New Policy: Kementan: Deteksi surra Balai Veteriner Banjarbaru diproduksi massal

Kementan: Teknik Deteksi Penyakit Surra Diproduksi Massal

New Policy – Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan bahwa teknik deteksi penyakit surra yang dikembangkan Balai Veteriner Banjarbaru kini mulai diproduksi secara massal. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat upaya pengendalian penyakit hewan di berbagai wilayah. Teknik ini, yang telah diuji coba dan diakui efektivitasnya, dirancang untuk mempercepat proses identifikasi penyakit pada hewan, terutama di daerah rawan.

“Teknik deteksi cepat surra dikembangkan oleh Balai Veteriner Banjarbaru, sedangkan produksi massal dilakukan oleh Pusat Veteriner Farma Surabaya yang ditunjuk sebagai badan layanan umum untuk memproduksi inovasi tersebut,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, saat kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI di Banjarbaru, Jumat.

Agung Suganda menjelaskan bahwa Balai Veteriner Banjarbaru memiliki peran penting dalam pengamatan dan identifikasi penyakit hewan. Selain itu, unit tersebut juga bertugas melakukan pengujian produk hewan, serta meningkatkan kemampuan teknis dalam diagnosis penyakit. Wilayah kerja Balai Veteriner Banjarbaru mencakup lima provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Tugas ini memerlukan kolaborasi erat dengan berbagai pihak di sektor peternakan.

Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan, Balai Veteriner Banjarbaru yang dibangun sejak tahun 1978 telah mengalami renovasi signifikan pada 2024. Renovasi tersebut didanai melalui proyek Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), yang membantu memperbarui fasilitas dan memastikan standar operasional sesuai prinsip kesehatan hewan. Hasil renovasi ini menciptakan 10 laboratorium dengan manajemen mutu yang ketat dan layanan publik berbasis ISO serta SNI. Fasilitas ini menjadi basis untuk pengujian dan penelitian yang lebih modern dan akurat.

Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa Balai Veteriner Banjarbaru ditunjuk sebagai laboratorium rujukan untuk penyakit surra, yang termasuk dalam kategori penyakit menular strategis. Peran ini tidak hanya memperkuat kemampuan diagnostik di Kalimantan, tetapi juga mendukung pengembangan inovasi teknologi di bidang kesehatan hewan. Dengan adanya teknik deteksi cepat yang diproduksi massal, kecepatan respons terhadap wabah penyakit bisa meningkat, sehingga mengurangi dampak ekonomi dan sosial terhadap peternakan lokal.

Penyakit Surra dan Tanggung Jawab Balai Veteriner

Penyakit surra, yang disebabkan oleh parasit *Trypanosoma evansi*, adalah ancaman serius bagi kesehatan ternak di Indonesia. Penyebaran penyakit ini terutama terjadi melalui nyamuk, dan sering kali menyebabkan kerugian besar bagi peternak, terutama di daerah tropis. Agung Suganda menegaskan bahwa Balai Veteriner Banjarbaru bertanggung jawab untuk memantau kejadian penyakit ini secara terus-menerus.

“Balai Veteriner Banjarbaru merupakan satu-satunya unit pelaksana teknis Balai Veteriner Kementerian Pertanian di wilayah Kalimantan,” kata Agung Suganda. Ia menambahkan bahwa upaya peningkatan infrastruktur di sini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menghadapi perubahan iklim, termasuk dampak El Nino yang bisa memperparah penyebaran penyakit hewan.

Direktur Jenderal PKH juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pengendalian penyakit. Teknik deteksi surra yang dikembangkan di Balai Veteriner Banjarbaru diharapkan dapat menjadi model bagi laboratorium-laboratorium lain di Indonesia. Selain itu, Kementan berkomitmen untuk memperluas jaringan layanan di berbagai provinsi, terutama di daerah yang masih kurang dilengkapi fasilitas pengujian.

Penyebaran Teknologi dan Dukungan Nasional

Produksi massal teknik deteksi surra oleh Pusat Veteriner Farma Surabaya menjadi langkah kritis dalam memastikan aksesibilitas bagi peternak di seluruh Indonesia. Proses produksi ini memerlukan koordinasi antara berbagai institusi, termasuk Balai Veteriner Banjarbaru dan Pusat Veteriner Farma Surabaya. Kementan juga menyoroti peran Balai Veteriner Banjarbaru sebagai pusat penelitian dan pengujian yang menjadi rujukan nasional.

Secara nasional, Kementerian Pertanian memiliki sistem jaringan Balai Veteriner yang terdiri dari beberapa unit pelaksana teknis (UPT). Dalam hal ini, Balai Veteriner Banjarbaru menjadi satu dari beberapa laboratorium strategis di Kalimantan. Sementara itu, UPT lainnya tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, serta Papua. Total jumlah UPT di seluruh Indonesia mencapai tujuh unit, dengan distribusi berdasarkan kebutuhan daerah dan risiko penyakit hewan.

Agung Suganda menyatakan bahwa teknik deteksi surra bukan hanya inovasi lokal, tetapi juga menggabungkan pengalaman internasional dan adaptasi ke kondisi setempat. Penerapan teknologi ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada metode konvensional yang lebih lambat. Selain itu, Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan hewan, baik melalui pelatihan maupun peningkatan pengawasan di lapangan.

Keberhasilan teknik deteksi surra juga menjadi bagian dari program mitigasi El Nino yang sedang dijalankan oleh Komisi IV DPR RI. El Nino dikenal memengaruhi pola cuaca dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit hewan, terutama di daerah yang rentan terhadap perubahan iklim. Dengan teknik ini, Kementan bisa lebih cepat merespons wabah dan memberikan solusi yang tepat.

Agung Suganda menegaskan bahwa produksi massal teknik deteksi surra merupakan langkah awal dari perluasan penggunaan teknologi di seluruh Indonesia. Kementerian Pertanian akan terus mendorong kolaborasi dengan pihak terkait, termasuk lembaga penelitian, peternak, dan pemerintah daerah, agar program pengendalian penyakit hewan dapat berjalan optimal. Keberadaan Balai Veteriner Banjarbaru juga menjadi bukti bahwa Kalimantan memiliki kemampuan teknis untuk menghadapi tantangan kesehatan hewan secara mandiri.