Latest Program: RPB Desa Loleng siap pasok pakan murah peternak di Kaltim
RPB Desa Loleng Berkomitmen Tingkatkan Ketersediaan Pakan Ternak dengan Harga Terjangkau
Latest Program –
Kurban Kartanegara, Jumat, menjadi lokasi resmi pembukaan Rumah Produksi Bersama (RPB) Pakan Ternak Desa Loleng, yang berupaya menyediakan bahan pakan berkualitas dengan biaya lebih rendah untuk peternak dan pengusaha perikanan di Kalimantan Timur. Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dalam sambutannya menyoroti peran penting RPB ini dalam memperkuat keberlanjutan pangan lokal serta meningkatkan keuntungan sektor pertanian dan perikanan. “Saya berharap RPB ini menjadi pilihan strategis untuk mengatasi tantangan ketersediaan pakan, terutama dalam memproduksi makanan ternak seperti pelet apung,” kata Rudy Mas’ud setelah meresmikan fasilitas tersebut di Kota Bangun.
Penekanan pada Ketersediaan Pakan untuk Tingkatkan Produktivitas
Menurut Rudy, program ini bertujuan menciptakan akses yang lebih mudah bagi peternak dan nelayan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku, yang sebelumnya seringkali menjadi hambatan utama. Keunggulan utama dari RPB Desa Loleng, menurut gubernur, adalah komitmen harga yang kompetitif, dengan target penghematan hingga 20-30 persen dibandingkan produk sejenis di pasar.
RPB ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal, termasuk bahan baku seperti jagung, bungkil sawit, dan Crude Palm Oil (CPO). Fasilitas ini juga akan memanfaatkan tepung ikan serta tepung kepala udang sebagai komponen utama dalam pembuatan pelet. Keberadaan RPB ini diharapkan dapat mendorong peningkatan hasil panen, yang nantinya akan dimanfaatkan untuk memenuhi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kalimantan Timur.
Strategi Operasional RPB untuk Efisiensi Produksi
Dalam mempercepat efisiensi, Rudy Mas’ud menginstruksikan penggunaan mesin produksi secara bergilir. Dua minggu pertama, mesin akan fokus pada produksi pakan ternak, sedangkan dua minggu berikutnya dialihkan ke pembuatan pelet ikan. “Ini strategi untuk memastikan kualitas produksi tetap terjaga sekaligus menyesuaikan permintaan pasar,” jelas gubernur.
Produksi saat ini hanya mencapai 10 persen dari kapasitas maksimal, yaitu 20 ton per bulan, dari total kapasitas 200 ton. Dengan adanya RPB ini, pemerintah daerah berkomitmen terus memantau perkembangan, dan jika terjadi peningkatan permintaan, akan menambah unit mesin untuk mengejar pertumbuhan produksi.
Dana dan Infrastruktur Fasilitas RPB Loleng
Proyek RPB Desa Loleng didanai melalui anggaran APBD Kaltim Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp8,3 miliar. Dana tersebut dibagi menjadi dua bagian utama: Rp6,2 miliar untuk pembangunan fisik gedung, serta Rp2,1 miliar untuk pembelian alat dan mesin. Lokasi pabrik terletak di lahan seluas 10.566 meter persegi, yang dianggap strategis karena aksesibilitas terhadap bahan baku lokal.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kaltim, Heni Purwaningsih, menegaskan bahwa pilihan Desa Loleng bukan hanya karena luasnya lahan, tetapi juga karena ketersediaan bahan baku yang melimpah. “Lokasi ini memungkinkan penggunaan sumber daya lokal secara optimal,” ujarnya.
Manfaat untuk Masyarakat dan Pembangunan Daerah
Keberadaan RPB Desa Loleng diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi pakan, tetapi juga menciptakan peluang kerja baru bagi warga sekitar. Selain itu, program ini akan mempercepat proses industrialisasi di tingkat desa, yang sebelumnya belum cukup berkembang.
Dengan harga bahan pakan yang lebih terjangkau, Rudy yakin peternak dan nelayan dapat meningkatkan produktivitas ternak mereka, termasuk ayam dan ikan. Hasil panen yang membaik akan dialokasikan sebagai bahan baku protein bagi program MBG, yang bertujuan menyediakan makanan bergizi kepada masyarakat.
Peran RPB dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Rudy Mas’ud menegaskan bahwa RPB ini menjadi bagian dari upaya provinsi untuk menjawab tantangan ketahanan pangan nasional. “Ketersediaan pakan berkualitas dengan harga terjangkau akan menjadi pondasi penting dalam meningkatkan kemampuan produksi lokal,” tambahnya.
Program MBG, yang merupakan inisiatif nasional, akan lebih mudah tercapai berkat pasokan bahan baku yang stabil. Dengan makanan murah dan berkualitas, produktivitas ternak serta perikanan di Kaltim diharapkan tumbuh pesat, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih terstruktur.
Kehadiran RPB Desa Loleng juga dianggap sebagai langkah kecil namun berpengaruh dalam mengurangi ketergantungan pada bahan pakan impor. Gubernur menuturkan bahwa kebijakan ini menggabungkan efisiensi produksi dengan pemanfaatan sumber daya lokal, sehingga dapat berdampak jangka panjang terhadap ekonomi daerah.
Kemajuan yang Diharapkan dan Tantangan Awal
Saat ini, produksi RPB masih dalam tahap awal, dengan kuantitas yang belum mencapai target maksimal. Namun, pihak pemerintah provinsi memastikan akan terus mengejar progres. “Kita akan evaluasi secara berkala, dan jika perlu, menambah kapasitas produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan perikanan,” tambah Rudy.
Dengan keberhasilan RPB ini, diharapkan muncul pola kewirausahaan baru, terutama di kalangan masyarakat setempat. Selain itu, investasi yang ditanamkan diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih pendek, sehingga biaya transportasi dan penyimpanan bisa ditekan.
RPB Desa Loleng menjadi contoh nyata bagaimana inisiatif lokal dapat berkontribusi terhadap kebijakan nasional. Dengan pembangunan yang berkelanjutan, pemerintah daerah berharap mampu menumbuhkan ekosistem industri pangan yang mandiri dan berdampak sosial yang luas.
