Adus Salam – menyembelih hingga ke Brunei

Adus Salam, menyembelih hingga ke Brunei

Adus Salam – Jakarta, Antaranews – Adus Salam, seorang juru sembelih halal yang berasal dari Lenteng Agung, Jakarta Selatan, membagikan pandangannya tentang pentingnya proses penyembelihan hewan yang sesuai syariat Islam. Ia menekankan bahwa penyembelihan tidak hanya tentang kehalalan, tetapi juga mengandung prinsip ihsan, yaitu kerendahan hati dan kelembutan dalam menangani hewan. Menurutnya, cara penyembelihan yang baik harus memperhatikan kenyamanan dan kesejahteraan binatang sebelumnya, serta menghindari kekerasan yang berlebihan.

Warisan dari Orang Tua dan Pendidikan Berkelanjutan

Adus Salam menjabat sebagai Penasehat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Juru Sembelih Halal (Juleha) Jakarta Selatan. Organisasi ini didirikan pada tahun 2016 dan telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak 2017. Profesinya bukanlah hal baru, karena ia mengaku memulai perjalanan ini sejak usia dini. Kedua orang tuanya juga berprofesi sebagai juru sembelih, sehingga ia terpapar secara langsung pada proses tersebut sejak kecil.

“Dari kecil saya sudah melihat proses penyembelihan, lalu ikut-ikutan mencontoh orang tua, meski saat itu belum terarah. Sampai akhirnya saya bertemu dengan organisasi Juleha Indonesia,” ujarnya.

Seiring waktu, kecintaannya pada bidang ini berkembang menjadi keahlian yang terukur. Dalam berbagai pelatihan dan pengalaman langsung, ia memahami bahwa penyembelihan hewan bukan sekadar tugas teknis, tetapi juga bentuk keimanan dan kepedulian terhadap kehidupan makhluk Allah. Ia menjelaskan bahwa konsep ihsan dalam penyembelihan mencakup nilai-nilai kasih sayang, kesopanan, serta penjagaan terhadap kesejahteraan binatang. Hal ini menjadi dasar utama bagi profesi yang dijalani sekarang.

Pengalaman di Brunei Darussalam: Menembus Batas Negara

Adus Salam pernah menorehkan kaki di luar negeri. Pada 2021, ia diberikan kesempatan untuk bekerja di Brunei Darussalam setelah diundang oleh seorang ahli ternama di sana. Dalam seleksi yang melibatkan 80 peserta, ia berhasil menjadi salah satu dari empat orang yang dipilih untuk tugas khusus. Kedatangannya ke Brunei bertujuan untuk mendukung acara Idul Adha, di mana kebutuhan tenaga ahli di bidang penyembelihan hewan terasa kurang.

Dalam dua tahun berada di sana, Adus mengalami pengalaman yang berharga. Ia belajar cara penyembelihan yang lebih profesional, cepat, aman, dan memperhatikan kesejahteraan hewan secara menyeluruh. Keberhasilannya di Brunei membuktikan bahwa kompetensi dan ketelatenan dalam profesi ini bisa diakui di tingkat internasional. Namun, ia tidak pernah lupa akan peran yang dimilikinya di tanah air.

“Saya diseleksi dari 80 orang, lalu terpilih empat orang. Alhamdulillah lulus dan terbang ke Brunei. Kami khusus dipekerjakan untuk Idul Adha di sana. Memang Brunei masih kekurangan tenaga terampil di bidang penyembelihan,” ujarnya.

Pengalaman luar negeri menjadi ajang untuk melatih konsistensi dan ketekunan. Adus mengatakan bahwa bekerja di Brunei mengasah keterampilannya dalam menghadapi berbagai kondisi, baik secara teknis maupun budaya. Ia juga merasa bahwa keberadaannya di sana membawa dampak positif, terutama dalam memperkenalkan standar penyembelihan halal yang lebih tinggi ke masyarakat setempat.

Kembali ke Tanah Air: Berbagi Ilmu dan Memperkuat Komitmen

Pada 2023, setelah kontrak kerjanya di Brunei selesai, Adus memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Keputusan ini didasari keinginan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman yang didapat selama dua tahun di luar negeri. Ia merasa bahwa langkah ini bisa memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat lokal, terutama dalam memperkaya praktik penyembelihan di tanah air.

Dalam pidatonya, Adus menegaskan bahwa kembali ke Indonesia bukan berarti meninggalkan pengalaman internasional. Sebaliknya, ia berharap bisa memperkuat keahlian yang dimiliki, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam memajukan standar halal di lingkungan yang lebih luas. “Saya ingin mengajarkan cara penyembelihan yang tidak hanya benar secara syariat, tetapi juga efisien dan penuh empati,” tambahnya.

Adus juga menyebutkan bahwa keberhasilannya di Brunei memberikan semangat baru untuk terus berkembang dalam bidang ini. Ia berharap bahwa keahlian yang ia bawa kembali bisa memperkaya kurikulum pelatihan Juleha Indonesia, sekaligus mendorong lebih banyak anggota untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, ia juga ingin menginspirasi generasi muda untuk menghargai dan memahami pentingnya proses penyembelihan yang baik.

Dalam perjalanan kariernya, Adus Salam menunjukkan bahwa profesi penyembelih hewan bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk kesadaran akan nilai-nilai keimanan dan kepedulian terhadap makhluk hidup. Ia berharap bahwa kisahnya bisa menjadi contoh bahwa ilmu tradisional bisa berkembang menjadi alat yang relevan di tingkat global. Dengan memadukan prinsip lokal dan pendekatan modern, Adus yakin bahwa penyembelihan hewan dapat menjadi bagian dari identitas nasional yang utuh dan bermartabat.