Special Plan: Investasi talenta jadi kunci penguatan ekonomi Indonesia Timur
Investasi Talent Kunci Perkuat Ekonomi Indonesia Timur
Special Plan – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur, dunia usaha dinasihati untuk meningkatkan pengeluaran dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ini bertujuan memenuhi kebutuhan akan talenta terampil yang menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Mohammad Afif Dzulqifli, CEO Kitong Bisa Foundation (KBF), menegaskan bahwa keterbatasan akses ke pendidikan tinggi adalah hambatan utama dalam mencetak tenaga kerja berkualitas serta pemimpin ekonomi lokal. Menurutnya, ketersediaan SDM yang mumpuni sangat dibutuhkan untuk mendorong pengembangan sektor usaha dan industri di kawasan timur Indonesia.
Tantangan dalam Akses Pendidikan Tinggi
Berdasarkan data BPS Indonesia, hanya sekitar 32 persen dari lulusan SMA yang mampu melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dari sepuluh orang, hanya tiga yang bisa mengakses pendidikan tinggi, sementara sisanya terpaksa mengambil jalur lain. Afif menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta mengurangi potensi untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan pasar kerja modern. “Dengan akses pendidikan yang terbatas, banyak mahasiswa dari daerah terpaksa bekerja di luar wilayah asal mereka, sehingga kurang berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
“Menurut BPS Indonesia, hanya 32 persen siswa yang bisa melanjutkan kuliah setelah tamat SMA. Ini berarti hanya tiga dari 10 orang yang bisa melanjutkan ke bangku kuliah,” kata Afif dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan akan SDM lokal yang memiliki kapasitas dan kepemimpinan semakin mendesak seiring berkembangnya berbagai sektor seperti industri, pertambangan, serta layanan jasa. Wilayah timur Indonesia, kaya akan potensi ekonomi, memerlukan tenaga kerja yang mampu mengelola sumber daya secara efektif dan inovatif. Tanpa investasi yang terarah, Afif khawatir kegiatan ekonomi di daerah akan tetap bergantung pada SDM luar, sehingga kesempatan bagi pertumbuhan ekonomi lokal tidak optimal.
Program Beasiswa sebagai Solusi
Untuk mengatasi tantangan tersebut, KBF bekerja sama dengan Eramet Indonesia melalui Program Beasiswa Eramet Beyond. Program ini telah membina 41 mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia Timur sejak 2024. Selain mendapatkan dukungan pendidikan, para peserta juga menerima pelatihan kepemimpinan, penguatan kapasitas, serta pengalaman dalam menjalankan program sosial. Afif menegaskan bahwa inisiatif seperti ini bukan hanya berupa bantuan finansial, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan inovator dan wirausaha yang siap membangun ekonomi lokal.
“Saya harap dari program ini teman-teman dapat memberikan dampak dan solusi nyata. Pesan saya untuk teman-teman, bisa pulang dan kembali membangun daerah masing-masing,” ujarnya.
Pelatihan dan beasiswa ini diharapkan membantu calon pemimpin ekonomi muda di daerah mengembangkan keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menciptakan peluang usaha baru. Afif menekankan bahwa investasi di bidang pendidikan seharusnya tidak sekadar dianggap sebagai bentuk CSR, melainkan sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi daerah.
Kemanfaatan Penguatan Talent Lokal
Pengembangan talenta lokal, menurut Afif, memiliki manfaat ekonomi yang berlapis. Mulai dari peningkatan kualitas tenaga kerja hingga peningkatan produktivitas, hingga munculnya inovator dan pengusaha baru di daerah. Dengan adanya SDM yang terlatih, kawasan timur Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja dari luar serta memaksimalkan sumber daya alam dan potensi ekonomi yang ada. Selain itu, hal ini juga membuka jalan bagi adanya keadilan dalam distribusi peluang kerja, yang sebelumnya cenderung berpihak pada daerah besar.
Dalam konteks ini, Afif menyoroti bahwa perlu adanya kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan lembaga pendidikan untuk membangun sistem pengembangan SDM yang berkelanjutan. “Investasi dalam pendidikan tidak hanya membentuk individu yang berkualitas, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif,” imbuhnya. Ia berharap program serupa dapat diadopsi lebih luas, agar pembangunan ekonomi daerah tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga berbasis SDM yang siap bersaing.
Program Eramet Beyond juga menjadi contoh nyata bagaimana bantuan pendidikan bisa membuka peluang untuk mengurangi kesenjangan kualitas SDM. Dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang, KBF dan Eramet Indonesia berupaya menciptakan jembatan antara pendidikan tinggi dan penerapannya di tingkat lokal. Para peserta diberikan kesempatan untuk belajar, mengasah kemampuan, dan kemudian kembali ke daerah asal mereka untuk memberikan kontribusi nyata. Afif menilai hal ini sangat penting dalam memastikan bahwa penguatan ekonomi tidak hanya terjadi di pusat, tetapi juga merata ke wilayah timur yang memiliki potensi besar.
Menurutnya, pelatihan kepemimpinan dan penguatan kapasitas menjadi poin krusial dalam program ini. Mahasiswa tidak hanya diberikan wawasan akademik, tetapi juga dibekali keterampilan manajerial dan inovatif yang bisa digunakan dalam membangun usaha di daerah. Dengan demikian, mereka tidak hanya bisa menjadi pekerja, tetapi juga pengusaha muda yang mampu menciptakan lapangan kerja baru. Afif menegaskan bahwa SDM yang terlatih dan terarah akan menjadi penopang utama dalam menghadapi tantangan global dan lokal di masa depan.
Dalam jangka panjang, investasi pada talenta lokal dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ekonomi Indonesia Timur. Ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas akan memungkinkan daerah-daerah tersebut mengembangkan industri yang relevan, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi ketergantungan pada migrasi tenaga kerja. “Dengan pengembangan talenta yang merata, generasi muda Indonesia Timur bisa menjadi penggerak utama dalam membangun ekonomi lokal,” tegas Afif. Ia berharap lebih banyak lembaga swasta dan pemerintah daerah mendorong inisiatif serupa, agar kemajuan ekonomi bisa dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
