Diterjang luapan Kali Wanggu – ratusan rumah di Kendari terendam banjir
Diterjang Luapan Kali Wanggu, Ratusan Rumah di Kendari Terendam Banjir
Kendari, Sulawesi Tenggara – 10 Mei 2026
Diterjang luapan Kali Wanggu – Minggu (10/5/2026), wilayah Kelurahan Lepo-lepo di Kendari, Sulawesi Tenggara, mengalami kekacauan akibat banjir yang melanda daerah permukiman penduduk. Luapan air dari Kali Wanggu menjadi penyebab utama bencana tersebut, yang mengakibatkan sejumlah rumah tergenang air hingga mencapai lantai. Puluhan rumah terpaksa ditinggalkan oleh penghuninya, sementara sebagian lainnya masih bisa dihuni meski dalam kondisi yang sulit.
Banjir yang terjadi tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik pada bangunan tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Pasalnya, ketinggian air mencapai sekitar satu meter, membuat jalanan terputus dan aliran listrik terganggu. Beberapa penghuni kawasan terpaksa menggunakan perahu untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan warga, terutama pada anak-anak dan lansia yang kesulitan bergerak di tengah kondisi terparah.
“Sudah tiga hari kami terjebak di dalam rumah. Air mulai naik dari dalam saluran, dan sebagian rumah terendam sampai lantai dua,” ujar salah satu warga setempat, yang enggan disebutkan nama lengkapnya. Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca yang ekstrem, yakni hujan deras dan angin kencang, memperparah keadaan dengan mempercepat aliran air ke permukiman.
Kondisi bencana ini terjadi setelah hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak beberapa hari sebelumnya. Intensitas curah hujan yang melebihi kapasitas saluran drainase membuat Kali Wanggu meluap ke permukiman. Kebocoran di sejumlah titik saluran air memicu aliran yang tidak terkendali, sehingga membawa dampak luas kepada penduduk yang tinggal di daerah rendah.
Banyak warga yang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi, seperti bangunan berlantai dua atau tempat-tempat yang tidak terkena banjir. Beberapa keluarga juga berusaha menyelamatkan barang-barang berharga mereka, meski banyak yang terbawa oleh arus. Kebutuhan bantuan darurat mulai terlihat, dengan warga meminta dukungan dari pemerintah setempat dan organisasi penanggulangan bencana.
Penduduk sekitar 685 jiwa terkena dampak banjir akibat meluapnya Kali Wanggu, yang juga menyebabkan kematian satu orang. Korban meninggal adalah seorang lansia yang terseret oleh arus deras saat berusaha menyelamatkan keluarga. Jasadnya ditemukan beberapa jam setelah banjir terjadi, dengan kondisi terluka parah akibat benturan dengan batu yang terbawa air.
Kebocoran di Kali Wanggu tampaknya disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan infrastruktur yang kurang memadai. Kecamatan Lepo-lepo menjadi salah satu area terparah, dengan ribuan meter persegi permukiman terkena genangan. Pemerintah daerah sedang berusaha mengidentifikasi sumber utama luapan tersebut, sementara tim relawan terus bergerak untuk memberikan bantuan berupa makanan, air minum, dan perlengkapan kebutuhan pokok kepada warga yang terdampak.
Kebocoran di sejumlah titik saluran air juga menimbulkan risiko terhadap sistem drainase kota. Beberapa warga mengatakan bahwa saluran yang sebelumnya cukup mampu mengalirkan air kini memerah dan menjadi penyumbang aliran banjir. Masalah ini mengingatkan kembali pentingnya perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur air untuk mencegah bencana serupa di masa mendatang.
Berita ini telah diberitakan oleh ANTARA FOTO/Jojon/sgd, yang mengunggah foto udara dan foto warga yang berjuang melawan dampak banjir. Dalam beberapa gambar, terlihat warga berusaha menyeberang ke daerah yang lebih aman dengan menggunakan perahu, sementara pohon-pohon di sekitar jalan tergerus oleh air deras. Selain itu, foto-foto tersebut juga menunjukkan kondisi permukiman yang terendam, dengan air menggenang hingga ke atap rumah.
Dalam upaya mempercepat respons darurat, pemerintah daerah mengirimkan truk-truk pengangkut dan tim evakuasi untuk menjangkau warga yang terjebak. Warga yang terdampak pun berupaya melakukan penyelamatan sendiri dengan membawa barang-barang kecil ke tempat yang lebih tinggi. Namun, ada juga warga yang terluka akibat jatuh saat mencoba menyeberang ke kawasan yang lebih aman.
Pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara sedang memantau kondisi darurat di Kendari dan mempersiapkan penanggulangan bencana dalam skala besar. Kebutuhan logistik dan tempat pengungsian tetap menjadi prioritas utama selama beberapa hari ke depan. Dengan hujan yang masih berlangsung, dikhawatirkan banjir akan terus berlanjut hingga akhir pekan.
Secara keseluruhan, kejadian banjir di Kali Wanggu mengingatkan pentingnya kesiapan wilayah terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Selain itu, kejadian ini juga menyoroti perlunya perbaikan sistem drainase dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang tindakan pencegahan bencana. Pemangku kebijakan diharapkan dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa depan.
Kendari menjadi contoh nyata bagaimana bencana alam dapat mengganggu kehidupan warga, terutama yang tinggal di daerah rentan banjir. Pemulihan kondisi akan memakan waktu, terlebih dalam upaya membangun kembali permukiman yang terkena dampak. Dengan kerja sama antara pemerintah, relawan, dan warga, harapannya adalah kondisi kembali normal dalam waktu dekat.
