Operasi TMC dilakukan pekan ini untuk percepat pemadaman api di TPA
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca Dijalankan untuk Mempercepat Pemadaman Kebakaran di TPA Jatiwaringin
Operasi TMC dilakukan pekan – Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, akan segera dipercepat pemadamannya melalui operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini. Menurut informasi yang disampaikan oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, keputusan ini diambil setelah tim besar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II memberikan konfirmasi bahwa ada potensi pertumbuhan awan yang bisa berujung pada hujan ringan pada awal Juli 2026. Ini menjadi alasan utama bagi KLH/BPLH untuk melaksanakan TMC sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran.
Potensi Hujan Sebagai Faktor Penentu
Menurut Diaz Faisal Malik Hendropriyono, penggunaan TMC merupakan strategi yang tepat karena kondisi cuaca saat ini menunjukkan adanya peluang untuk menghasilkan hujan tipis. “Awalnya ini belum ada (potensi awan) gitu. Jadi kemungkinan dari BMKG tadi konfirmasi bahwa besok Minggu (5/7) kemungkinan akan ada hujan tipis-tipis,” ujarnya saat memberi keterangan di Tangerang, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa hujan ringan akan berperan penting dalam mempercepat proses pemadaman api di area yang sedang terbakar.
“Awalnya ini belum ada (potensi awan) gitu. Jadi kemungkinan dari BMKG tadi konfirmasi bahwa besok Minggu (5/7) kemungkinan akan ada hujan tipis-tipis,” kata Diaz Faisal Malik Hendropriyono.
Dia menambahkan bahwa BMKG telah melakukan pemantauan intensif terhadap cuaca di sekitar TPA Jatiwaringin. Dengan mengetahui adanya kondisi awan yang berkembang, pihaknya mengambil langkah untuk menjadwalkan operasi TMC. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan kondisi cuaca tersebut untuk mempercepat upaya memadamkan kebakaran yang sudah berlangsung cukup lama.
Upaya Bersama untuk Mengatasi Kebakaran
Saat ini, dua helikopter jenis MI-8AMT terus beroperasi dengan menggunakan kantung air berkapasitas 4.000 liter untuk mengendalikan api di TPA Jatiwaringin. Meski usaha pemadaman dari udara telah dilakukan, Diaz menjelaskan bahwa metode ini belum cukup efektif karena api masih terus berkobar di bawah permukaan. “Mereka ini ahli dalam memadamkan gambut, jadi yang serupa dengan TPA ini. Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairin dari atas aja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” katanya.
“Mereka ini ahli dalam memadamkan gambut, jadi yang serupa dengan TPA ini. Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairin dari atas aja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” ujar Diaz Faisal Malik Hendropriyono.
Operasi TMC sendiri merupakan teknik yang memanfaatkan kondisi cuaca untuk menciptakan hujan yang lebih intens. Teknologi ini dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan tertentu ke dalam awan agar kelembapan meningkat dan hujan turun lebih cepat. Kebakaran di TPA Jatiwaringin, yang terjadi akibat penggunaan lahan yang tidak terkendali, menjadi contoh kasus dimana TMC diperlukan untuk menekan api yang mengancam lingkungan sekitar.
Menurut Diaz, operasi TMC akan menjadi bagian dari strategi gabungan yang melibatkan beberapa instansi terkait. Dalam hal ini, KLH/BPLH bekerja sama dengan BMKG serta tim pemadam kebakaran Manggala Agni untuk memastikan proses pemadaman berjalan optimal. Dengan adanya TMC, diharapkan api dapat dihentikan lebih cepat dan dampak lingkungan dari asap serta kebakaran bisa diminimalkan.
Potensi Dampak Kebakaran terhadap Lingkungan
Kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar, tetapi juga berdampak besar terhadap kualitas udara dan ekosistem. Kebakaran gambut yang terjadi di area tersebut biasanya berlangsung lebih lama dan lebih sulit dipadamkan karena karbohidrat dan zat organik yang terbakar menghasilkan asap beracun. Dengan menggabungkan operasi TMC dan upaya dari udara, diharapkan api dapat dimusnahkan secara lebih efektif.
Menurut informasi dari BMKG, potensi hujan tipis yang terjadi pada minggu ini menjadi titik balik dalam upaya pemadaman. Hujan akan membantu membasahi area yang terbakar, mengurangi intensitas api, dan mempercepat proses penyerapan karbon yang terjadi. Dengan demikian, TMC berperan sebagai alat tambahan untuk memper
