Bulog Minta Tambahan Kuota MinyaKita untuk Atasi Kelangkaan
Jakarta – Setelah melaporkan kondisi stok MinyaKita ke Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan pihaknya meminta tambahan kuota ke Kementerian Perdagangan (Kemendag) guna mengatasi kelangkaan yang terjadi di sejumlah pasar. Penyesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari upaya koordinasi pengelolaan pangan nasional.
Menurut Rizal, kuota distribusi MinyaKita saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar serta program bantuan pemerintah secara simultan. Skema pembagian yang berlaku memberikan 35 persen dari Domestic Market Obligation (DMO) kepada tiga perusahaan pangan nasional, dengan rincian 70 persen untuk Bulog, 20 persen ID Food, dan 10 persen Agrinas Palma Nusantara.
“Kami secara tegas telah mengajukan permintaan penambahan kuota ke Kementerian Perdagangan. Fokus sebelumnya adalah menjaga pasokan MinyaKita selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Namun, setelah periode tersebut, kita mulai mengalihkan perhatian ke distribusi bantuan pangan dan ketersediaan di pasar,” jelas Rizal.
Pihaknya mengakui keterbatasan kuota DMO menciptakan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan bantuan dan permintaan pasar. Karena itu, Rizal menyatakan bahwa distribusi harus diatur dengan cermat agar tidak terjadi kekosongan di salah satu sektor.
Di sisi lain, Bulog tengah menyalurkan bantuan pangan kepada lebih dari 33 juta keluarga penerima manfaat (KPM) berdasarkan data dari Kementerian Sosial. Bantuan ini mencakup beras dan minyak goreng MinyaKita. Upaya ini memaksa Bulog membagi alokasi MinyaKita secara proporsional antara program bantuan dan pasar.
“Dengan arahan Pak Mentan, kami mengajukan penambahan kuota DMO hingga 65 persen. Tujuannya adalah untuk memastikan distribusi pangan bisa berjalan optimal dan merata, sekaligus mendukung kelancaran bantuan kepada masyarakat,” kata Rizal.
Rizal menekankan bahwa penambahan kuota ini diharapkan bisa menutupi kebutuhan pasar serta memperkuat program bantuan pangan jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa selama Hari Besar Keagamaan, intervensi Bulog berhasil menjaga harga pangan tetap stabil. Namun, setelahnya, ketersediaan MinyaKita perlu ditingkatkan agar tidak terjadi gangguan di dua sektor sekaligus.
