Latest Program: MenPPPA: Media berperan strategis cegah kekerasan terhadap perempuan

MenPPPA: Media memiliki peran penting dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan

Latest Program – Jakarta, Selasa – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Arifah Fauzi, mengungkapkan bahwa media memainkan peran kritis dalam menghentikan siklus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurutnya, selain menjadi alat penyampaian informasi, media juga harus bertransformasi menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan. “Media diminta untuk menjadi elemen penting dalam solusi, karena kekerasan tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah pribadi yang tertutup,” jelas Arifah Fauzi dalam wawancara di Jakarta. Ia menekankan bahwa media memiliki tanggung jawab untuk membentuk pola pikir masyarakat dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya melawan segala bentuk kekerasan.

Media sebagai ruang dialog dan akses perlindungan

Dalam pidatonya, Arifah Fauzi menyampaikan bahwa media harus menjadi wadah yang mendorong korban kekerasan untuk berani menyampaikan suara mereka. “Selain menyebarkan informasi, media perlu menjadi tempat nyaman bagi korban agar merasa didengar dan diperhatikan,” tambahnya. Ia juga menyoroti fungsi media dalam memudahkan masyarakat mendapatkan layanan perlindungan, termasuk konseling, pelaporan, dan bantuan hukum. “Korban dan masyarakat yang menyadari kekerasan harus memiliki kemudahan untuk melapor dan mencari solusi,” ujarnya. Menurut Arifah, keberanian mengungkapkan masalah adalah langkah awal dalam memutus rantai kekerasan, yang kemudian akan memperkuat perlindungan bagi para korban.

“Kita perlu mendengarkan suara anak dan remaja secara langsung. Mereka yang paling memahami persoalan yang mereka hadapi saat ini,” kata Arifah Fauzi.

Dalam konteks ini, MenPPPA meminta media tidak hanya menyebarkan berita, tetapi juga merangkul peran pendidik dan penginspirator. Ia mencontohkan bahwa konten yang mengangkat kisah korban kekerasan dari berbagai lapisan masyarakat dapat membangun empati dan kesadaran bersama. “Media bisa menjadi katalis perubahan sosial, asalkan mampu menyajikan narasi yang seimbang dan memperkuat nilai-nilai keadilan serta kesetaraan,” tambahnya. Arifah berharap kehadiran media yang konsisten dalam isu kekerasan bisa memicu respons cepat dari seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga-lembaga pendidikan, keluarga, dan komunitas lokal.

Peran media dalam membentuk budaya menolak kekerasan

Arifah Fauzi menegaskan bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan anak. “Media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk opini dan norma sosial. Karena itu, perlu diarahkan agar mendorong kebiasaan menolak kekerasan,” katanya. Ia menyoroti bahwa tayangan atau artikel yang menggambarkan dampak kekerasan secara langsung dapat memengaruhi pola perilaku dan kesadaran publik. “Konten yang disampaikan harus mengundang refleksi, serta memicu perubahan pola pikir terhadap gender dan hak asasi manusia,” tambah MenPPPA.

Melalui media, kekerasan bisa dianggap sebagai permasalahan yang bersifat universal, bukan sekadar urusan pribadi. “Kita ingin menciptakan kesadaran bahwa kekerasan bisa terjadi di mana pun, dan seluruh lapisan masyarakat harus siap menanggapi keberadaannya,” ujarnya. Arifah menekankan bahwa peran media dalam menyebarkan kesadaran ini sangat strategis, terutama untuk mencegah kekerasan sejak dini. “Dengan media yang proaktif, kita bisa mengubah stigma, mengungkap kebenaran, dan membangun kepercayaan pada sistem perlindungan,” tambahnya.

“Kekerasan merupakan masalah bersama yang harus mendapatkan perhatian seluruh elemen masyarakat agar dapat dicegah secara optimal,” kata Arifah Fauzi.

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, MenPPPA mengusulkan kolaborasi antara media, lembaga pendidikan, dan organisasi kemanusiaan. “Media bisa menjadi jembatan antara korban dan layanan yang tersedia, termasuk dalam pemulihan dan penguatan kemandirian perempuan dan anak,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa peran media harus mencakup pendidikan kepada anak-anak dan remaja, agar mereka mampu mengenali tindakan kekerasan dan bersikap tegas terhadapnya. “Anak-anak membutuhkan ruang untuk berbicara, termasuk mengekspresikan kekhawatiran mereka tentang masalah seperti perceraian, pelecehan, dan kurangnya perlindungan diri,” jelas Arifah Fauzi.

Strategi media untuk mencapai keterlibatan masyarakat

MenPPPA Arifah Fauzi mengajak media untuk merancang program yang lebih terlibat dengan anak dan remaja. “Kita perlu melibatkan mereka sebagai subjek utama dalam berbagai inisiatif pencegahan kekerasan,” katanya. Ia mencontohkan bahwa media dapat membuat program edukasi berbasis cerita, diskusi interaktif, atau kolaborasi dengan pelajar untuk menyampaikan perspektif mereka. “Konten yang dihasilkan harus relevan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak, termasuk tantangan dalam pergaulan, kesehatan mental, dan akses layanan perlindungan,” tambahnya.

Dalam rangka menghadirkan ruang dialog yang lebih inklusif, Arifah Fauzi menekankan pentingnya media menyediakan platform bagi anak-anak dan remaja untuk menyampaikan aspirasi serta solusi mereka. “Karena mereka adalah generasi penerus, keberhasilan pencegahan kekerasan bergantung pada bagaimana mereka dipandu dan didorong untuk berpikir kritis,” jelasnya. Menurut MenPPPA, media yang konsisten menampilkan narasi kekerasan juga bisa memperkuat tindakan preventif dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Arifah Fauzi menambahkan bahwa media bisa berperan sebagai pengingat dan pelaku perubahan melalui inovasi dalam penyampaian informasi. “Konten yang menyenangkan dan mudah diakses akan meningkatkan daya tarik dan efektivitas sosialisasi kekerasan,” katanya. Ia berharap media tidak hanya fokus pada berita tentang kekerasan, tetapi juga menyediakan informasi terkait perlindungan h