Key Discussion: Wamendagri minta PIKI harus beri pengaruh bagi kebijakan publik
Wamendagri Minta PIKI Berdampak Nyata dalam Penyusunan Kebijakan Publik
Key Discussion – Di Jakarta, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mengingatkan bahwa Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) harus menjadi lembaga yang mampu memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk kebijakan publik. Ia menekankan bahwa organisasi ini perlu menciptakan dampak yang berkelanjutan, bukan hanya bersifat sementara. “Kami mengharapkan PIKI bisa bersinar di wilayah ini, memberikan pengaruh terhadap penyusunan kebijakan, serta meninggalkan legacy yang dapat bertahan selama beberapa tahun ke depan,” kata Ribka dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta. Menurutnya, keberhasilan PIKI tidak hanya bergantung pada aktivitas rutin, tetapi juga pada kemampuan organisasi ini untuk menghasilkan gagasan, kader, dan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pengaruh yang Berdampak Luas
Ribka berpendapat bahwa keanggotaan dalam PIKI bukan sekadar kehormatan, tetapi juga tanggung jawab besar. “Ketika seseorang bergabung dalam organisasi ini, ia harus siap membawa perubahan. Saya ingin PIKI menjadi platform yang mampu memengaruhi kebijakan,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia menggarisbawahi pentingnya PIKI tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menjadi pengambil inisiatif dalam menciptakan solusi untuk masalah yang dihadapi bangsa. Kebijakan yang dihasilkan dari lembaga ini, menurutnya, harus memiliki relevansi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang.
“Kami ingin PIKI juga bisa masuk di wilayah ini, bisa mempengaruhi kebijakan. Ada sesuatu legasi yang akan harus kita tinggalkan untuk lima tahun dan bahkan seterusnya,” kata Ribka dalam keterangan diterima di Jakarta.
Menurut Ribka, salah satu tantangan utama yang dihadapi PIKI adalah kurangnya fokus pada isu-isu kritis yang relevan dengan masyarakat. “Kami menginginkan PIKI menjadi penyelesaian masalah, bukan hanya menjadi kegiatan formal atau seremonial,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa organisasi tersebut harus mampu membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan ide-ide inovatif, serta menciptakan kader-kader yang kompeten dalam memimpin perubahan di tingkat lokal dan nasional.
PIKI sebagai Mitra Kebijakan
Di sisi lain, Maruarar Sirait, Ketua Umum PIKI, menyampaikan bahwa organisasi ini perlu terus berupaya memperluas jaringan pengaruhnya di berbagai wilayah Indonesia. Dalam rapat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PIKI yang diadakan di Jakarta pada Sabtu (6/6), ia meminta Ribka Haluk untuk membantu mengidentifikasi tokoh-tokoh potensial di Indonesia timur yang memiliki integritas dan komitmen kuat terhadap peningkatan kualitas kebijakan. “Ketepatan dalam memilih sumber daya manusia yang menjalankan visi dan misi PIKI akan menentukan keberhasilan organisasi ini,” ujarnya dengan nama akrab Ara.
Menurut Ara, kemiskinan adalah isu utama yang harus diperhatikan oleh PIKI. Ia menuturkan bahwa akademisi, profesional, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya yang tergabung dalam organisasi ini harus bersama-sama melahirkan konsep kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan bangsa. “Kami perlu menghasilkan rekomendasi yang bisa diterapkan, baik di tingkat pemerintah daerah maupun pusat,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa PIKI tidak hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang mengarah pada perubahan nyata.
“Jadi, tolong pilih orang-orang yang memang bisa menjalankan visi-misi PIKI ini,” kata Ara, sapaan akrabnya.
Ribka Haluk menambahkan bahwa keterlibatan para intelektual dan profesional dalam PIKI sangat penting untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis. “Kami menginginkan PIKI menjadi lembaga yang aktif dalam membangun sistem kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi ini tergantung pada kemampuan anggotanya untuk berkolaborasi secara efektif dengan pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan kebijakan. Dengan demikian, PIKI harus menjadi penggerak utama dalam menciptakan solusi yang bertahan lama.
Peran PIKI dalam Pengembangan Kebijakan
Kebijakan publik yang berkualitas membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk lembaga seperti PIKI. Ribka Haluk menekankan bahwa keberadaan PIKI dapat menjadi pendorong utama dalam menciptakan kebijakan yang mampu menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, dan politik. “Kami berharap PIKI bisa menjadi mitra pemerintah dalam menyelesaikan berbagai isu yang kompleks,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa organisasi ini perlu memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan data dan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat memberikan rekomendasi yang tepat waktu.
Menurut Ribka, tugas PIKI bukan hanya menghasilkan ide, tetapi juga memastikan ide tersebut diimplementasikan dengan baik. “PIKI harus mampu mengubah gagasan menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak langsung,” jelasnya. Dalam hal ini, lembaga tersebut perlu terus memperkuat jaringan kerja dengan institusi pemerintah, organisasi masyarakat, serta lembaga-lembaga internasional. “Kami juga ingin PIKI menjadi lembaga yang mampu berinteraksi dengan dunia internasional, sehingga dapat memperoleh wawasan yang lebih luas dalam menyusun kebijakan,” imbuhnya.
Ketua Umum PIKI Maruarar Sirait menyatakan bahwa keberhasilan organisasi tidak bisa dicapai tanpa keterlibatan aktif dari anggotanya. “PIKI harus menjadi ruang yang mendorong kreativitas dan kolaborasi, bukan hanya tempat berkumpul untuk rutinitas,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa PIKI perlu memperhatikan kebutuhan daerah-daerah yang belum terlayani dengan baik, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya mencakup Jakarta atau kota-kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah ter
