What Happened During: Di sela mengajar, guru perbatasan menjaga anyaman bidai tetap hidup
Di antara Pengajaran, Guru Perbatasan Melanjutkan Warisan Anyaman Bidai
What Happened During – Bengkayang – Jemari Tuti Susanti (34) bergerak perlahan memasukkan helai rotan satu demi satu. Di hadapannya, selembar bidai hampir selesai dianyam. Motif khas Dayak mulai membentuk pola yang rapi dan estetik. Di sudut rumahnya di Dusun Preges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terlihat tumpukan rotan yang baru dibawa dari Kalimantan Tengah. Bahan-bahan ini menjadi bagian penting dari rutinitas yang sudah dikenalnya sejak kecil, jauh sebelum ia memulai karier sebagai guru.
Kini, keseharian Tuti dibagi dalam dua peran. Pada pagi hingga siang, ia mengajar di SD Negeri 15 Malayang, Dusun Rahadja, Desa Mayak, Kecamatan Seluas. Untuk sampai ke sekolah, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, Tuti kembali menekuni pekerjaan yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya, yaitu pembuatan bidai—anyaman rotan tradisional Dayak yang menjadi identitas budaya masyarakat perbatasan dengan Malaysia.
Warisan yang Dibawa Sejak Anak-anak
“Saya belajar membuat bidai sejak kelas enam SD. Setiap pulang sekolah, kami membantu orang tua menganyam,” ujar Tuti kepada ANTARA, akhir minggu pertama Juni. Keterampilan ini ia terima dari kedua orang tua yang sejak lama menekuni kerajinan tersebut. Sembari melanjutkan pekerjaan, Tuti mengingat masa kecilnya yang lebih sering dihabiskan mengamati orang tuanya bekerja dibanding bermain dengan teman-temannya.
Dari pengamatan itu, ia mempelajari berbagai motif, cara memilih rotan berkualitas, serta teknik menyusun anyaman yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Kami belajar dari tangan mereka, mulai dari pemotongan rotan sampai penyusunan bidai,” kata ibu tiga anak itu. Keterampilan ini bukan hanya keahlian, tetapi juga bentuk perayaan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perbatasan.
Bagi Tuti, tidak semua orang bisa menguasai bidai. Selain membutuhkan ketekunan, setiap motif memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. “Beberapa pola sangat rumit, hampir seperti puzzle,” jelasnya. Proses membuat bidai memakan waktu, mulai dari pemilihan bahan hingga selesai. Bahan utama adalah rotan yang diimpor dari Kalimantan Tengah, karena di wilayahnya sudah jarang ditemukan rotan berkualitas tinggi.
Perjalanan ke Pasar Serikin dan Peninggalan Budaya
Menurut Tuti, bidai pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat perbatasan. Pada masa lalu, hasil anyaman keluarganya lebih banyak dipasarkan ke Pasar Serikin, Malaysia, yang berada tidak jauh dari kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. “Dulu, pasar itu jadi sumber utama pendapatan,” kata dia. Perjalanan ke sana hanya memakan waktu sekitar satu jam dari rumahnya, jauh lebih singkat dibandingkan menuju Kota Bengkayang yang butuh dua jam, atau Pontianak yang memakan lebih dari lima jam perjalanan darat.
Saat ini, minat terhadap bidai semakin menurun. “Sekarang, hanya sedikit orang yang masih menekuni pekerjaan ini,” lanjut Tuti. Meski demikian, ia masih berupaya menjaga tradisi tersebut hidup. Setiap akhir pekan, hasil anyaman orang tuanya dibawa ke Serikin untuk dijual kepada pembeli yang tertarik dengan keunikan dan kualitas karya Dayak. “Hari Sabtu dan Minggu biasanya hasil bidai dibawa ke sana,” tutur ibu tiga anak itu.
Pasar Serikin dulu merupakan tempat yang ramai dengan pembeli dari Malaysia dan sebagian pendatang dari Kalimantan Barat. Tuti mengakui bahwa peminat bidai pada masa itu lebih banyak berasal dari luar negeri. “Kebanyakan pembeli dari Malaysia lebih tertarik,” katanya. Namun, seiring berjalannya waktu, minat terhadap bidai mulai berpindah ke produk-produk lain yang lebih modern.
Kebudayaan yang Terancam dan Upaya Melestarikannya
Tuti menyadari bahwa bidai bukan hanya keahlian, tetapi juga simbol identitas budaya yang perlu dilestarikan. “Jika tidak dijaga, keahlian ini bisa hilang,” katanya. Ia berharap generasi muda bisa melanjutkan pekerjaan ini sebagai bentuk warisan budaya. Meski sehari-harinya menghabiskan waktu untuk mengajar, Tuti tetap menyempatkan diri memasukkan rotan ke dalam anyaman, sebagai bentuk pengejaran impiannya.
Kerajinan bidai juga memiliki nilai ekonomi. Ia menjelaskan bahwa produk ini bisa dijual dengan harga yang kompetitif di pasar lokal dan internasional. “Meski dijual dengan harga terjangkau, tetap ada nilai seni yang tinggi,” kata Tuti. Namun, ia mengakui bahwa keberlanjutan bidai kini bergantung pada ketertarikan pembeli dan kesadaran masyarakat akan keunikan karya tradisional.
Di sela-sela kegiatan mengajar, Tuti berharap bisa membuka peluang bagi siswa untuk belajar tentang budaya Dayak. “Saya ingin siswa memahami bahwa bidai bukan hanya hiasan, tetapi juga bagian dari sejarah kita,” katanya. Ia berencana mengajarkan teknik membuat bidai kepada murid-muridnya, sebagai bentuk penguatan nilai-nilai lokal di tengah arus globalisasi yang semakin cepat.
Kerajinan ini juga terkait dengan kondisi geografis. Karena letaknya dekat perbatasan dengan Malaysia, keberadaan bidai memiliki nilai tambah sebagai produk yang menyatu dengan budaya dua negara. Namun, Tuti menyebut bahwa persaingan semakin ketat. “Banyak produk lain yang lebih murah dan lebih cepat dibuat,” katanya. Meski demikian, ia tetap bersungguh-sungguh menjaga keahlian ini.
Di masa depan, Tuti berharap bidai bisa tetap bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat perbatasan. “Saya ingin bidai tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Untuk mencapai hal itu, ia berharap ada dukungan dari pemerintah dan organisasi lokal. “Jika ada pelatihan atau pengakuan, maka bidai bisa lebih dikenal lagi,” katanya. Dengan semangat ini, Tuti terus berusaha menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
Sambil menganyam, Tuti juga menyadari bahwa bidai adalah bentuk ekspresi seni yang unik. “Setiap bidai memiliki cerita, mulai dari bahan yang dipilih hingga pola yang terbentuk,” jelasnya. Ia percaya bahwa melalui pekerjaan ini, masyarakat perbatasan bisa mempertahankan kebudayaan yang menjadi ciri khas wilayahnya. Dengan peran ganda sebagai guru dan pengrajin, Tuti berusaha menjembatani generasi masa kini dengan tradisi yang terus berlanjut.
