Official Announcement: Harga solar turun di SPBU Pertamina mulai 1 Juni

Harga Solar Turun di SPBU Pertamina Mulai 1 Juni

Official Announcement – Jakarta, 31 Mei – Perusahaan pelat merah Pertamina (Persero) merilis informasi mengenai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis solar, seperti Pertamina Dex dan Dexlite, yang berlaku efektif 1 Juni 2026. Pengumuman ini disampaikan setelah analisis terhadap dinamika harga pasar global serta kebijakan subsidi yang diterapkan pemerintah. Penyesuaian harga ini memengaruhi konsumen yang menggunakan BBM solar di berbagai daerah, termasuk Jabodetabek.

Penurunan Harga untuk Pertamina Dex dan Dexlite

Pertamina Dex Series, yang termasuk jenis solar seperti Dexlite (CN 51) dan Pertamina Dex (CN 53), mengalami penurunan harga. Dexlite, yang sebelumnya dijual dengan harga Rp26.000 per liter pada bulan Mei, kini diturunkan menjadi Rp23.000 per liter mulai 1 Juni 2026. Sementara itu, Pertamina Dex juga mengalami penyesuaian, turun dari Rp27.900 per liter menjadi Rp24.800 per liter. Perubahan ini mencerminkan kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan harga BBM berdasarkan fluktuasi biaya produksi dan harga internasional.

Kenaikan harga untuk Pertamax Turbo (RON 98) menjadi sorotan karena kebalikan dari penurunan solar. Harga Pertamax Turbo naik dari Rp19.900 per liter menjadi Rp20.750 per liter. Perubahan ini berdampak pada pengguna mobil yang memprioritaskan bahan bakar beroktan tinggi, terutama di kota-kota besar dengan kemacetan lalu lintas yang membutuhkan efisiensi bahan bakar.

Selain itu, Pertamina masih menetapkan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) di level Rp12.300 per liter serta Rp12.900 per liter, masing-masing. Kedua BBM ini tidak mengalami perubahan harga sejak Maret 2026, sebelum perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Kestabilan harga ini didasarkan pada evaluasi kinerja pasar serta kebutuhan konsumen yang terus membutuhkan bahan bakar umum.

Kebijakan Subsidi dan Harga Penugasan

Bagi pengguna BBM subsidi, harga Pertalite dan Biosolar tetap konsisten. Pertalite dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sementara Biosolar berada di Rp6.800 per liter. Perubahan harga ini tidak terjadi karena pengaruh kebijakan global, melainkan karena Pertamina mempertahankan stabilisasi biaya untuk menjaga aksesibilitas bahan bakar bagi masyarakat umum.

Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga tersebut dilakukan dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020. Kepmen ini mengatur rumus perhitungan harga dasar untuk menentukan harga jual eceran bahan bakar minyak umum, baik bensin maupun solar.

“Keputusan ini mengatur tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum,” demikian penjelasan Pertamina.

Dengan adanya Kepmen tersebut, Pertamina dapat menyesuaikan harga BBM sesuai dengan kondisi pasar, tanpa mengorbankan kebijakan subsidi yang berlaku. Penyesuaian ini juga memperhatikan kebutuhan masyarakat terutama di daerah-daerah dengan tingkat inflasi yang berbeda, sehingga distribusi bahan bakar bisa lebih merata.

Perubahan Harga dan Dampak terhadap Konsumen

Perubahan harga BBM solar dan Pertamax Turbo memberikan dampak langsung terhadap pengguna mobil. Untuk pengguna solar, penghematan sebesar Rp3.000 per liter untuk Dexlite dan Rp3.100 per liter untuk Pertamina Dex dapat mengurangi beban biaya operasional kendaraan. Namun, kenaikan Pertamax Turbo mungkin membuat pengguna mobil dengan mesin yang membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi mengalami peningkatan pengeluaran.

Sebagai penyesuaian harga, Pertamina juga mempertimbangkan kestabilan ekonomi nasional. Harga bahan bakar yang terkendali membantu menekan inflasi di sektor transportasi, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat daya beli masyarakat. Dengan demikian, penyesuaian ini tidak hanya berdasarkan faktor internasional, tetapi juga terkait kebijakan domestik dalam memastikan keseimbangan antara subsidi dan biaya produksi.

Penyesuaian harga BBM ini juga mencerminkan adaptasi Pertamina terhadap perubahan kebijakan energi. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini terus menyesuaikan harga bahan bakar sesuai dengan formula yang ditetapkan, sehingga konsumen dapat merasakan perubahan yang lebih responsif terhadap kondisi pasar. Hal ini menjadi wujud komitmen Pertamina dalam menjaga kualitas layanan dan keterjangkauan bahan bakar bagi seluruh lapisan masyarakat.

Analisis Perbandingan Wilayah dan Jenis BBM

Wilayah Jabodetabek menjadi salah satu daerah yang mengalami penurunan harga solar. Perubahan ini berdampak pada penggunaan kendaraan pribadi, bisnis transportasi, serta kegiatan ekonomi yang bergantung pada penggunaan bahan bakar. Dalam konteks ini, kebijakan Pertamina untuk menurunkan