Latest Program: ILUNI FKUI-FIAKSI buka posko bantu dokter internship hadapi tantangan

ILUNI FKUI-FIAKSI Buka Posko untuk Dukung Dokter Internship Hadapi Tantangan

Latest Program – Jakarta, Kamis – Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Forum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) telah meluncurkan posko pengaduan guna mendukung dokter internship yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan bantuan dalam berbagai aspek, mulai dari perlindungan hukum hingga masalah finansial. Keberadaan posko ini diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam memastikan kualitas program internship dokter di Indonesia, yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade.

Kolaborasi untuk Kepedulian Alumni

Ketua Umum ILUNI FKUI, Marsekal Pertama TNI (Purn.) Dr. dr. Wawan Mulyawan, dalam wawancara di Jakarta, mengungkapkan bahwa posko ini dibuka sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi para dokter yang sedang menjalani program internship. Ia menjelaskan bahwa tantangan yang sering dialami oleh peserta program tidak hanya terkait perlindungan hukum, tetapi juga masalah seperti perundungan atau penolakan izin cuti sakit. “Beberapa dari mereka mengalami kesulitan dalam mengakses bimbingan langsung di lapangan,” kata Wawan. Ia menambahkan bahwa saat ini baru ada tiga laporan yang masuk, baik melalui pesan WhatsApp maupun komunikasi langsung. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan dari posko ini adalah untuk mengumpulkan data secara kronologis dan memperjelas situasi yang dihadapi oleh para dokter tersebut.

“Yang sudah ada yang masuk lewat WA maupun yang langsung mau hubungi itu baru ada tiga yang menyampaikan. Tapi memang kita inginnya itu dibuat kronologis dan lain-lain. Dan itu memang belum ada yang secara spesifik mengirimkan kronologisnya yang lengkap,” ujarnya.

Wawan menekankan bahwa meski hanya satu kasus yang dilaporkan, kejadian tersebut bisa menjadi indikasi dari masalah lebih besar. “Kita melihat kalau hanya satu kasus aja kita isolasi ya itu mungkin kebetulan gitu. Tapi terjadi beberapa kasus yang kemudian kita pikir ini mesti ada satu yang kita perdalam lagi,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa FIAKSI dan ILUNI FKUI ingin mengeksplorasi penyebab penyakit atau kejadian yang terjadi secara lebih mendalam.

Program Internship yang Berusia 16 Tahun

Program internship dokter, yang telah berlangsung sejak 2010, dinilai sebagai bagian dari sistem pendidikan kedokteran yang penting. Namun, Wawan menyebut bahwa setelah berjalan selama 16 tahun, banyak kejadian yang memicu kekhawatiran, termasuk empat kasus kematian para dokter internship yang terjadi di tahun 2026. “Kita merasa perlu memperhatikan kondisi mereka lebih serius karena kejadian tersebut bisa menunjukkan adanya risiko yang tidak terduga,” katanya.

“Kita melihat kalau hanya satu kasus aja kita isolasi ya itu mungkin kebetulan gitu. Tapi terjadi beberapa kasus yang kemudian kita pikir ini mesti ada satu yang kita perdalam lagi,” kata Wawan.

Dalam upaya memperbaiki sistem, Wawan menyoroti pentingnya pengawasan serta pemantauan yang lebih ketat. Ia juga memberikan contoh masalah spesifik, seperti Bantuan Biaya Hidup (BBH) yang diberikan senilai Rp3 juta per bulan. Meski angka tersebut terdengar relatif kecil, menurut Wawan, pengelolaan BBH ini dinilai tidak sebanding dengan beban kerja yang dihadapi oleh para dokter internship, yang mencapai hampir 48 jam per minggu. “Dulu, kita berpikir bahwa seorang dokter yang sedang belajar tidak perlu dibayar karena itu bagian dari proses pembelajaran. Tapi sekarang, kita perlu mengubah mindset itu agar lebih memahami kebutuhan mereka,” tambahnya.

Peran Alumni dalam Pemantauan Kualitas Pendidikan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum FIAKSI Brigjen TNI (Pur) dr. Dewi Puspitorini mengungkapkan bahwa posko ini tidak hanya melayani alumni Universitas Indonesia, tetapi juga terbuka untuk semua anggota ikatan alumni fakultas kedokteran di Indonesia. “Kita mengimbau kepada ikatan alumni untuk selalu menjaga hubungan dekat dengan anggotanya dan alumni, karena sekarang sudah mulai terjadi keterbukaan dalam melaporkan masalah,” katanya.

“Jadi kita mengimbau kepada ikatan alumni untuk selalu dekat sama anggotanya dan alumninya dan bisa melaporkan karena sekarang sudah mulai banyak keterbukaan,” kata Dewi.

Dewi menegaskan bahwa para alumni fakultas kedokteran adalah aset penting bangsa, yang akan menjadi pilar utama dalam memajukan pelayanan kesehatan di masa depan. Dengan adanya perlindungan yang baik, ia yakin para dokter internship dapat menjalani proses pembelajaran secara optimal dan tetap sehat. “Kita berharap posko ini menjadi sarana untuk mengidentifikasi masalah, memberikan solusi, dan mengawasi jalannya program internship agar tidak ada kejadian serupa yang terulang,” imbuhnya.

Dalam konteks ini, Dewi meminta kepada seluruh alumni untuk aktif berperan dalam menemani para peserta program. Ia menjelaskan bahwa peran alumni bukan hanya sekadar mendukung secara finansial, tetapi juga memberikan bimbingan psikologis serta memastikan bahwa mereka tidak merasa terisolasi selama masa pembelajaran. “Posko ini bisa menjadi wadah untuk berbagi informasi, saling mendukung, dan mengawasi keberlanjutan program,” tambahnya.

Upaya Perlindungan yang Perlu Ditingkatkan

Wawan juga menyebutkan bahwa Kementerian Kesehatan sudah melakukan respons cepat terhadap laporan-laporan yang masuk, termasuk perbaikan kebijakan terkait program internship. Meski demikian, ia menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut perlu disertai dengan pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa perubahan kebijakan benar-benar efektif. “Kami berharap adanya mekanisme pengawasan yang terstruktur, sehingga setiap masalah bisa diantisipasi sejak dini,” katanya.

Dewi menyoroti bahwa sistem internship saat ini bisa menjadi sarana untuk melatih keterampilan para dokter, tetapi juga perlu diawasi agar tidak terjadi pemborosan waktu atau tenaga. Ia memberikan contoh bahwa masalah BBH sebenarnya bisa diatasi jika ada keterbukaan dan kepedulian dari para alumni. “Kebijakan BBH yang hanya Rp3 juta per bulan terasa kurang proporsional dengan beban kerja mereka, terutama jika menghadapi kondisi yang lebih kompleks,” ujarnya.

Posko ini diharapkan menjadi titik awal dalam membangun sistem pengawasan yang lebih baik. Dengan adanya laporan yang lebih lengkap, pihak terkait bisa lebih cepat merespons masalah. Wawan menambahkan bahwa alumnus FKUI dan FIAKSI akan terus berperan dalam mengawasi jalannya program ini. “Kita juga berharap para peserta internship merasa nyaman untuk melaporkan kendala yang mereka alami, baik secara terbuka maupun secara pribadi,” pungkasnya.

Dengan adanya posko ini, para dokter internship bisa memperoleh dukungan lebih luas dari komunitas