Visit Agenda: Menjaga semangat petani Tabanan dari godaan geliat pariwisata
Menjaga semangat petani Tabanan dari godaan geliat pariwisata
Pariwisata yang berkembang pesat mengubah wajah pertanian Bali
Visit Agenda – Geliat pariwisata di Bali terus berkembang, menimbulkan berbagai dampak yang perlu diperhatikan. Kebutuhan akan infrastruktur pendukung seperti penginapan, tempat makan, dan layanan jasa menjadi semakin tinggi, mengakibatkan perubahan lahan yang signifikan. Dalam konteks ini, Kabupaten Tabanan, yang merupakan salah satu sentra produksi padi di Pulau Dewata, mulai terancam. Lahan pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah kini menjadi sasaran utama untuk pengembangan destinasi wisata.
Tantangan ini mengemuka setelah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 5,82 persen pada 2025. Angka tersebut terutama didorong oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Namun, kemajuan sektor pariwisata ini ternyata memiliki konsekuensi yang nyata bagi sektor pertanian, khususnya petani yang masih aktif mengolah lahan secara produktif.
“Pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat mengakibatkan peningkatan permintaan akan sarana pendukung pariwisata. Hal ini membuat sejumlah lahan produktif harus diubah fungsi,” ujar salah satu petani setempat, yang enggan disebutkan nama lengkapnya.
Alih fungsi lahan dan persaingan ekonomi
Kebutuhan pengembangan infrastruktur pariwisata membuat petani Tabanan terlibat dalam persaingan ekonomi yang semakin ketat. Sebagai lumbung padi Bali, Tabanan memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan bahan pangan bagi seluruh pulau. Namun, keberadaan destinasi wisata baru, seperti resort, villa, dan tempat rekreasi, mulai menggeser area pertanian yang sebelumnya digunakan untuk produksi padi secara intensif.
Banyak petani mengalami tekanan karena konversi lahan yang tidak terencana. Beberapa di antara mereka terpaksa mengubah pola tanam mereka, sementara yang lain mengalami kesulitan mempertahankan usaha pertanian. “Dari tiga kali panen per tahun, sebagian besar lahan kini digunakan untuk pembangunan wisata,” tambah seorang pengusaha pertanian kecil di Desa Sambangan, Tabanan.
Pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata juga mempercepat pembangunan kota-kota wisata, seperti Kuta dan Seminyak. Perubahan ini memberikan tekanan terhadap pertanian lokal, terutama di wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan jalur pariwisata. Peningkatan permintaan akan lahan untuk perhotelan, restoran, dan pusat perbelanjaan menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan pertanian di Tabanan.
Kebutuhan bahan pangan dan ancaman kerusakan lahan
Kebutuhan bahan pangan yang terus meningkat menjadi alasan utama petani Tabanan tetap berada di tengah tekanan pariwisata. Namun, pembangunan infrastruktur wisata seringkali mengabaikan kebutuhan tersebut. Sebagai contoh, lahan sawah yang diubah menjadi area parkir atau kawasan komersial menimbulkan risiko penurunan produksi padi, yang merupakan sumber utama pangan untuk warga Bali.
Banyak petani mengeluhkan bahwa kepastian penyerapan gabah dari pengusaha lokal terganggu karena perubahan fungsi lahan. Pada masa sebelumnya, mereka mengandalkan kontrak panen dengan pengusaha pangan besar. Kini, keberadaan hotel dan villa yang mulai menjual produk pertanian langsung ke pasar nasional atau internasional membuat keberlanjutan ekonomi petani semakin tergantung pada harga jual yang tidak stabil.
“Kami bertahan karena masih ada permintaan gabah di tingkat lokal, tapi semakin banyak lahan yang diubah menjadi tempat rekreasi. Kalau tidak dikelola dengan baik, produksi padi akan terganggu,” kata petani lainnya, yang berusia 45 tahun.
Kebijakan pemerintah yang terlalu fokus pada pengembangan pariwisata juga menjadi faktor penentu. Meski sektor ini memberikan peluang kerja dan pendapatan, perlu ada keseimbangan dengan pertanian. Pemerintah daerah seharusnya mengalokasikan lahan khusus untuk pertanian, terutama di wilayah yang menjadi sentra produksi padi seperti Tabanan.
Sementara itu, masyarakat lokal mulai merasakan dampak langsung dari perubahan ini. Sejumlah desa yang sebelumnya dihiasi oleh sawah hijau kini diubah menjadi kawasan wisata. Hal ini berdampak pada pengurangan jumlah petani yang aktif, serta pergeseran pola hidup warga setempat. Beberapa di antara mereka beralih ke pekerjaan di sektor pariwisata, meski pendapatan tidak selalu lebih baik.
Upaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pertanian
Menghadapi tantangan ini, sejumlah organisasi dan petani lokal berupaya mengadakan dialog dengan pihak terkait. Mereka meminta adanya regulasi yang lebih ketat dalam penggunaan lahan, serta insentif bagi petani yang masih mempertahankan usaha pertanian. “Kami ingin pariwisata berkembang, tapi jangan sampai mengorbankan makanan sehari-hari kami,” pungkas salah satu perwakilan petani.
Beberapa inisiatif telah diluncurkan, seperti penggunaan lahan untuk pertanian berkelanjutan yang tetap bisa mendukung pariwisata. Misalnya, lahan pertanian bisa diubah menjadi agro-tourism yang menawarkan pengalaman pertanian langsung kepada wisatawan. Dengan pendekatan ini, tidak hanya kebutuhan bahan pangan yang terpenuhi, tetapi juga ekonomi petani bisa tetap stabil.
Walau begitu, ada juga kelompok masyarakat yang mengkhawatirkan kehilangan identitas daerah. Tabanan, yang dikenal sebagai kawasan pertanian, mulai kehilangan ciri khasnya karena dominasi pariwisata. “Bila tidak diatur, Tabanan akan menjadi kota wisata, bukan sentra produksi,” tambah seorang aktivis lingkungan.
Untuk menjaga semangat petani, pemerintah perlu melakukan survei terhadap kebutuhan masyarakat dan mengalokasikan dana yang tepat. Selain itu, program pelatihan dan pemberdayaan bagi petani harus ditingkatkan agar mereka mampu bersaing dengan sektor pariwisata. Dengan penyesuaian strategi, kedua sektor ini bisa berjalan seiring tanpa saling mengganggu.
