Main Agenda: Sulteng perkuat literasi keuangan untuk generasi muda
Sulteng Perkuat Literasi Keuangan untuk Generasi Muda
Main Agenda – Palu menjadi salah satu kota yang sedang giat membangun kapasitas generasi muda dalam mengelola keuangan melalui kerja sama yang lebih intensif dengan Hanna Asa Indonesia, sebuah lembaga edukasi finansial. Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat muda Sulawesi Tengah dalam memahami konsep literasi keuangan serta inklusi finansial, terutama di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Pemimpin Hanna Asa Indonesia, Mardiyah, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Palu dalam program-program edukasi yang selama ini dijalankan organisasinya. Ia mengungkapkan, hubungan kerja sama antara kedua pihak telah berlangsung secara aktif selama dua tahun terakhir, dengan Pemimpin Hanna Asa Indonesia secara konsisten memberikan perhatian terhadap kegiatan pengembangan wawasan keuangan di daerah tersebut.
Pertemuan Strategis dan Rencana Kegiatan
Dalam pertemuan yang dilakukan Senin lalu, Mardiyah dan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid membahas berbagai agenda kegiatan finansial yang akan dilaksanakan. Kedua belah pihak sepakat untuk menghadirkan program-program yang dirancang agar masyarakat muda lebih mudah memahami cara mengatur uang secara bijak. Salah satu kegiatan yang menjadi fokus pembahasan adalah Smart Financial Journey, yang akan diadakan pada Sabtu (23/5) mendatang. Acara ini diharapkan bisa menjangkau ratusan anak muda di Sulawesi Tengah, memberikan mereka pengetahuan tentang pengelolaan keuangan secara profesional.
“Sejak dua tahun terakhir, kami secara intensif berkomunikasi dengan Pak Wali Kota. Beliau juga mendukung kegiatan edukasi literasi dan inklusi keuangan yang kami jalankan,” ujar Mardiyah usai bertemu dengan Wali Kota Palu.
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas rencana kegiatan di Sulawesi Tengah, tetapi juga melibatkan penyiapan agenda besar di Jakarta, yaitu acara yang akan berlangsung pada 12 Juni 2026. Menurut Mardiyah, acara ini bertujuan untuk memperluas jaringan serta memperkuat program-program edukasi keuangan di tingkat nasional. Kegiatan Smart Financial Journey, kata dia, dirancang agar peserta mendapatkan pemahaman lebih baik tentang perencanaan keuangan, penghematan, investasi, dan cara menghindari risiko finansial.
Tantangan Finansial yang Dihadapi Generasi Muda
Mardiyah menjelaskan bahwa pemuda di Sulawesi Tengah masih menghadapi berbagai masalah finansial, seperti pendapatan yang tidak menentu, kurangnya persiapan dana darurat, hingga rentan terjebak dalam pinjaman online ilegal. Masalah-masalah ini sering kali memengaruhi pengambilan keputusan keuangan, sehingga penting untuk memberikan edukasi yang tepat dan berkelanjutan. “Kami berharap melalui program ini, generasi muda bisa lebih mandiri secara finansial dan mampu menghadapi tantangan ekonomi yang terus berubah,” tambahnya.
Menurut survei tahun 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Angka ini menunjukkan bahwa walaupun ada kemajuan, masih ada ruang untuk perbaikan terutama di kalangan pemuda. Sebagai contoh, banyak pemuda belum sepenuhnya memahami konsep tabungan, investasi, dan perencanaan keuangan jangka panjang. Karena itu, program seperti Smart Financial Journey sangat diperlukan untuk mengisi celah tersebut.
Dalam penyelenggaraan kegiatan, pihak Hanna Asa Indonesia tidak hanya fokus pada sesi langsung, tetapi juga menyiapkan penyebaran informasi melalui platform media sosial. Langkah ini bertujuan agar peserta bisa diakses oleh masyarakat lebih luas, termasuk mereka yang tidak memiliki akses langsung ke acara fisik. “Dengan menjangkau masyarakat melalui media digital, kami berharap dapat mencapai lebih banyak pemuda, terutama di daerah-daerah terpencil di Sulawesi Tengah,” tutur Mardiyah.
Perspektif Pemerintah Kota Palu
Sementara itu, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menyambut baik upaya pihak Hanna Asa Indonesia dalam meningkatkan literasi keuangan bagi generasi muda. Menurutnya, peningkatan wawasan keuangan merupakan bagian integral dari upaya membangun sumber daya manusia yang mandiri dan produktif. “Dengan pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan, pemuda bisa menjadi tulang punggung perekonomian masa depan,” ujar Hadianto.
Kolaborasi antara Pemerintah Kota Palu dan Hanna Asa Indonesia, menurut Wali Kota, akan menjadi contoh bagus bagi kota-kota lain di Indonesia Timur dalam mendorong partisipasi masyarakat muda pada edukasi keuangan. “Kami berharap program ini dapat diadakan secara rutin dan berkelanjutan, karena literasi keuangan tidak hanya penting untuk masa kini, tetapi juga untuk masa depan,” katanya.
Kegiatan Smart Financial Journey yang akan berlangsung pada Sabtu (23/5) ini, kata Hadianto, akan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran finansial masyarakat muda. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Palu akan terus mendukung setiap inisiatif yang mendorong keterlibatan pemuda dalam kegiatan edukasi ini. “Jika berhasil, Palu bisa menjadi model kota yang sukses dalam program literasi keuangan, sehingga menjadi referensi bagi kota-kota lain di wilayah tersebut,” tambahnya.
Kerja sama ini juga diharapkan bisa membuka peluang baru bagi pemuda Sulawesi Tengah, seperti akses ke program pelatihan, bantuan pemasaran ide-ide finansial, serta kemitraan dengan institusi keuangan lokal. Dengan memadukan pendekatan edukasi langsung dan digital, Hanna Asa Indonesia serta Pemerintah Kota Palu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas keuangan masyarakat muda, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam jangka panjang, peningkatan literasi keuangan di Sulawesi Tengah diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan, memperkuat ekonomi keluarga, dan menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan pasar kerja serta perubahan ekonomi global. “Program ini merupakan langkah kecil, tetapi memiliki dampak besar bagi kehidupan pemuda,” pungkas Mardiyah, yang menyatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan lembaga edukasi keuangan adalah kunci dalam mewujudkan hal tersebut.
