Solving Problems: Mendikdasmen: Sarjana Unmuh Babel harus berdedikasi

Mendikdasmen: Sarjana Unmuh Babel Harus Berdedikasi dan Memberikan Manfaat

Solving Problems – Pangkalpinang, Kamis (29 September 2023) – Dalam upacara wisuda ke-17 Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, memberikan pesan penting kepada para lulusan. Ia menekankan bahwa para sarjana dari kampus tersebut tidak boleh merasa puas hanya karena meraih gelar akademik, tetapi harus terus berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Kata-kata yang disampaikan Mendikdasmen menyoroti pentingnya mentalitas kerja keras dan tanggung jawab setelah memperoleh pendidikan tinggi. “Saya berharap mahasiswa yang hari ini mengenakan pakaian wisuda tidak terjebak dalam ‘sindrom toga’ yang membuat mereka merasa tugas belajar telah selesai,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa gelar akademik hanyalah awal dari perjalanan pribadi dan profesional, bukan akhir dari dedikasi terhadap masyarakat.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih,” kata Abdul Mu’ti mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an. Pesan ini menjadi dasar bagi harapan beliau bahwa para lulusan harus memperhatikan keberkahan pendidikan mereka dan menjadikannya alat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan tidak hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang kemampuan mengaplikasikan pengetahuan untuk kebaikan bersama. “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa sarjana yang terbaik bukan hanya yang mampu menguasai teori, tetapi juga yang bisa menjadi contoh dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dalam wawancara bersifat pribadi, Mendikdasmen menjelaskan bahwa dedikasi seorang sarjana tidak terbatas pada penelitian atau peningkatan kompetensi diri. Menurutnya, lulusan harus menjadi rahmat bagi lingkungan sekitar, baik dalam bentuk pemberdayaan masyarakat, inovasi, maupun pengembangan pengetahuan. “Kalian harus mampu menjadi pribadi yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi orang lain,” imbuhnya.

Empat Tugas Cendekiawan Muslim: Pandangan Ali Syariati

Abdul Mu’ti menghadirkan pandangan Ali Syariati dalam bukunya, yang menjelaskan bahwa cendekiawan Muslim memiliki empat tugas utama. Pertama, memberikan pencerahan melalui ilmu yang dimiliki. Menurutnya, tugas ini tidak sekadar mengajar, tetapi juga menyebarkan pengetahuan untuk mendorong kreativitas dan pemikiran kritis.

Kedua, membumikan Islam yang progresif. “Agar Islam tidak hanya indah dalam kata-kata dan kitab suci, tetapi benar-benar memberikan rahmat kepada manusia dan alam semesta,” katanya. Ia menekankan bahwa ilmu harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata, seperti dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan beradab.

Ketiga, menyatu dengan rakyat. Mendikdasmen mengingatkan para wisuda bahwa mereka adalah kelompok intelektual, tetapi jangan sampai terkesan elitis. “Jadilah elit yang dekat dengan masyarakat kecil,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa cendekiawan harus menjadi bagian dari masyarakat, bukan hanya di atasnya.

Keempat, melawan stagnasi dan kejumudan. “Cendekiawan harus menjadi pendobrak, berani bersikap kritis, dan menawarkan solusi atas berbagai masalah,” tegasnya. Menurut Abdul Mu’ti, keberhasilan seorang sarjana terukur dari kemampuannya untuk mengubah pola pikir dan tindakan dalam menghadapi tantangan zaman.

“Seorang cendekiawan adalah pribadi yang selalu gelisah melihat sesuatu yang perlu diperbaiki. Bukan hanya orang yang menyalahkan kegelapan, tetapi juga yang menyalakan pelita di tengah kegelapan,” ujar Mendikdasmen. Ia menambahkan bahwa setelah memperoleh gelar, para lulusan harus terus berusaha menciptakan karya yang memberikan dampak positif.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga membahas peran universitas dalam membangun SDM yang berkualitas. Ia menyatakan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi wadah untuk memperkaya pengetahuan dan membangun karakter yang tangguh. “Universitas tidak hanya tempat menghafal materi, tetapi juga tempat membentuk watak dan nilai-nilai yang mendasar,” tuturnya.

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan harus dijalankan secara holistik, menggabungkan intelektualitas dengan kepedulian sosial. “Kalian harus menjadi sarjana yang mampu menyeimbangkan antara keahlian akademik dan kemampuan memimpin perubahan,” tambahnya. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan individu tidak cukup, tetapi juga keberhasilan kolektif masyarakat sekitar.

Komentar mendikdasmen ini menyentuh hati para lulusan yang hadir. Mereka terkesan dengan pesan moral dan harapan yang disampaikan. Seorang peserta wisuda menyatakan bahwa materi ini memberikan semangat baru untuk terus berkarya setelah menyelesaikan studi. “Saya merasa terdorong untuk menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menonton perubahan dari belakang,” ujarnya.

Abdul Mu’ti juga mengapresiasi kontribusi Unmuh Babel dalam pengembangan pendidikan di daerah. “Kampus ini telah membuktikan bahwa pendidikan di daerah tidak kalah pentingnya dengan pendidikan di kota besar,” katanya. Ia berharap institusi pendidikan tersebut terus berinovasi dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

Dalam penutupan acara, Mendikdasmen menyampaikan pesan penguatan komitmen. “Jangan pernah merasa keberhasilan hanya mencapai puncak saat wisuda, tetapi jadikan itu sebagai awal perjalanan yang lebih luas,” pesannya. Ia berharap para sarjana Unmuh Babel mampu menjadi teladan dan menginspirasi generasi muda lainnya.

Acara wisuda yang berlangsung meriah ini menjadi momentum bagi para lulusan untuk memperkuat komitmen mereka terhadap tujuan pendidikan. Dengan pesan yang disampaikan Mendikdasmen, diharapkan para sarjana Unmuh Babel tidak hanya menjadi pendidik atau peneliti, tetapi juga aktor utama dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.