New Policy: Ekonom: Konsistensi produksi pangan jadi kunci jaga inflasi 2026
Ekonom: Konsistensi Produksi Pangan Menjadi Faktor Utama untuk Stabilisasi Inflasi 2026
New Policy –
Jakarta, Sabtu – Profesor ekonomi dari Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, mengungkapkan bahwa keberlanjutan produksi bahan pangan nasional merupakan elemen kritis dalam mempertahankan stabilitas inflasi serta pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2026, terlepas dari tekanan ketersediaan pangan di tingkat global. Menurut dia, pasokan bahan makanan, khususnya beras, memiliki pengaruh signifikan terhadap keseimbangan ekonomi. “Ketersediaan beras dan produktivitas sektor pertanian secara keseluruhan sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga. Ini perlu dipertahankan dengan baik,” jelas Ninasapti dalam pernyataan resmi yang diterbitkan di Jakarta.
Pertanian Sebagai Pilar Ekonomi Nasional
Dalam lingkungan ekonomi yang penuh ketidakpastian, sektor pertanian dinilai sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Ninasapti menekankan bahwa kekuatan sektor ini tidak hanya terletak pada kemampuannya mempertahankan pasokan, tetapi juga pada perannya dalam mengontrol inflasi. “Pertanian tetap menjadi pilar yang stabil, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat,” tambahnya.
Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada bulan April 2026 mencatatkan angka sebesar 0,13 persen secara bulanan. Meski ada kenaikan harga di sejumlah komoditas non-pangan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,06 persen. Hal ini disebabkan oleh penurunan harga bahan-bahan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, serta cabai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan pangan dalam negeri tetap terjaga, meski di tengah gangguan global.
Ninasapti mengatakan bahwa keberhasilan menjaga produksi beras nasional sangat berpengaruh terhadap kestabilan kebutuhan pokok masyarakat. “Swasembada beras adalah bukti bahwa sektor pertanian mampu berkontribusi besar dalam menopang inflasi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa komoditas ini memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu, pertanian juga menjadi sektor penggerak tenaga kerja terbesar, yang memberikan dampak luas pada perekonomian.
Kontribusi Pertanian pada Pertumbuhan Ekonomi
Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan. Dalam periode yang sama tahun sebelumnya, sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap angka pertumbuhan tersebut, dengan andil sebesar 1,11 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi penggerak utama ekonomi, terutama dalam menghadapi tantangan eksternal.
Dalam pandangan Ninasapti, pertanian tidak hanya mampu menjaga stabilitas harga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. “Produktivitas pangan nasional harus dipertahankan agar dapat menjaga keseimbangan ekonomi,” katanya. Ia menambahkan bahwa konsistensi dalam produksi bahan makanan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama di tengah kenaikan harga komoditas global.
Saat ini, cadangan beras pemerintah mencapai lebih dari 5 juta ton yang disimpan di berbagai gudang Perum Bulog di sejumlah wilayah. Ninasapti menilai kondisi ini menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan mengantisipasi fluktuasi pasar internasional. “Ketersediaan beras di dalam negeri adalah aset besar yang membantu mengurangi risiko inflasi,” ujarnya.
Peran Petani dan Kebijakan Pemerintah
Ninasapti memberikan apresiasi terhadap usaha petani serta kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kapasitas produksi pangan. “Kerja keras para petani dan dukungan dari pemerintah menjadi faktor utama keberhasilan swasembada beras,” katanya. Ia menambahkan bahwa ketahanan beras nasional bukan hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga menciptakan peluang kerja yang luas di sektor pertanian.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat generasi muda untuk terlibat dalam pertanian masih tinggi. Ninasapti berharap dukungan pemerintah terus diberikan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga. “Pertanian adalah sektor yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Strategi untuk Mengendalikan Inflasi
Dalam konteks mengendalikan inflasi, Ninasapti menekankan bahwa pemerintah harus fokus pada keberlanjutan produksi pangan. “Konsistensi dalam menghasilkan bahan makanan adalah kunci utama untuk menjaga harga tetap stabil,” jelasnya. Ia menilai bahwa efisiensi produksi, kepastian pasokan, dan pengendalian harga merupakan tiga faktor utama yang perlu diperkuat.
Sektor pertanian juga dianggap sebagai jembatan antara kebutuhan dasar masyarakat dan kinerja ekonomi nasional. Ninasapti mengatakan bahwa inflasi terutama dipengaruhi oleh harga bahan-bahan pokok, termasuk beras. “Produksi beras yang konsisten tidak hanya membantu menekan inflasi, tetapi juga memastikan masyarakat tidak terkena dampak harga yang naik,” ujarnya.
Kebijakan pemerintah dalam memperkuat produksi pangan, seperti subsidi pupuk dan program peningkatan efisiensi, dinilai sangat efektif. Ninasapti mengharapkan langkah-langkah ini terus dilakukan agar sektor pertanian tetap menjadi penyangga ekonomi. “Swasembada beras adalah bukti bahwa kita mampu mengelola produksi secara mandiri,” katanya.
Menurut Ninasapti, tantangan utama terletak pada ketergantungan pada pasar global yang terus berubah. Namun, dengan konsistensi dalam produksi dan pasokan, Indonesia bisa mengurangi risiko tekanan eksternal. “Pertanian harus menjadi sektor yang diutamakan dalam perencanaan ekonomi,” tambahnya.
Dengan peningkatan produksi bahan pangan, Ninasapti yakin Indonesia mampu menjaga inflasi di bawah 3 persen hingga akhir 2026. “Ini bukan hanya soal beras, tetapi juga komoditas lain yang harus diproduksi secara terus-menerus,” jelasnya. Ia menilai bahwa langkah-langkah yang telah diambil sejak tahun 2025 masih perlu ditingkatkan agar mampu menopang ekonomi di masa depan.
Kesimpulan yang diungkapkan Ninasapti menekankan bahwa sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi. “Kita harus yakin bahwa sektor pertanian mampu menjadi pilar stabil dalam menghadapi tantangan global,” pungkasnya. Dengan memperkuat produksi pangan, Indonesia tidak hanya memastikan ketersediaan kebutuhan pokok, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
