Special Plan: Eks napi teroris kembangkan usaha makanan hasil binaan lapas
Eks Napi Teroris Kembangkan Usaha Makanan Hasil Binaan Lapas
Special Plan – Jakarta, 2025 – Setelah menghabiskan dua tahun dua bulan di dalam Lapas Khusus Sentul, Kabupaten Bogor, Jamaluddin (49) kini telah resmi bebas bersyarat. Dalam masa pemulihan, ia memanfaatkan pelatihan kewirausahaan yang diberikan selama masa binaan untuk membangun usaha makanan. Proyek ini berawal dari ide sederhana yang tercipta selama tinggal di lembaga pemasyarakatan, kini berkembang menjadi bisnis yang sukses dengan berbagai parameter penting.
Proses Pemulihan dan Kewirausahaan
Setelah memperoleh kebebasan bersyarat, Jamaluddin memulai langkah pertama untuk mengembangkan usaha yang ia pelajari di Lapas. Program deradikalisasi dan pembinaan kewirausahaan selama masa tahanan menjadi fondasi awal bagi langkah-langkahnya. Ia terutama tertarik pada teknik pembuatan nuget, yang kemudian diubah menjadi produk bernama Chicken Jepun. Konsep ini memadukan resep tradisional dengan inovasi baru, menghasilkan makanan yang menyerupai katsu tetapi memiliki ukuran lebih besar.
“Alhamdulillah, usaha ini sudah berjalan satu tahun sejak saya bebas bersyarat awal tahun 2025,” kata Jamaluddin di Jakarta, Minggu. Ia menambahkan, kesuksesan saat ini adalah hasil dari proses perlahan yang ia lalui setelah keluar dari penjara.
Pengembangan Usaha Chicken Jepun
Usaha Jamaluddin kini memiliki 13 karyawan, 7 agen distribusi, dan 50 outlet penjualan. Selain itu, produknya juga disuplai ke delapan dapur SPPG (Sarana Pengadaan Bahan Pangan Makanan) di berbagai wilayah. Setiap hari, ia memproduksi sekitar 100 kg Chicken Jepun dengan omset minimal Rp10 juta. Ini merupakan pencapaian signifikan mengingat usahanya baru berjalan setahun setelah bebas bersyarat.
Menurut Jamaluddin, target jangka pendek usahanya telah tercapai, namun ia masih berupaya meningkatkan kapasitas produksi. “Saya menargetkan produksi 500 kg per hari dalam jangka panjang, dan saat ini sedang dalam proses persiapan,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa setiap hari terasa berat, tetapi motivasi untuk membangun bisnis tetap menjadi pendorong utama.
Kisah Perjalanan dari Narapidana ke Pengusaha
Sebelumnya, Jamaluddin divonis hukuman 4 tahun penjara atas perannya dalam aksi menerobos Istana Negara. Namun, selama berada di Lapas Sentul, ia berkelakuan baik dan menyelesaikan masa hukuman hanya dalam dua tahun dua bulan. “Saya bersyukur selama di dalam lapas, ada pelatihan tentang kewirausahaan yang sangat bermanfaat,” kata Jamaluddin. Ia menekankan bahwa ilmu yang ia pelajari bukan hanya memperkuat keterampilannya, tetapi juga membantu ia kembali ke masyarakat.
Berkat pelatihan tersebut, Jamaluddin merasa lebih percaya diri untuk mengambil risiko dan memulai usahanya sendiri. Ia mengungkapkan, ketika baru saja bebas bersyarat, dirinya sempat bingung mengenai arah hidup. Tiga bulan pertama usaha ini belum stabil, bahkan kehabisan dana. Namun, perlahan ia menemukan jalan untuk mengembangkan Chicken Jepun menjadi usaha yang menghasilkan pendapatan harian.
Dukungan dan Peran BNPT
Usaha Jamaluddin masih didampingi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pengurusan BOPM (Bantuan Operasional Pemulihan Masyarakat). Dukungan ini membantu mengurangi hambatan awal dan memberikan akses ke berbagai sumber daya. “BNPT sangat aktif dalam memastikan proses pemulihan berjalan lancar,” kata Jamaluddin. Ia juga menjelaskan bahwa usahanya menjadi bukti bahwa mantan teroris bisa menjadi bagian dari masyarakat yang produktif.
Komentar dari Juri Bicara Kemenimipas
Juri bicara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), M. Akbar Hadi Prabowo, memberikan apresiasi atas upaya Jamaluddin. “Pak Jamaluddin adalah klien dari Badan Pemasyarakatan Jakarta Timur/Utara. Ia masih dalam masa bimbingan, tetapi usahanya telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa,” ujarnya. Akbar menekankan bahwa program pembinaan di Lapas tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi untuk memperkuat keterlibatan eks napi dalam masyarakat.
Keberhasilan di Acara Car Free Day
Pada hari Minggu, Jamaluddin mendapatkan kesempatan unik untuk memperkenalkan produknya dalam kegiatan Pelayanan Paspor Car Free Day (CFD) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. Ia membuka stand di acara tersebut, mengenalkan Chicken Jepun sebagai inovasi makanan yang menggabungkan tradisi dan modern. “Saya ingin menunjukkan bahwa eks napi teroris bisa berkontribusi bagi kehidupan masyarakat,” katanya. Kehadirannya di CFD diharapkan mendorong lebih banyak orang untuk melihat potensi wirausaha dari mantan narapidana.
Perjalanan Menuju Kemandirian Ekonomi
Usaha Jamaluddin tidak hanya menjadi sarana untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga sebagai bentuk perbaikan diri. “Saya merasa terbantu karena setelah di lapas, ada pelatihan yang membuat saya memahami cara mengelola bisnis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa langkah-langkah kecil seperti eksperimen membuat Chicken Jepun di rumah menjadi awal dari keberhasilan yang kini terlihat. Kini, ia memiliki kepercayaan dari pelanggan dan agen, yang membuktikan bahwa produknya diminati di pasar.
Kemajuan usaha ini juga memperlihatkan peran penting lapas dalam pembinaan keterampilan. Dengan metode pembelajaran praktis, eks napi seperti Jamaluddin diberikan kemampuan untuk beradaptasi setelah bebas. Ia berharap, dengan terus berkembang, usahanya bisa memberikan contoh bagi eks napi lainnya. “Saya ingin menunjukkan bahwa kebebasan bersyarat bukanlah akhir, tetapi awal dari perubahan yang lebih baik,” pungkas Jamaluddin.
Langkah-Langkah Peningkatan
Selain menyeles
