IHSG turun 4,5 persen – tertekan kombinasi sentimen domestik dan global
IHSG Turun 4,5 Persen, Tertekan Kombinasi Sentimen Domestik dan Global
IHSG turun 4 5 persen – Pada Senin sore, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir pada level 5.342,14 dengan penurunan sebesar 252,63 poin atau 4,52 persen. Indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, juga mengalami penurunan 30,67 poin atau 5,50 persen hingga 527,08. Pergerakan ini terjadi dalam lingkungan sentimen negatif yang dipengaruhi oleh tekanan dari faktor lokal dan internasional.
Faktor Penyebab Penurunan IHSG
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif yang berasal dari dua arah. Di sisi domestik, kepercayaan investor mengalami penurunan akibat ketidakpastian ekonomi dalam negeri. Di sisi global, ketegangan antara Iran dan Israel yang semakin memuncak berpotensi mengganggu gencatan senjata yang sudah terjalin, sehingga menghantam pasar keuangan.
“Tekanan jual terus berlangsung karena kombinasi faktor negatif dari dalam negeri dan luar negeri,” kata Ratna dalam kajian di Jakarta, Senin.
Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak mentah lebih dari empat persen, yang berdampak pada kenaikan risiko inflasi. Kenaikan harga energi juga berpotensi memperburuk defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026, mengingat biaya bahan bakar yang meningkat memengaruhi belanja pemerintah.
Dampak Geopolitik Global
Ketegangan antara Iran dan Israel menjadi faktor utama yang menggerus kepercayaan pasar. Serangan silang antara kedua negara memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang secara langsung memengaruhi harga komoditas global. Hal ini mendorong ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed akan bersikap hawkish di sepanjang tahun ini, dengan kemungkinan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Geopolitik tersebut tidak hanya memengaruhi pasar minyak, tetapi juga mengubah arah pergerakan saham sektor teknologi. Pada sesi perdagangan, saham-saham teknologi mengalami koreksi signifikan, yang berdampak pada kestabilan bursa Asia. Sebagai contoh, Indeks Nikkei turun 2.492,12 poin atau 3,74 persen ke 64.096,00, sementara Indeks Shanghai bergerak turun 68,40 poin atau 1,70 persen ke 3.959,34.
Kinerja Saham dan Sektor Utama
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham mengalami pergerakan berbeda. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua sektor mengalami penurunan. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terdampak dengan penurunan 6,47 persen, diikuti oleh sektor industri (6,00 persen) dan sektor transportasi & logistik (5,43 persen). Sebaliknya, beberapa saham seperti GRIA, FORU, ASPR, TPIA, dan PSDN mencatatkan kenaikan, meski kenaikan tersebut relatif lebih kecil dibandingkan kejatuhan sektor lain.
Sejumlah saham juga mengalami pelemahan signifikan. ENAK, PTSN, GPSO, TNCA, dan ANJT menjadi saham yang paling turun. Perubahan ini menunjukkan ketidakseimbangan antara sektor yang terpengaruh oleh faktor eksternal dan sektor yang masih bisa bertahan di tengah tekanan.
Frekuensi Perdagangan dan Aktivitas Pasar
Pada hari perdagangan Senin, frekuensi transaksi saham mencapai 2.215.560 kali dengan volume mencapai 32,52 miliar lembar saham. Total nilai transaksi mencapai Rp21,74 triliun, menunjukkan tingkat aktivitas yang cukup tinggi meski arahnya menuju penurunan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 78 saham mengalami kenaikan, 661 saham menurun, dan 771 saham tidak bergerak.
Kinerja IHSG terus berada di zona negatif hingga akhir sesi perdagangan. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa investor lebih cenderung mengambil posisi jual, terutama setelah melihat kejatuhan pasar saham Asia yang sebelumnya dipicu oleh tekanan Wall Street. Pada sesi pertama, IHSG juga membuka dengan penurunan, menjaga posisi negatif hingga akhir hari.
Potensi Pergerakan IHSG
Ratna Lim menambahkan bahwa IHSG berpotensi menguji level 5.100 dalam beberapa hari ke depan. “Analisis teknis menunjukkan bahwa penurunan lebih lanjut masih mungkin terjadi jika tekanan eksternal tidak berkurang,” ujarnya. Kombinasi dari risiko inflasi, kebijakan moneter hawkish, serta ketegangan geopolitik dinilai sebagai faktor utama yang akan memengaruhi pasar selama beberapa waktu.
Kondisi ini juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset berisiko. Tidak hanya IHSG, sejumlah bursa saham regional seperti Hang Seng dan Straits Times juga turut mengalami penurunan. Hang Seng bergerak turun 304,89 poin atau 1,22 persen ke 24.657,06, sementara Straits Times melemah 83,49 poin atau 1,65 persen ke 4.963,67. Pergerakan serupa terjadi di berbagai bursa, mencerminkan ketergantungan pasar global terhadap keadaan politik dan ekonomi.
Analisis Pasar dan Prospek
Dalam kajian lebih lanjut, Ratna menggarisb
