Historic Moment: Dispar Kaltim ajak warga berwisata air panas karst di Berau
Dispar Kaltim Perkenalkan Destinasi Wisata Air Panas Karst di Berau
Historic Moment – Warga Kalimantan Timur (Kaltim) kini memiliki alternatif wisata baru yang bisa dikunjungi tanpa harus ke luar daerah. Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kaltim tengah menggali potensi alam di Air Panas Asin Pemapak, sebuah destinasi yang airnya berasal dari resapan karst di Desa Biatan Bapinang, Kabupaten Berau. Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengungkapkan bahwa tempat ini menjadi jawaban bagi masyarakat lokal yang ingin menikmati pengalaman berwisata air panas dengan konsep alami dan unik.
Karst Sebagai Sumber Daya Wisata Unik
Air Panas Asin Pemapak menawarkan daya tarik yang berbeda dari kebanyakan sumber air panas di Indonesia. Dalam wawancara di Samarinda, Ririn menjelaskan bahwa air tersebut tidak berasal dari aktivitas vulkanik atau sumber panas tersembunyi di bawah tanah, melainkan hasil dari proses alam karst yang menyerap panas. Proses ini membuat air memiliki suhu tinggi sekaligus rasa asin khas, yang menjadi daya tarik khusus bagi pengunjung.
“Air panas ini bukan termal atau vulkanik, melainkan hasil resapan dari batu karst yang menyerap panas, kemudian airnya mengalir dan bermuara di sini,” jelas Ririn.
Menurut Ririn, pengembangan destinasi ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk memaksimalkan sumber daya alam lokal. Ia menekankan bahwa pengelolaan yang melibatkan masyarakat menjadi kunci keberhasilan. “Dengan terlibat langsung, masyarakat bisa menjaga keberlanjutan dan manfaatkan potensi ini untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi desa,” imbuhnya.
Kampung Biatan Bapinang: Pengelolaan Mandiri Berhasil Menggerakkan Ekonomi
Sebagai bagian dari strategi pengembangan wisata, Pemerintah Desa Biatan Bapinang telah memberikan izin pengelolaan kawasan Air Panas Asin Pemapak kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta pihak Pokdarwis. Kehadiran lembaga ini memastikan pengelolaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. “Meskipun sudah dibuka sejak tahun 2004, pengelolaan baru serius dilakukan tiga tahun terakhir,” kata Septi Eunike, Sekretaris Kampung Biatan Bapinang.
“Tidak ada gunung berapi di sini, namun muncul karst yang menghasilkan air panas,” sebut Septi.
Septi menambahkan bahwa fenomena air panas karst ini cukup langka, sehingga menjadi nilai tambah untuk destinasi wisata. “Fenomena ini sangat jarang terjadi, membuat tempat ini memiliki keunikan yang tidak bisa ditemukan di lokasi lain,” ujarnya. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan pun terbukti efektif, terutama dalam menarik minat wisatawan.
Peningkatan Kunjungan Wisatawan
Dari data yang diperoleh aparat desa, kunjungan ke Air Panas Asin Pemapak terus meningkat. Pada hari biasa, jumlah pengunjung mencapai rata-rata 200 hingga 300 orang per hari. Namun, di akhir pekan, angka tersebut bisa naik hingga 600 orang, menunjukkan tingkat antusiasme yang signifikan. “Antusiasme masyarakat untuk berlibur terus memuncak pada setiap akhir pekan dengan lonjakan pengunjung yang bisa mencapai angka maksimal 600 orang,” jelas Septi.
Penyebab meningkatnya minat wisatawan, menurut Septi, adalah karena lokasi yang strategis serta fasilitas yang terus diperbaiki. “Kami juga menyediakan wadah untuk pengunjung VIP yang ingin menikmati suasana lebih privat,” tambahnya. Pengembangan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Facilities yang Memadai untuk Pengunjung
Pihak pengelola Desa Biatan Bapinang berkomitmen memberikan pengalaman wisata yang nyaman bagi pengunjung. Berbagai fasilitas seperti kolam rendaman umum, tempat parkir, dan layanan penyewaan tenda telah dibangun untuk memperkaya aktivitas wisata. Septi menegaskan bahwa pengelolaan ini didukung oleh partisipasi aktif masyarakat, baik dalam pengumpulan dana maupun pemeliharaan lingkungan.
Septi juga menyoroti bagaimana pengelolaan pariwisata oleh warga desa bisa menjadi contoh sukses pengembangan daerah berbasis alam. “Keterlibatan masyarakat lokal tidak hanya mempercepat proses pengelolaan, tetapi juga membuka peluang kerja dan penghasilan yang lebih merata,” katanya. Dengan demikian, Air Panas Asin Pemapak tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian lokal yang berkelanjutan.
Karst Sebagai Bukti Kekayaan Alam Kaltim
Kaltim memang dikenal memiliki berbagai bentang alam yang unik, termasuk formasi karst yang terbentuk dari batuan kapur. Air Panas Asin Pemapak menjadi salah satu contoh nyata bagaimana karst bisa dimanfaatkan secara optimal dalam sektor pariwisata. Fenomena alam ini tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga mengundang perhatian dari daerah lain, baik dari Kalimantan Timur maupun luar provinsi.
Ririn Sari Dewi menegaskan bahwa promosi destinasi ini merupakan bagian dari upaya menyebarkan keindahan alam Kaltim. “Warga tidak perlu lagi pergi ke luar daerah untuk menikmati suasana alam yang asri dan air panas yang sejuk,” ujarnya. Ia berharap keberadaan Air Panas Asin Pemapak dapat menjadi pemicu pembangunan wisata lain di sekitarnya, sekaligus menguatkan identitas daerah yang berbasis kearifan lokal.
Sebagai sumber daya alam yang tidak terduga, karst di Berau menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata yang bernilai ekonomi tinggi. Dengan kombinasi antara alam yang indah, keunikan air panas, dan partisipasi aktif masyarakat, Air Panas Asin Pemapak semakin menjadi favorit bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di alam terbuka. Septi Eunike berharap pengelolaan yang berkelanjutan bisa terus dijaga agar daya tarik destinasi ini tidak berkurang seiring waktu.
