Key Discussion: Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara pembinaan dan harapan

Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara Pembinaan dan Harapan

Key Discussion – Setelah menghabiskan hampir setahun di dalam Lapas Kelas I Tangerang, Banten, Serbau Bin Herman, yang akrab disapa Abu, kini tinggal tiga bulan lagi sebelum diperbolehkan kembali ke dunia luar. Penganiayaan berat yang menjadi alasan ia dihukum 12 tahun penjara telah memberinya pengalaman baru dalam menjalani pembinaan di balik jeruji besi. Meski sebelumnya terlihat tertutup saat membicarakan detail kasusnya, Abu kini lebih terbuka dalam berbagi cerita tentang kegiatan yang dilakukannya sehari-hari.

Mandor dalam Program Jawara Beton

Sebagai bagian dari program “Jawara Beton”, Abu kini diberi tugas sebagai mandor di bagian perakitan besi. Ia bersama sembilan warga binaan lainnya diharuskan menghasilkan produk konstruksi secara berkala. Peran ini diambil karena keahlian konstruksinya sebelum masuk ke penjara, yang sekarang dianggap bermanfaat dalam pengembangan kegiatan di dalam lapas. Dalam enam bulan terakhir, tim yang dipimpin Abu mampu menghasilkan hingga 100 unit besi per hari, menjadikannya salah satu warga binaan yang produktif di lingkungan penjara.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 17.30 WIB, dengan jeda istirahat di tengah hari. Waktu kerja yang padat ini memberinya kesan berbeda dibandingkan kegiatan pembinaan sebelumnya. Sebelumnya, Abu mengikuti pembinaan pertanian, tetapi ia merasa kurang terpacu karena jadwal yang tidak teratur. Program konstruksi, di sisi lain, membuat rutinitasnya lebih terstruktur dan bermakna.

Manfaat Finansial dan Keterampilan

Bukan hanya keterampilan yang didapat, Abu juga menikmati manfaat finansial melalui premi bulanan yang diberikan. Setiap bulan, ia menerima penghargaan sebesar Rp800 ribu sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya. Dari jumlah tersebut, ia mengalokasikan sebagian untuk ditabung, dan dalam waktu enam bulan, tabungannya telah mencapai Rp2 juta. Uang ini menjadi modal awal bagi rencananya mengembangkan hidup baru setelah bebas.

Abu menjelaskan bahwa program ini membantu mengisi waktu sehari-hari dengan tugas yang membangun. “Sebelumnya, saya merasa kegiatan pertanian kurang menguji kemampuan, tapi kini ini lebih dinamis,” kata dia. Ia menilai bahwa dengan adanya program Jawara Beton, warga binaan bisa membangun identitas baru sekaligus mengurangi kebosanan di dalam lapas. Kegiatan ini juga memberinya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan rekan-rekan sejawat, memperkuat rasa tanggung jawab bersama.

Rencana Reintegrasi dan Harapan

Meski sudah menyiapkan rencana reintegrasi ke masyarakat, Abu masih berharap bisa diberi kesempatan untuk melanjutkan kerja sama sebagai mitra pemasyarakatan setelah bebas. Ia ingin memperluas keahliannya dalam konstruksi untuk membangun usaha kecil atau ikut serta dalam proyek pascapenjara. “Saya ingin menerapkan pengalaman di sini dalam kehidupan setelah keluar,” tambahnya.

Program Jawara Beton, menurut Abu, bukan hanya ajang pembelajaran teknis, tetapi juga menjadi sarana untuk mengubah pola pikir terhadap kehidupan. Dengan aktivitas yang produktif, ia merasa lebih terarah dan mampu mengatasi rasa putus asa. “Saya merasa lebih termotivasi karena setiap hari ada tujuan yang jelas,” ujarnya. Selain itu, ia juga menikmati hubungan sosial yang terjalin dengan teman-teman warga binaan, yang kini terlihat lebih solid dan saling mendukung.

Kontribusi Terhadap Pemasyarakatan

Program Jawara Beton dirancang sebagai bagian dari upaya pemasyarakatan yang menekankan keterampilan kerja dan disiplin. Abu menilai bahwa kehadiran program ini memberi dampak nyata bagi warga binaan. “Dulu saya hanya bermalasan di dalam lapas, kini saya bisa berkontribusi dengan tangan sendiri,” katanya. Hal ini membantu mengurangi rasa jenuh dan memberinya rasa percaya diri yang lebih tinggi.

Abu juga menyadari bahwa pengalaman di dalam lapas bisa menjadi fondasi untuk kehidupan di luar. Dengan keterampilan teknis dan tabungan, ia yakin bisa memulai usaha sederhana setelah bebas. “Saya berharap program ini bisa berlanjut setelah saya keluar, agar saya tetap terlibat dalam pembinaan warga binaan lainnya,” katanya. Harapan ini mencerminkan semangat perubahan yang ingin ia bawa ke masyarakat luar.

Sebagai warga binaan yang aktif, Abu berharap institusi pemasyarakatan bisa terus mengembangkan program serupa, agar lebih banyak orang bisa memperoleh peluang baru. “Program ini membantu mengubah mindset, dari sekadar penjara menjadi tempat belajar dan berkembang,” ujarnya. Ia berkeyakinan bahwa keahlian dan premi yang diperoleh akan menjadi bekal yang baik untuk menghadapi tantangan kehidupan di luar.

“Program Jawara Beton ini bagus menurut saya. Warga binaan jadi punya kegiatan di dalam lapas, sehingga tidak jenuh,” ujar Abu saat ditemui di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).

Dalam perjalanan reintegrasinya, Abu menyebutkan bahwa ia ingin menunjukkan bahwa penjara bukanlah akhir dari segala hal, melainkan awal dari perubahan. Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi warga binaan lainnya, membuktikan bahwa dengan kerja keras dan kesempatan yang tepat, seseorang bisa kembali menjadi produktif dan bermakna bagi masyarakat. “Saya percaya, setelah bebas, saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan pembuat masalah,” pungkas Abu.