What Happened: Upacara peringatan Hardiknas

Upacara Peringatan Hardiknas

What Happened – Sabtu (2/5/2026), ribuan pelajar dari berbagai tingkatan sekolah di seluruh Indonesia mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar di berbagai lokasi strategis. Di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, acara tersebut dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, yang menjadi pengisi acara utama. Dalam upacara ini, para peserta didik dari SD hingga SMP tampil memakai pakaian tradisional daerah mereka, sebagai bentuk kebanggaan atas warisan budaya yang juga menjadi simbol identitas nasional.

Acara di Jakarta tidak hanya menampilkan keberagaman pakaian adat, tetapi juga menjadi panggung untuk menyampaikan pesan penting tentang peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung pendidikan berkualitas. Tema utama dari Hardiknas 2026, yaitu “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, dijelaskan secara rinci oleh Brian Yuliarto dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu didorong oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga komunitas lokal.

“Pendidikan merupakan jembatan menuju kemajuan nasional. Dengan partisipasi yang lebih luas, kita bisa memastikan bahwa semua warga negara, terlepas dari latar belakangnya, memiliki akses yang sama untuk berkembang secara intelektual dan sosial,” ujar Brian Yuliarto dalam pidatonya.

Di sisi lain, upacara Hardiknas yang diadakan di Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) Manokwari, Papua Barat, juga memperlihatkan semangat kebersamaan. Ratusan siswa dari berbagai sekolah menghadiri acara tersebut, yang diisi dengan ritual-ritual khas daerah seperti tarian tradisional dan pembacaan doa. Sementara itu, suasana di Jakarta terasa lebih formal, dengan hadirnya pejabat tinggi dan pengunjung dari berbagai institusi pendidikan.

Pada upacara di YAPIS, para peserta didik menunjukkan keunikan budaya masing-masing dengan mengenakan pakaian adat yang beragam. Misalnya, beberapa siswa mengenakan pakaian khas Irian Barat, sementara yang lain memilih baju tradisional dari daerah lain di Indonesia. Upacara tersebut tidak hanya menjadi momen edukasi, tetapi juga ajang promosi kebudayaan lokal yang terus dijaga dalam dunia pendidikan. Brian Yuliarto, yang memimpin upacara di Jakarta, juga menyampaikan harapan bahwa keberagaman budaya dapat menjadi fondasi kekuatan pendidikan nasional.

“Dengan menggabungkan nilai-nilai lokal dan inovasi modern, pendidikan Indonesia bisa menjadi lebih inklusif. Ini adalah upacara yang menggambarkan komitmen kita untuk menciptakan sistem pendidikan yang mencakup seluruh lapisan masyarakat,” tambahnya.

Hardiknas 2026 menjadi momen penting bagi seluruh elemen pendidikan, mulai dari guru hingga pemangku kepentingan lain. Di YAPIS Manokwari, kehadiran para siswa dianggap sebagai bentuk respons positif terhadap kebijakan pemerintah yang mendorong partisipasi masyarakat dalam pembelajaran. Sementara itu, di Jakarta, upacara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari siswa, dosen, serta tokoh pendidikan. Keberagaman dalam penampilan seragam dan ritual acara menunjukkan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk menyatukan berbagai latar belakang.

Sejumlah siswa yang hadir di YAPIS Manokwari menyatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam upacara tersebut memberikan pengalaman yang berharga. “Saya senang bisa berpartisipasi dalam Hardiknas. Ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan budaya kita kepada orang-orang dari daerah lain,” kata salah satu siswa. Ia menambahkan bahwa acara tersebut juga memotivasi para peserta didik untuk lebih giat belajar dan berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Di Jakarta, upacara Hardiknas di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dihiasi dengan lagu-lagu nasional dan parade kebudayaan yang memperlihatkan keragaman Indonesia. Ratusan siswa dan pengunjung lainnya terlihat antusias mengikuti prosesi, termasuk dalam memakai pakaian adat yang menjadi kebanggaan daerah. Brian Yuliarto menyampaikan pesan bahwa pendidikan harus menjadi prioritas nasional, dan perayaan Hardiknas tahun ini menjadi momentum untuk menggalang dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Hardiknas 2026 di Jakarta juga melibatkan peran aktif para guru dan organisasi pendidikan. Mereka berpartisipasi dalam acara dengan menampilkan seni dan budaya yang relevan dengan tema acara. Selain itu, acara tersebut diselingi dengan penampilan seni dan pembacaan puisi yang menggambarkan semangat belajar dan berkarya. Tema “Menguatkan Partisipasi Semesta” diinterpretasikan sebagai keharusan menggandeng seluruh pihak, termasuk masyarakat, dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Pada upacara di Manokwari, suasana lebih hangat dengan kehadiran siswa yang tampak antusias dan bersemangat. Mereka mengenakan pakaian tradisional yang menjadi ciri khas masing-masing kelompok etnis, seperti baju adat Kombu dan Gereja. Pemimpin upacara, Brian Yuliarto, berharap bahwa perayaan ini bisa menjadi awal dari kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan. “Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang layak, dan peran kita adalah mengupayakan itu bersama-sama,” tuturnya.

Hardiknas tahun ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi pencapaian pendidikan nasional. Menteri Brian Yuliarto menyoroti perluasan akses pendidikan, terutama bagi daerah-daerah terpencil yang masih menghadapi tantangan dalam menyediakan fasilitas pendidikan. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berupaya memberikan dukungan, baik melalui kebijakan maupun penganggaran, guna memastikan bahwa pendidikan bisa merata di seluruh Indonesia.

Dalam upacara di YAPIS Manokwari, peserta didik