Special Plan: Menhub pisahkan angkutan logistik atasi kemacetan Ketapang-Gilimanuk
Menteri Perhubungan Pisahkan Angkutan Logistik dan Penumpang untuk Atasi Kemacetan di Lintasan Ketapang-Gilimanuk
Special Plan – Kemacetan di jalur laut antara Ketapang dan Gilimanuk menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan rencana untuk mengatasi masalah ini dengan memisahkan layanan pengangkutan barang dan orang. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kelancaran operasional pelabuhan penyeberangan tersebut. “Kita ingin memisahkan layanan angkutan logistik dan penumpang, seperti yang sudah kita lakukan di Merak-Bakauheni,” kata Dudy saat diwawancara di Jakarta, Sabtu.
Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali
Menurut Dudy, pemerintah tengah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali serta berbagai pihak terkait untuk meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di Gilimanuk. Tujuan utama dari kerja sama ini adalah mengurangi kepadatan arus kendaraan, terutama saat musim libur. “Kerja sama ini sudah dilakukan bersama Gubernur Bali dan saya, serta Pelindo untuk menambah kapasitas khusus di Gilimanuk,” ujarnya.
Dermaga Celukan Bawang, yang akan menjadi pusat layanan angkutan logistik, menjadi fokus perbaikan. Area ini direncanakan untuk mengoptimalkan fasilitas dan menerapkan pola pengelolaan seperti di lintasan Merak-Bakauheni. “Pola ini kurang lebih sama seperti di Merak-Bakauheni, yang memisahkan antara angkutan barang dan penumpang,” tambah Menhub.
Mengapa Pemisahan Layanan Penting?
Dudy menjelaskan bahwa pemisahan tersebut bertujuan menghindari kerumunan kendaraan di satu pelabuhan. Sebelumnya, arus lalu lintas tidak terdistribusi secara merata, sehingga memicu penumpukan. “Dengan pemisahan, arus kendaraan tidak lagi terkonsentrasi di satu titik, yang diharapkan memperbaiki kelancaran operasional,” ujarnya.
Langkah ini juga bertujuan mengurangi antrean kendaraan. Saat ini, angkutan barang dan penumpang bersamaan menyebabkan proses bongkar muat kapal menjadi lebih lambat. “Kita berharap dengan pemisahan ini, kepadatan tidak lagi terjadi di dermaga yang sama, sehingga pelayanan bisa lebih efisien,” lanjut Menhub.
Penyebab Kepadatan Saat Ini
Menurut Dudy, masalah kemacetan di Ketapang-Gilimanuk muncul karena kerusakan Dermaga Bulusan. Akibatnya, sebagian layanan penyeberangan harus dialihkan ke dermaga milik PT ASDP Indonesia Ferry. “Kerusakan di Dermaga Bulusan membuat kita harus mengalihkan layanan ke ASDP, yang kapasitasnya lebih terbatas,” katanya.
Keterbatasan kapasitas dermaga ASDP menjadi hambatan utama. Truk-truk besar yang sebelumnya menggunakan Dermaga Bulusan kini harus menunggu di dermaga ASDP, yang menyebabkan proses pelayanan menjadi kurang optimal. “Salah satu kendala utama adalah kapasitas dermaga ASDP yang tidak cukup untuk menampung truk besar,” ujar Menhub.
Tujuan dan Waktu Penerapan
Dudy menegaskan bahwa penerapan pola baru ini diharapkan rampung sebelum periode angkutan Lebaran 2027. “Target kita adalah memisahkan layanan angkutan barang dan penumpang sebelum Lebaran 2027, agar bisa mengantisipasi lonjakan mobilitas,” katanya. Ia juga menyebut bahwa kepadatan selama Natal dan Tahun Baru 2026/2027 diperkirakan masih lebih rendah dibandingkan masa Lebaran, sehingga pemerintah fokus pada persiapan infrastruktur jangka panjang.
Pemisahan layanan ini tidak hanya bertujuan mengurangi kemacetan saat ini, tetapi juga memastikan penyeberangan menjadi lebih efektif di masa depan. “Dengan perbaikan infrastruktur dan pemisahan layanan, kita bisa mencegah kemacetan berulang, terutama saat hari raya besar,” ujar Dudy.
Upaya Memperbaiki Infrastruktur
Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry untuk mempercepat perbaikan Dermaga Bulusan. “Kita minta ASDP bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar perbaikan dermaga bisa segera tuntas,” kata Menhub. Dengan demikian, saat Natal dan Lebaran tiba, kapasitas penyeberangan tidak lagi menjadi hambatan.
Pemisahan layanan di Ketapang-Gilimanuk diharapkan memberikan dampak positif terhadap kecepatan proses bongkar muat. “Dengan angkutan barang dan penumpang terpisah, kepadatan di dermaga bisa dikurangi, sehingga semua pihak dapat menikmati pengalaman menyeberang yang lebih nyaman,” ujarnya.
Kerja sama antara Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pelindo dianggap sebagai langkah strategis. Dudy menyebutkan bahwa celukan Bawang akan menjadi titik utama untuk angkutan logistik, sedangkan Gilimanuk fokus pada penumpang. “Pemisahan ini memastikan kapasitas di masing-masing dermaga tidak kehilangan efisiensinya,” terangnya.
Pola Pengelolaan yang Tersusun Rapi
Dudy menekankan bahwa model pengelolaan di Merak-Bakauheni berhasil mengatasi kepadatan serupa. “Pola di Merak-Bakauheni bisa jadi contoh yang baik untuk Ketapang-Gilimanuk,” katanya. Ia berharap pengalihan layanan dari Bulusan ke ASDP hanya sementara, sementara perbaikan infrastruktur berlangsung secara bertahap.
Selain memperbaiki dermaga, pemerintah juga sedang mengevaluasi kapasitas angkutan kapal. Salah satu operator kapal mengalami gangguan, sehingga jumlah kapal yang beroperasi berkurang. “Kita sedang menambah kapasitas angkutan kapal agar mampu menyalurkan lebih banyak kendaraan,” ujarnya.
Dengan kombinasi perbaikan infrastruktur dan pemisahan layanan, Menhub yakin kemacetan di Ketapang-Gilimanuk akan teratasi. “Kita berharap semua upaya ini bisa selesai tepat waktu, sehingga masa mudik nanti tidak lagi terganggu oleh kepadatan,” pungkas Dudy. Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi transportasi antar pulau tersebut.
“Dengan perbaikan dermaga Bulusan dan pemisahan layanan, kita bisa memastikan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk menjadi lebih lancar. Ini penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan logistik selama masa liburan,” ujar Menhub.
