Desak bersyukur raih perunggu di Wujiang namun tegaskan belum puas
Desak bersyukur raih perunggu di Wujiang namun tegaskan belum puas
Desak bersyukur raih perunggu di Wujiang – Dalam ajang World Climbing Series Wujiang 2026, Indonesia berhasil mengantarkan satu atlet ke podium kehormatan. Desak Made Rita Kusuma Dewi, peraih medali perunggu di nomor speed individu putri, mengungkapkan rasa terima kasih atas pencapaian tersebut, sekaligus menegaskan bahwa ia belum puas dengan hasil yang diraih. Meski medali perunggu menjadi bukti keberhasilan, Desak percaya ini hanyalah awal dari perjalanan yang lebih baik.
Dalam babak final, Desak memastikan posisi ketiga setelah menumbangkan Natalia Kalucka dengan waktu 6,17 detik. Lawannya, yang mendaftar sebagai peserta dari Atlet Netral Perorangan (AIN), mencatatkan waktu 6,38 detik. Ini memastikan Desak menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil meraih medali di nomor speed. Namun, sebelumnya ia telah mengalami beberapa kekalahan, termasuk di babak semifinal ketika kalah dari Aleksandra Kalucka dari Polandia. Peserta asal negara tersebut mencetak waktu 6,09 detik, sedangkan Desak berjalan dengan catatan 6,33 detik.
“Ini bukan hasil terbaik, tetapi apa pun hasilnya saya harus bersyukur dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi,” ujar Desak setelah pertandingan. Ia juga menyatakan bahwa ke depannya latihan dan persiapan akan ditingkatkan agar bisa bersaing lebih ketat di setiap turnamen. “Saya masih punya potensi untuk berkembang, dan ini hanya awal dari perjalanan menuju target yang lebih tinggi.”
Di babak 16 besar, Desak melangkah setelah mengalahkan Rajiah Salsabillah, rekan sekaligus lawan dari Indonesia, dengan catatan waktu 6,36 detik. Pada perempat final, ia kembali menunjukkan kekuatannya dengan mengalahkan Isis Rothfork dari Amerika Serikat (AS) dalam waktu 7,61 detik. Namun, dalam babak semifinal, kinerjanya tidak memenuhi harapan. Ia harus mengakui kemenangan Aleksandra Kalucka, yang menorehkan catatan waktu 6,09 detik, sementara Desak hanya mampu mencatatkan 6,33 detik. Meski demikian, Desak bangkit di babak final dengan performa yang memuaskan.
Desak, yang berasal dari Bali, mengakui bahwa kompetisi di Wujiang sangat berat. “Lawan-lawan di sini sangat tangguh, dan saya harus berjuang lebih keras untuk bisa meraih hasil yang lebih baik di masa depan,” katanya. Ia berharap, pengalaman ini bisa menjadi fondasi untuk meningkatkan kualitas latihan dan teknik. “Saya akan memperbaiki kelemahan dan memaksimalkan kekuatan agar bisa berada di papan atas dalam turnamen berikutnya.”
Sementara di sektor putra, Indonesia hanya mampu menghasilkan lima atlet yang mencapai babak perempat final. Raharjati Nursamsa dan Veddriq Leonardo menjadi dua dari mereka yang sukses menembus delapan besar. Namun, babak perempat final menjadi kesempatan terakhir bagi keduanya dalam turnamen ini. “Meski belum mendapatkan medali, saya tetap bangga karena mereka mampu mencapai tahap lanjutan,” kata pelatih tim nasional. Kedua atlet tersebut sebelumnya telah menunjukkan kemampuan yang baik di babak penyisihan, tetapi di babak lebih lanjut, mereka gagal menghadapi tantangan yang lebih besar.
Medali emas dan perak di nomor speed individu putri diraih oleh Aleksandra Kalucka dan Elizaveta Ivanova dari AIN, masing-masing. Desak, yang mengantarkan medali perunggu, menyatakan bahwa hasil ini menjadi motivasi untuk terus berjuang. “Saya ingin bisa berada di podium pertama, tapi saya yakin dengan latihan yang lebih intens, keberhasilan itu akan tercapai,” imbuhnya. Ia juga menyoroti pentingnya pengalaman berkompetisi di tingkat internasional, yang bisa membantu meningkatkan mental dan tekniknya.
Dalam rangkaian World Climbing Series Wujiang 2026, Indonesia menorehkan torehan yang positif. Meski sektor putra belum meraih medali, sektor putri berhasil membanggakan nama di dunia olahraga panjat tebing. Desak Made Rita Kusuma Dewi, yang berlaga dalam kategori speed, menjadi wajah Indonesia di ajang ini. Dengan waktu 6,17 detik di babak final, ia mampu menunjukkan kemampuan yang konsisten. “Saya ingin terus belajar dari setiap pertandingan, baik dari kemenangan maupun kekalahan,” tegas Desak, yang berharap bisa mencapai level yang lebih unggul di masa depan.
Perjalanan Desak di Wujiang 2026 menjadi contoh nyata dari semangat atlet Indonesia. Meski medali perunggu bukan target utamanya, ia tetap bersyukur atas apa yang telah dicapai. “Ini adalah langkah awal, dan saya berkomitmen untuk terus berkembang. Indonesia memiliki potensi besar di olahraga ini, dan saya ingin menjadi bagian dari perubahan yang positif,” katanya. Ia juga berharap, tim nasional bisa memperkuat kualitas pelatihan dan strategi untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan di turnamen mendatang.
Kontribusi Desak dalam World Climbing Series Wujiang 2026 menunjukkan upaya yang baik dari pihak Indonesia. Meski kini hanya meraih perunggu, ia yakin dengan berlatih lebih keras, prestasi ini bisa menjadi dasar untuk melangkah lebih jauh. “Saya masih punya banyak hal yang perlu diperbaiki, tapi saya percaya bahwa dengan kerja sama dan dukungan yang baik, medali emas akan tercapai di masa depan,” pungkas Desak. Harapan tersebut juga didukung oleh pelatih dan tim yang telah berjuang sejak awal persiapan.
