaringan operasional yang lebih luas dan berkelanjutan. “Kami siap menghadapi tantangan di masa depan dengan optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi,” tutup Andi, yang menambahkan bahwa konsistensi dalam kinerja akan terus menjadi prioritas utama.