Topics Covered: Kementan perkuat cetak sawah di Kalimantan percepat swasembada pangan
Kementan perkuat cetak sawah di Kalimantan percepat swasembada pangan
Pelaksanaan Workshop dan Rapat Koordinasi untuk Synchronisasi Program
Topics Covered – Banjarmasin – Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan peningkatan pengelolaan Program Cetak Sawah di Kalimantan melalui pertemuan penyusunan rencana kerja serta rapat koordinasi persiapan konstruksi. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memastikan ekspansi area pertanian berjalan efektif, sehingga mendorong percepatan tercapainya swasembada pangan nasional. Rapat koordinasi yang berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu lalu, dihadiri oleh 112 peserta yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Kalimantan. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menyampaikan bahwa penyamaan visi antara semua pihak terlibat menjadi penting agar seluruh pelaksana memiliki kesamaan pendekatan dalam menjalankan program tersebut.
Menurut Hermanto, kegiatan cetak sawah telah dilakukan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, tetapi masih memerlukan penyempurnaan dari segi tata kelola. Ia menegaskan bahwa dengan menyamakan persepsi, pelaksanaan program akan lebih terarah dan efisien. “Kita perlu memastikan bahwa semua pihak terlibat memiliki pandangan yang selaras, mulai dari tim pengawas lapangan hingga penyedia jasa konstruksi,” jelasnya. Hermanto menyoroti bahwa konsistensi antara dokumen perencanaan dan kondisi di lapangan adalah kunci keberhasilan program. Hal ini untuk mencegah adanya kerja yang tidak sesuai dengan rencana, sehingga meminimalkan risiko hambatan selama proses implementasi.
“Penyamaan persepsi diperlukan agar seluruh pelaksana memiliki pola pikir dan pemahaman yang sama dalam menjalankan program cetak sawah, mengingat kegiatan tersebut telah dilaksanakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir dan masih memerlukan berbagai penyempurnaan dari sisi tata kelola,” ujar Hermanto.
Menurut Hermanto, data dan catatan dari tahun-tahun sebelumnya memberikan wawasan penting mengenai titik-titik kritis yang berpotensi mengganggu proses cetak sawah. Contohnya, peningkatan ketersediaan alat berat dan sumber daya pendukung yang diperlukan selama konstruksi. “Dengan memahami tantangan di masa lalu, kita bisa mengantisipasi masalah saat ini dan memastikan pekerjaan berjalan lancar,” terangnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada pengelolaan fisik lahan, tetapi juga pada sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, dinas teknis, dan tim pengawas.
Pendekatan Berbasis Klaster untuk Maksimalkan Efisiensi
Hermanto menekankan bahwa program cetak sawah tidak boleh hanya berhenti pada tahap awal seperti penggemburan lahan, tetapi mencakup seluruh proses konstruksi hingga lahan siap ditanami. “Dengan pendekatan berbasis klaster, kita bisa menyelesaikan setiap tahapan secara menyeluruh di satu lokasi sebelum berpindah ke area lain,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa strategi ini dirancang untuk memastikan lahan yang sudah dibangun dapat langsung dimanfaatkan oleh petani, sehingga menghindari kemungkinan lahan kembali ditumbuhi semak atau gulma.
“Kita harus memastikan pelaksanaan pekerjaan cetak sawah berjalan lancar, berkualitas, fungsional dan sukses sehingga lahan yang dibangun benar-benar dapat ditanami dan berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan nasional,” ujar Hermanto.
Dalam keseluruhan proses, Hermanto menekankan bahwa keberhasilan program memerlukan kerja sama yang optimal antara semua pemangku kepentingan. “Tidak hanya kualitas fisik lahan yang penting, tetapi juga kemampuan lahan untuk berproduksi secara maksimal,” tambahnya. Ia menyebutkan bahwa sinergi antara Kementan dan TNI AD menjadi faktor pendukung utama dalam pengawasan program ini. Selain itu, Hermanto menyoroti bahwa program ini dijalankan melalui Cetak Sawah Rakyat (CSR), yang dirancang untuk menciptakan area pertanian baru di Kalimantan.
Pembangunan lahan produktif tersebut dimulai dari survei awal hingga desain perencanaan yang disusun secara rinci. Hermanto menyampaikan bahwa Dokumen Survey Investigation Design (SID) menjadi dasar utama pelaksanaan kegiatan. “Pekerjaan konstruksi harus berpedoman pada SID yang telah disusun sebelumnya, sehingga tidak ada aktivitas yang dilakukan tanpa rencana,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa SID memastikan semua aspek teknis, seperti ketersediaan air irigasi, kemiringan tanah, dan jenis tanah, telah diperhitungkan dengan matang.
Menurut Hermanto, kerja sama antara penyedia jasa konstruksi dan dinas teknis di lapangan adalah faktor kunci dalam menjaga kualitas pekerjaan. “Konsistensi antara dokumen penawaran melalui sistem e-Katalog dengan kondisi di lapangan harus dipertahankan,” katanya. Ia menyebutkan bahwa dengan sistem ini, pemerintah bisa mengontrol biaya, kualitas, serta kecepatan pelaksanaan. Selain itu, Hermanto menegaskan bahwa program cetak sawah juga mengantisipasi hilangnya lahan produktif akibat perubahan fungsi, seperti pengembangan perumahan atau industri.
Target Perluasan Lahan Produksi untuk Pangan Nasional
Pemerintah menargetkan ekspansi area lahan sawah baru sebesar 400.000 hingga 480.000 hektare, dengan pendanaan mencapai Rp10 triliun. Program ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan swasembada pangan nasional, khususnya di Kalimantan yang secara geografis memiliki potensi pertanian yang besar. “Dengan adanya cetak sawah di daerah ini, kita bisa mengimbangi kebutuhan pangan nasional yang semakin meningkat,” ujarnya.
Hermanto menjelaskan bahwa program cetak sawah dirancang untuk mengakselerasi produksi pangan, sekaligus membuka sentra pertanian baru di luar Pulau Jawa. Ia menambahkan bahwa Kalimantan memiliki kondisi alam yang sangat baik, seperti iklim tropis dan curah hujan yang cukup, sehingga cocok untuk dikembangkan menjadi area pertanian berkelanjutan. “Kita perlu memanfaatkan potensi ini dengan baik agar dapat memberikan kontribusi nyata,” terangnya.
Menurut Hermanto, keberhasilan cetak sawah juga bergantung pada dukungan masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif dari petani dan komunitas lokal akan memastikan program ini berjalan optimal. “Ketika masyarakat melibatkan diri, mereka lebih memahami manfaatnya dan siap memberikan kontribusi,” katanya. Ia menyebutkan bahwa upaya ini juga diharapkan meningkatkan ketersediaan lahan untuk pertanian organik dan pangan lokal.
Dalam menjalankan program ini, Kementan berkoordinasi erat dengan TNI AD, yang memastikan adanya pengawasan dan pendampingan selama proses konstruksi. Hermanto menekankan bahwa sistem e-Katalog memainkan peran penting dalam mempercepat proses penawaran jasa konstruksi. “Dengan sistem ini, kita bisa memperoleh jasa terbaik dengan biaya yang terjangkau,” ujarnya.
Program cetak sawah ini juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan air irigasi dan memastikan tanah yang digunakan memiliki kualitas optimal. Hermanto menegaskan bahwa seluruh tahapan, mulai dari perataan lahan hingga pembangunan sarana pendukung seperti jalan dan bangunan, harus dipertimbangkan secara menyeluruh. “
