BNPB: Tak hujan sebulan – 4.245 KK di Lombok Barat mengalami krisis air
BNPB: Kekeringan Berlangsung Sebulan, 4.245 KK di Lombok Barat Alami Krisis Air
BNPB – Kota Jakarta menjadi pusat perhatian setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan adanya krisis air bersih yang menimpa sekitar 4.245 kepala keluarga (KK) di lima kecamatan di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena tanpa hujan selama satu bulan terakhir menjadi penyebab utama ketidaknyamanan tersebut, menyebabkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari warga mengalami penurunan signifikan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan air minum, kebersihan, dan aktivitas sehari-hari.
Perkembangan Situasi Kekeringan
Krisis air ini tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan menyebar ke beberapa daerah. Dari laporan yang diterima, wilayah yang paling terdampak mencakup Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, yang mengalami kesulitan terparah. Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Selasa (23/6), jumlah KK yang kesulitan memperoleh air bersih mencapai 1.357 di Desa Sekotong Barat. Di Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, kondisi serupa terjadi dengan 306 KK yang terkena dampak.
“Kondisi kekeringan yang berlangsung sebulan terakhir menyebabkan penurunan signifikan pasokan air untuk kebutuhan domestik warga,” ungkap Abdul Muhari. Ia menambahkan bahwa situasi ini memicu permasalahan serius, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sumber air terbatas.
Selain itu, kawasan Kecamatan Gerung juga menjadi salah satu daerah yang mengalami keterbatasan pasokan air. Di Desa Banyu Urip, terdapat 500 KK yang terdampak, sementara Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung, menampung 718 KK. Di Kecamatan Kuripan, Desa Kuripan Selatan menjadi daerah dengan jumlah warga terkena krisis sebanyak 630 KK. Terakhir, Desa Persiapan Penanggak, Kecamatan Batulayar, juga melaporkan 734 KK yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Langkah Tindakan BPBD Lombok Barat
Untuk mengantisipasi kekeringan yang semakin luas, BPBD Lombok Barat langsung mengambil tindakan responsif. Abdul Muhari memastikan bahwa tim penanggulangan bencana setempat telah memprioritaskan pengiriman empat unit mobil tangki air ke wilayah yang terdampak. Setiap mobil memiliki kapasitas 5.000 liter, yang diharapkan dapat memberikan solusi sementara bagi warga yang mengalami kekurangan air.
Dalam upaya memperkuat bantuan, BPBD juga meningkatkan koordinasi dengan berbagai sektor. Termasuk di dalamnya adalah Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Barat, PDAM Giri Menang Mataram, serta perusahaan-perusahaan lain yang memiliki kapasitas distribusi air. Langkah ini bertujuan untuk memastikan distribusi air bersih dapat dilakukan secara lebih efisien, baik melalui penggunaan mobil tangki maupun penambahan pasokan langsung ke titik-titik permukiman.
Koordinasi Lintas Sektor untuk Penyuplai
Koordinasi antar sektor menjadi kunci dalam mempercepat distribusi bantuan. Menurut Abdul Muhari, BPBD Lombok Barat terus berupaya memaksimalkan penggunaan sumber daya yang ada, termasuk memanfaatkan kemampuan infrastruktur yang dimiliki PDAM. Dengan adanya kerja sama yang intensif, distribusi air bersih diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan hingga kondisi kekeringan mulai membaik.
BNPB juga memperkirakan bahwa krisis air ini bisa berlangsung lebih lama jika tidak ada peningkatan curah hujan. Oleh karena itu, upaya pemenuhan kebutuhan air di tingkat desa dan kecamatan sangat penting. Pemerintah setempat sedang berupaya menambah kapasitas penyuplai air melalui kebijakan darurat yang dirancang secara cepat dan efektif. Kondisi kekeringan ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan pengelolaan air bersih di lingkungan mereka.
Kondisi Iklim yang Menjadi Penyebab
Fenomena kekeringan di Lombok Barat ini dipicu oleh kondisi iklim yang tidak stabil. Pada periode sebulan terakhir, curah hujan jauh di bawah normal, menyebabkan penurunan volume air di sumber-sumber alamiah seperti sungai, danau, serta sumur warga. Situasi ini menimbulkan kebutuhan akan bantuan darurat, terutama di wilayah dengan aksesibilitas rendah ke sumber air alternatif.
BNPB meminta agar warga tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, penanggulangan ke
