Latest Program: Film Mania Dunia Nia ikut final Inspiring Asia Micro Film Festival
Film Pendek “Mania Dunia Nia” Karya Januar dan Yosafat Ikuti Final Festival Film Asia
Latest Program – Jakarta, 4 April 2025 – Karya pendek berjudul “Mania Dunia Nia” yang ditulis oleh Januar David Ciu dan Yosafat Prasetya berhasil meraih Juara Pertama dalam ajang Inspiring Asia Micro Film Festival #InspiringIndonesia 2025. Film ini kini menjadi representasi Indonesia di babak final festival internasional yang diadakan di Singapura. Penghargaan ini bukan hanya pengakuan terhadap kualitas karya, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan isu-isu sosial yang relevan dengan generasi muda.
Mengangkat Isu Kesehatan Mental dan Tekanan Sosial
Januar David Ciu, salah satu pembuat film, menjelaskan bahwa inspirasi dari karya tersebut berasal dari pengalaman sehari-hari. Ia pernah mendengar cerita dari temannya yang ingin berkonseling dengan psikolog kampus, namun jadwal konseling terbilang padat hingga satu atau dua bulan. “Situasi itu membuatku menyadari bahwa banyak orang mengalami masalah psikologis, meski sering tidak terlihat oleh orang lain,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.
“Aku pernah dengar cerita dari temanku yang mau konseling dengan psikolog kampus, tapi jadwalnya penuh sampai satu atau dua bulan. Dari situ aku sadar, ternyata banyak orang sedang menghadapi persoalan psikologis, hanya saja sering tidak terlihat,”
Januar menambahkan bahwa film ini berfokus pada pengalaman mental mahasiswa yang sering diabaikan. “Masalah kesehatan mental dan tekanan sosial menjadi topik yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang begitu cepat,” katanya. Pemilihan tema ini dianggap tepat karena menggambarkan realitas yang sedang terjadi di kalangan generasi muda.
Collaboration Between Real Life and Artistic Expression
Yosafat Prasetya, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, yang juga terlibat dalam pembuatan film, menekankan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan kisah. “Cerita yang autentik seringkali menjadi kekuatan utama sebuah karya. Jangan memaksakan tema yang jauh dari pengalaman pribadi, tapi cari isu yang dekat dan spesifik, lalu temukan cara visual yang unik untuk menyalurkannya,” jelas Yosafat. Ia menilai, pendekatan ini membuat karya mereka lebih mudah dipahami oleh penonton.
“Tidak perlu memaksakan tema yang jauh dari diri kita. Cari isu yang dekat dan spesifik, lalu temukan cara visual yang unik untuk menyampaikannya,”
Menurut Yosafat, film ini mampu mencuri perhatian karena menggambarkan pengalaman manusia yang nyata. “Kadang kita merasa cerita kita terlalu kecil, padahal cerita yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari justru paling mudah dihayati oleh banyak orang,” imbuhnya. Keduanya bersepakat untuk mengangkat isu-isu seperti rasa lelah, tekanan sosial, dan kesepian yang sering dialami oleh mahasiswa di tengah kehidupan yang serba cepat.
Sebagai karya yang menggabungkan kehidupan nyata dan imajinasi, “Mania Dunia Nia” dianggap mampu menggambarkan perubahan sosial melalui perspektif individu. Januar dan Yosafat berharap film ini bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di kalangan akademik. “Kita perlu mengenali bahwa masalah psikologis bukan hanya milik orang dewasa, tapi juga terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa,” katanya.
Mekanisme Community Vetting dan Tujuan Festival
Sebagai bagian dari Inspiring Asia Micro Film Festival, acara ini dirancang sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan seni, aksi sosial, dan partisipasi publik. Salah satu mekanisme khas dalam festival ini adalah community vetting, di mana masyarakat turut serta menilai karya-karya yang dianggap paling relevan dan berdampak. Dengan metode ini, peserta tidak hanya berkompetisi dalam hal teknik sinematik, tetapi juga dalam kemampuan menyampaikan pesan sosial secara efektif.
Januar dan Yosafat menjelaskan bahwa film mereka adalah hasil dari pengalaman pribadi dan diskusi antar rekan sejawat. “Kita memutuskan untuk memperlihatkan bagaimana dunia digital memengaruhi mental mahasiswa, terutama dalam menghadapi tekanan dari lingkungan sosial,” kata Januar. Kedua pembuat film ini berharap karya mereka dapat menjadi perwakilan Indonesia yang kuat di tingkat regional.
Sebagai festival film tingkat Asia, Inspiring Asia Micro Film Festival menghadirkan berbagai karya dari komunitas lokal hingga internasional. Festival ini didukung oleh organisasi seperti Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good. Melalui kemitraan ini, film-film yang diproduksi tidak hanya berfokus pada kualitas teknis, tetapi juga pada kemampuannya untuk menyentuh masyarakat dan memicu perubahan.
Persiapan untuk Grand Final di Manila
Dalam rangkaian acara, karya dari Indonesia akan melaju ke babak Grand Final di Manila, Filipina. Januar dan Yosafat mengatakan bahwa langkah ini memberikan motivasi untuk terus berkarya. “Kami berharap film ini bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan isu kesehatan mental kepada lebih banyak orang,” ujarnya. Di sisi lain, Yosafat menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam memilih karya yang berdampak.
Tidak hanya sebagai ajang kompetisi, Inspiring Asia Micro Film Festival juga bertujuan untuk membangun komunitas kreatif yang saling mendukung. Pemilihan finalis berdasarkan keterlibatan publik dan dampak sosial yang nyata membuat festival ini berbeda dari acara lain. Dalam penyelenggaraannya, karya-karya yang diunggah diberi kesempatan untuk dilihat oleh audiens luas, baik melalui platform daring maupun media tradisional.
Januar dan Yosafat menjelaskan bahwa proses kreatif film ini terbilang menantang. “Kita perlu menemukan cara untuk menyampaikan cerita secara visual tanpa kehilangan makna psikologisnya,” katanya. Dalam keterlibatan dengan audiens, mereka menggambarkan bagaimana keterbukaan dan kejujuran dalam bercerita bisa menjadi penyeimbang di tengah kehidupan yang serba cepat dan sibuk.
Sebagai bagian dari rangkaian festival tahunan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia akan menjadi panggung bagi karya-karya yang memperlihatkan perubahan sosial dari berbagai komunitas. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp325 juta untuk tingkat nasional. Para finalis dari Indonesia akan berkompetisi dengan peserta dari negara-negara Asia lainnya di Grand Final, yang diadakan di Manila, Filipina. Kedua pembuat film ini yakin bahwa karya mereka mampu membangkitkan kesadaran kolektif tentang isu kesehatan mental dan sosial yang sering terabaikan.
