New Policy: Trump sebut China ingin terus beli minyak dari Iran

Trump Sebut China Ingin Terus Beli Minyak dari Iran

New Policy – Kunjungan resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok yang berlangsung pada 13–15 Mei 2020 menjadi momen penting dalam dialog antara kedua negara. Pada hari keempat kunjungan tersebut, Trump memberikan pernyataan mengenai hubungan ekonomi Tiongkok dengan Iran, khususnya terkait pembelian minyak. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyampaikan bahwa Tiongkok memiliki keinginan untuk terus mengimpor minyak dari Iran meskipun tekanan internasional terus berlangsung.

“Namun pada saat yang sama, dia (Presiden Xi Jinping) mengatakan bahwa mereka membeli banyak minyak dari sana, dan mereka ingin terus melakukannya,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut diungkapkan saat Trump sedang menjalani pertemuan dengan Xi Jinping, yang dianggap sebagai upaya menggambarkan keberlanjutan hubungan ekonomi antara kedua negara. Selama pertemuan tersebut, Xi juga menyoroti keinginan Tiongkok agar Selat Hormuz tetap terbuka untuk arus perdagangan minyak. Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak global, menjadi isu utama dalam diskusi mereka.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Gedung Putih menyatakan bahwa Xi Jinping juga menyampaikan minat Tiongkok untuk membeli minyak dari Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa Tiongkok, sebagai salah satu pelaku utama pasar minyak dunia, berusaha memperluas kerja sama dengan AS sambil tetap mempertahankan hubungan dagang dengan Iran. Meskipun AS menerapkan sanksi yang membatasi akses Iran ke pasar internasional, China masih menunjukkan ketahanan dalam membeli minyak dari negara tersebut.

Konteks Ketegangan di Selat Hormuz

Konteks ketegangan antara AS dan Iran menjadi penting dalam pembicaraan Trump dan Xi. Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melakukan serangan terhadap target-target di Iran, yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Respons Iran terhadap serangan ini adalah menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Serangan tersebut memicu meningkatnya ketegangan regional, dengan risiko mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Kontak antara AS dan Iran memperoleh titik balik pada 7 April ketika kedua pihak mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Langkah ini diambil setelah negosiasi yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas. Trump, yang menilai gencatan senjata sebagai peluang untuk menghindari eskalasi lebih lanjut, memperpanjang penghentian permusuhan agar Iran bisa mengajukan “proposal terpadu” yang lebih komprehensif.

Peningkatan ketegangan akibat serangan AS-Israel terhadap Iran hampir menghentikan lalu lintas minyak di Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi pintu utama bagi minyak dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Ketika arus minyak terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga bahan bakar di berbagai negara. Meningkatnya ketegangan tersebut mengakibatkan kenaikan harga bahan bakar, baik di pasar lokal maupun internasional.

Dalam konteks ini, Trump menjelaskan bahwa Tiongkok tetap menunjukkan keseriusan dalam mempertahankan hubungan dagang dengan Iran. Meski AS berupaya mengurangi ketergantungan dunia terhadap minyak Iran, Tiongkok tidak ingin menghentikan akses ke sumber daya energi tersebut. Keputusan Tiongkok untuk terus membeli minyak dari Iran terlihat sebagai bagian dari strategi mereka untuk mengamankan pasokan energi sambil membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat.

Strategi Diplomasi Trump dan Impak Global

Trump, selama kunjungan ke Tiongkok, juga menjelaskan bahwa Xi Jinping menekankan pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya fokus pada kebutuhan energi internasional, tetapi juga memperhatikan stabilitas geopolitik. Meski AS dan Iran sedang dalam kondisi perang dingin, Tiongkok tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan politik.

Dalam wawancara Fox News, Trump menambahkan bahwa pertemuan dengan Xi tidak hanya membahas hubungan ekonomi, tetapi juga isu-isu strategis lain seperti kebijakan pertahanan. Xi menyampaikan minat Tiongkok untuk membeli minyak dari AS, yang bisa menjadi pendorong bagi pengurangan ketergantungan pasar global terhadap minyak Iran. Namun, hal ini masih tergantung pada kesepakatan bilateral dan keinginan Tiongkok untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Strategi Trump dalam kunjungan ke Tiongkok memperlihatkan upaya menyeimbangkan hubungan dengan dua pihak yang berkonflik. Dengan memperkenalkan minat Tiongkok untuk membeli minyak dari AS, Trump mencoba memperkuat kemitraan ekonomi bilateral sambil membangun hubungan dengan Iran. Namun, keputusan Tiongkok untuk terus membeli minyak dari Iran tetap menjadi fokus utama diskusi mereka, menunjukkan bahwa ekonomi dan kepentingan dagang bisa menjadi faktor utama dalam menyelesaikan konflik geopolitik.

Adapun dalam pertemuan lanjutan, Trump dan Xi dijadwalkan menggelar jamuan makan siang kerja (working lunch) pada Jumat, sebagai langkah untuk memperdalam komunikasi dan mengevaluasi kesepakatan yang sudah dicapai. Pada saat yang sama, ketegangan antara AS dan Iran terus memicu perubahan dinamika pasar minyak global. Peningkatan permintaan minyak dari Tiongkok serta kebijakan sanksi AS terhadap Iran bisa menjadi faktor penentu dalam menjaga keseimbangan harga minyak.

Kehadiran Tiongkok di tengah konflik antara AS dan Iran memperlihatkan peran mereka sebagai negara pemain utama dalam hubungan internasional. Meski terlibat dalam pertikaian politik, Tiongkok tetap menunjukkan komitmen untuk menjaga aliran minyak global. Trump, dalam kunjungannya, menggarisbawahi bahwa Tiongkok memiliki kepentingan yang jelas dalam memperkuat kerja sama dengan kedua pihak, sekaligus menegaskan bahwa negara tersebut tidak ingin mengganggu stabilitas pasar.

Sebagai salah satu negara yang tergantung pada impor minyak, Tiongkok memilih untuk tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran. Hal ini berdampak pada dinamika ekonomi global, terutama dalam konteks permintaan energi dan harga pasar. Meski AS berusaha mengurangi kerja sama dengan Iran, Tiongkok menunjukkan keteguhan dalam mendukung pihak tersebut, baik secara ekonomi maupun politik.

Dalam keseluruhan, pertemuan Trump dan Xi menggambarkan upaya menyeimbangkan berbagai kepentingan. Meski ada ketegangan antara AS dan Iran, Tiongkok tetap berperan sebagai pihak yang memfasilitasi dialog dan menjaga keseimbangan dalam ekonomi global. Pernyataan Trump mengenai minat Tiongkok terhadap minyak Iran menjadi bukti bahwa negara tersebut masih mengutamakan kestabilan dagang di tengah perubahan geopolitik.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA