Survei: Harga Bensin Melonjak, Setengah Penduduk AS Salahkan Trump

Washington (ANTARA) – Sebuah survei yang dilakukan oleh Morning Consult dan dilaporkan Axios menunjukkan bahwa sekitar 48 persen penduduk Amerika Serikat menyalahkan kebijakan Presiden Donald Trump atas kenaikan harga bensin. Angka ini didasarkan pada hasil jajak pendapat yang menemukan 74 persen responden menyatakan bahwa harga bensin meningkat pada 2026. Sementara itu, 16 persen menyalahkan perusahaan minyak dan gas, 13 persen menyalahkan kondisi pasar global, serta 11 persen menunjuk mantan Presiden Joe Biden sebagai penyebabnya.

Jajak pendapat ini dilakukan secara daring pada Rabu, melibatkan 1.002 orang dewasa AS dengan margin kesalahan sekitar 3 poin persentase. Saat ini, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat mencapai 3,6 dolar AS per galon, naik dari 2,9 dolar AS sebelum serangan AS-Israel terhadap target di Iran.

Menurut laporan, AS-Israel melakukan serangan terhadap wilayah Iran, termasuk Teheran, pada 28 Februari, menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalas dengan serangan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, yang hampir menghentikan pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

“Penghentian pengiriman energi melalui Selat Hormuz adalah peristiwa sementara,” kata Menteri Energi AS Chris Wright pekan lalu. “Kenaikan harga energi adalah harga kecil yang harus dibayar untuk operasi yang akan mengubah arah sejarah,” tambahnya.