Key Strategy: Menekraf: Seni pertunjukan Batak berpeluang dorong pertumbuhan ekonomi
Key Strategy: Seni Pertunjukan Batak Dorong Ekonomi
Peran Budaya dalam Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
Key Strategy – Teuku Riefky Harsya, Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pagelaran opera dan konser musik bertajuk Tona Sian Huta. Melalui Key Strategy ini, acara dinilai mampu memperkuat pelestarian warisan budaya Batak secara signifikan. Di sisi lain, pagelaran tersebut juga membuka peluang baru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat daerah. Menurut Riefky, negara yang memiliki akar budaya kuat memiliki potensi besar untuk mendorong perkembangan industri kreatif, sektor pariwisata, serta usaha mikro kecil dan menengah di tingkat daerah. Hal ini pada akhirnya menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional apabila dikelola dengan pendekatan inovatif dan berkelanjutan.
Sebagaimana disampaikan dalam keterangan resminya di Jakarta pada hari Minggu, Riefky menekankan bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Ketika budaya dikelola dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya integrasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif. Key Strategy yang diterapkan menunjukkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi daerah.
Tona Sian Huta: Ekosistem Kreatif yang Menghubungkan Budaya dan Ekonomi
Riefky menjelaskan bahwa pertunjukan Tona Sian Huta menjadi kekuatan besar Indonesia yang tak sekadar melekat pada identitas berbangsa, tetapi juga membuka peluang menarik bagi pengembangan ekonomi kreatif dari Tanah Batak. Memadukan seni pertunjukan, musik, budaya, dan kreativitas dalam satu panggung, yang terdiri dari talenta, kekayaan intelektual dan peluang ekonomi menjadi sebuah ekosistem kreatif yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan serta menggerakkan ekonomi daerah. Key Strategy ini terbukti efektif dalam menghubungkan berbagai sektor ekonomi kreatif.
“Budaya merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Ketika budaya dikelola dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi,”
Sejalan dengan arah Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 yang baru disahkan, penyelenggaraan yang juga melibatkan seniman, musisi, pegiat kriya, kuliner, event organizer, hingga berbagai sektor pendukung ini menunjukkan kolaborasi dapat mengubah potensi budaya menjadi nilai tambah. Penyelenggaraan acara ini melibatkan berbagai pihak dari sektor seni pertunjukan, musik, fesyen, kuliner, UMKM, hingga pariwisata, menciptakan sinergi yang kuat antar subsektor ekonomi kreatif. Key Strategy yang diterapkan memastikan setiap sektor berkontribusi secara optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Semoga kegiatan ini terus menjadi ruang kolaborasi, memperkuat pelestarian budaya, serta membuka lebih banyak peluang bagi pengembangan subsektor seni pertunjukan, musik, fesyen, kuliner, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif Indonesia. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi kreatif dengan kolaborasi yang kuat,” kata Menteri Ekraf.
Detail Acara dan Partisipan yang Beragam
Tona Sian Huta diselenggarakan di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, memiliki makna pesan dari Kampung Halaman. Acara ini menampilkan stand up comedian Joel Purba, seni pertunjukan dari 27 talenta opera, 30 musisi lokal hingga nasional seperti Maria Simorangkir, Victor Hutabarat, Style Voice, dan masih banyak lagi. Harmoni kearifan lokal juga tampak dari 50 UMKM yang menyajikan produk-produk kreatif ragam subsektor, seperti kuliner, kriya, dan fesyen. Key Strategy ini berhasil menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat.
Lamhot Sinaga sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus inisiator acara ini menambahkan bahwa opera Batak adalah aset budaya yang sangat berharga. Melalui Tona Sian Huta, pihaknya ingin menghidupkan kembali warisan budaya Batak sekaligus menjadikan budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM sebagai satu ekosistem yang mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat Danau Toba. Kolaborasi antara berbagai sektor ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Key Strategy yang diterapkan menjadi model bagi daerah lain.
Dengan adanya dukungan kebijakan nasional melalui Rindekraf 2026-2045, pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya seperti Tona Sian Huta diharapkan dapat menjadi model yang dapat diadopsi di berbagai daerah di Indonesia. Integrasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Key Strategy ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara menyeluruh.
