Special Plan: Integrasi tani-ternak bantu warga di Kukar lestarikan hutan

Integrasi Tani-Ternak Bantu Warga di Kukar Lestarikan Hutan

Special Plan – Samarinda – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini menjadi contoh sukses penerapan model pengelolaan hutan yang harmonis dengan pertanian dan peternakan. Sistem agrosilvopastura, yang menggabungkan tiga sektor – pertanian, perkebunan, dan peternakan – dalam satu area lahan hutan, memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat setempat. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, pendekatan ini juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim, Rusmadi, menjelaskan bahwa strategi ini dirancang untuk memberdayakan warga lokal melalui penggunaan sumber daya alam secara bijak.

“Kombinasi tiga elemen – tanaman pertanian, tegakan pohon silvikultur, dan padang penggembalaan – berdampak signifikan pada peningkatan kualitas tanah serta pengurangan kerusakan lingkungan,” kata Rusmadi di Samarinda, Sabtu. Menurutnya, sistem ini memungkinkan masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologis hutan.

Pendekatan ini telah diimplementasikan oleh anggota Lembaga Desa Bila Talang Madeng di Kecamatan Tabang, Kukar. Dengan bantuan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi, kelompok masyarakat mulai mengadopsi model penggabungan pertanian dan peternakan dalam 646 hektare area hutan produksi. Tanaman pangan seperti sayuran dan rempah-rempah, termasuk cabai rawit, menjadi bagian dari upaya pelestarian hutan yang dijalankan secara berkelanjutan.

Rusmadi menekankan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan melibatkan demonstrasi langsung di lapangan. “Pendekatan ini memastikan petani memahami bagaimana mengatur produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan fungsi ekosistem pepohonan,” jelasnya. Selain itu, pemerintah setempat juga mengajarkan teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman yang lebih efektif, sehingga mengurangi risiko kerugian akibat serangan alami.

Perubahan ini tidak hanya terjadi di tingkat teknis, tetapi juga memengaruhi pola pikir masyarakat. Sebelumnya, para penduduk di sekitar hutan mengandalkan metode tradisional yang sering kali mengakibatkan deforestasi. Kini, mereka semakin sadar akan pentingnya ekosistem hutan dan berinisiatif mengubah cara mereka memanfaatkan lahan. Rusmadi menyebutkan bahwa pendekatan tata ruang terpadu ini juga memberikan manfaat tambahan, seperti pengurangan kebutuhan bahan bakar fosil melalui penggunaan energi matahari untuk mengeringkan hasil pertanian.

Dishut Kaltim memberikan pelatihan manajemen pengelolaan kawasan hutan, yang membekali masyarakat dengan pengetahuan teknis komprehensif. Program ini tidak hanya fokus pada pengelolaan sumber daya, tetapi juga membimbing warga dalam membangun keberlanjutan ekonomi. Rusmadi menjelaskan bahwa kolaborasi antara aparat pemerintah dan masyarakat desa menjadi kunci keberhasilan model ini. “Dengan kerja sama, kita bisa memastikan ekosistem hayati tetap stabil sambil meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.

Salah satu manfaat terbesar dari agrosilvopastura adalah kemampuan mengurangi tekanan terhadap hutan. Dengan menggabungkan tanaman pangan dan area padang ternak dalam satu sistem, masyarakat tidak lagi memerlukan lahan tambahan untuk aktivitas pertanian. Hal ini membantu mencegah ekspansi lahan pertanian ke hutan primer, yang sering kali menjadi penyebab degradasi lingkungan. Rusmadi menambahkan bahwa metode ini juga mengurangi kerentanan petani terhadap perubahan iklim, karena sistem penanaman yang seimbang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.

Kelompok masyarakat yang mengelola hutan produksi di Tabang mulai melihat hasil nyata dari upaya ini. Produksi sayuran dan rempah-rempah meningkat secara signifikan, sementara jumlah hewan ternak juga stabil. Rusmadi menyatakan bahwa perhutanan sosial dengan skema agrosilvopastura membuka peluang baru bagi warga untuk menjadi wirausaha berbasis lingkungan. “Kita mengajak mereka menjadi pengusaha yang ramah alam, bukan hanya penggarap lahan,” katanya.

Upaya ini juga memberikan contoh bagaimana kebijakan lingkungan bisa berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Rusmadi berharap model agrosilvopastura dapat diadopsi di wilayah lain, khususnya di daerah yang memiliki sumber daya hutan yang berkelanjutan. “Jika diterapkan secara luas, pola ini akan membantu menjaga keanekaragaman hayati sambil meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa integrasi tani-ternak tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah. Dengan penggunaan sumber daya secara efisien, lahan hutan bisa tetap berfungsi sebagai area pertanian sekaligus menjaga keanekaragaman flora dan fauna. Rusmadi menekankan bahwa pendekatan ini memerlukan komitmen bersama antara pemerintah, organisasi desa, dan masyarakat. “Kolaborasi yang kuat adalah jaminan utama keberlanjutan proyek ini,” tambahnya.

Dengan terus berjalannya program ini, harapan masyarakat Kukar untuk menjadi pengusaha yang mandiri dan ramah lingkungan semakin terwujud. Rusmadi mengatakan bahwa selain meningkatkan penghasilan, model agrosilvopastura juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. “Kita ingin mereka mengerti bahwa hutan bukan hanya sumber bahan baku, tetapi juga habitat yang perlu dijaga,” ujarnya.

Keberlanjutan hutan dan kehidupan masyarakat berjalan sejalan melalui skema ini. Rusmadi menyebutkan bahwa pemerintah terus memberikan dukungan berupa akses ke teknologi pertanian ramah lingkungan serta bantuan modal untuk pengembangan usaha. “Dengan dana desa dan program nasional, kita bisa mempercepat perubahan ini,” katanya. Dukungan tersebut memastikan bahwa warga tidak hanya meraih manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan alam di sekitar mereka.

Integrasi tani-ternak menjadi solusi yang inovatif untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi. Sistem agrosilvopastura membuktikan bahwa pengelolaan hutan bisa menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan warga. Rusmadi berharap model ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain, terutama di Kalimantan Timur yang memiliki luas hutan yang signifikan. “Kita yakin bahwa dengan pendekatan seperti ini, hutan akan tetap hidup sehat dan masyarakat bisa berkembang sehat pula,” pungkasnya.