PKB jadi ruang inklusif bagi siswa SLB se-Bali untuk berkarya
PKB jadi ruang inklusif bagi siswa SLB se-Bali untuk berkarya
Dipublikasikan oleh Rita Laura/Satrio Giri Marwanto/Ludmila Yusufin Diah Nastiti
PKB jadi ruang inklusif bagi siswa – Di tengah rangkaian acara Pesta Kesenian Bali, sebuah ruang khusus telah terbuka bagi para pelajar dengan kebutuhan khusus. Jumat (19/6), siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) dari berbagai kabupaten dan kota di Bali berhasil mempersembahkan karyanya dalam pentas seni yang digelar di Taman Budaya Art Center. Acara ini tidak hanya menjadi panggung bagi ekspresi kreatif, tetapi juga membuktikan bahwa keberagaman dalam seni bisa terwujud meski menghadapi tantangan tertentu.
Sebagai bagian dari upaya mendorong inklusivitas, Pesta Kesenian Bali tahun ini mengangkat tema yang lebih luas. Selain menampilkan karya seni dari pelajar biasa, acara ini khusus menyediakan ruang bagi siswa SLB untuk menunjukkan bakat mereka. Di lokasi pentas, para pelajar tersebut berdiri di atas panggung dengan percaya diri, menampilkan tarian tradisional serta tabuh, bentuk musik yang menjadi ciri khas budaya Bali. Aktivitas ini tidak hanya menarik perhatian penonton lokal, tetapi juga mencuri sorak dari pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Salah satu pelajar SLB yang turut berpartisipasi, Ida Ayu Dwi Putri, mengungkapkan bahwa acara ini memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ketidakmampuan fisik tidak menghalangi keinginan untuk berkarya. “Saya selalu merasa ragu saat tampil di depan banyak orang, tapi hari ini saya merasa lebih percaya diri. Tari yang saya latih selama berbulan-bulan akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh penonton,” katanya, sembari memperlihatkan senyum kebahagiaan.
“Kita ingin menunjukkan bahwa seni tidak hanya untuk pelajar yang memiliki kemampuan fisik normal. Mereka juga bisa menampilkan karya yang luar biasa,” ujar Kepala Sekolah SLB Negeri Gianyar, I Nyoman Surya, saat ditemui di lokasi acara.
Pentas ini juga melibatkan kolaborasi antara para pelajar SLB dengan seniman profesional. Sejumlah musisi dan penari yang tergabung dalam komunitas seni Bali membantu mengembangkan latihan mereka. “Kolaborasi ini memberi kesempatan kepada siswa SLB untuk belajar dari pengalaman langsung dan memperkaya keterampilan mereka,” tambah Surya. Selain itu, para pelajar juga diberikan pelatihan khusus agar bisa mengikuti acara ini dengan lebih lancar.
Dalam rangkaian tampilan, para pelajar SLB menampilkan berbagai genre seni yang berbeda. Mulai dari tarian kecil yang biasa diadakan di sekolah, hingga kreasi yang lebih kompleks yang dibuat bersama seniman lokal. Musik tradisional Bali seperti gong, kendang, dan suling juga menjadi bagian dari pertunjukan tersebut. “Saya senang karena tampil dengan alat musik yang saya kuasai. Kita bisa menunjukkan bahwa seni tradisional tidak hanya untuk orang yang memiliki tubuh sehat,” kata siswa SLB di Denpasar, Putu Putra.
Acara ini juga dihadiri oleh banyak pihak, termasuk para guru, orang tua, serta warga setempat. Reaksi penonton terbukti sangat positif, dengan banyak pujian yang diberikan kepada para pelajar. “Aku sangat terkesan dengan keterampilan mereka. Mereka tidak hanya menari, tetapi juga memainkan alat musik dengan baik. Ini membuktikan bahwa inklusivitas bisa terwujud di segala aspek kehidupan,” ujar seorang pengunjung dari Kuta, I Gede Arga.
Bagi para pelajar SLB, kesempatan ini menjadi penting untuk meningkatkan rasa percaya diri dan membangun komunitas yang lebih inklusif. Tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam masyarakat. “Kita ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi bagian dari aktivitas seni yang lebih luas. Ini adalah langkah kecil untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang keberagaman,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Bali, I Wayan Karsana.
Menurut data terbaru, terdapat sekitar 1.200 siswa SLB di seluruh Bali. Meski terdapat berbagai tantangan, seperti aksesibilitas fasilitas dan kesadaran masyarakat, para pelajar ini tetap menemukan cara untuk berkarya. Pesta Kesenian Bali menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bisa dihargai dan diakui melalui kegiatan seni. Dengan adanya ruang seperti ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa seni adalah jembatan yang bisa menghubungkan semua lapisan.
Acara ini juga memperlihatkan peran penting komunitas lokal dalam mendukung pendidikan inklusif. Beberapa organisasi kebudayaan dan yayasan yang bergerak di bidang inklusivitas seni turut berpartisipasi, memberikan bantuan dalam persiapan pentas. “Kerja sama antara sekolah, pemerintah, dan komunitas seni adalah kunci suksesnya acara ini. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga berpartisipasi dalam memberi dukungan,” kata salah satu pengelola acara, Wayan Darmawan.
Pentas tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi progres pendidikan inklusif di Bali. Sejumlah pelajar SLB menunjukkan kemampuan yang luar biasa, baik dalam seni tari maupun musik. Dengan latihan intensif yang dilakukan selama beberapa bulan, mereka berhasil mempersembahkan pertunjukan yang menarik dan berkesan. “Ini adalah bukti bahwa kita bisa melatih siswa SLB hingga mencapai tingkat keahlian yang menakjubkan,” katanya.
Menurut Karsana, acara seperti ini bisa menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. “Inklusivitas dalam seni tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang lebih kuat. Mereka belajar untuk berani, kreatif, dan berkolaborasi,” tukasnya. Dengan adanya ruang khusus, diharapkan lebih banyak pelajar SLB akan terdorong untuk mengembangkan bakat mereka dan menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi bagian dari dunia seni yang lebih luas.
