Indo Crowd Funding
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Maia Estianty nilai royalti musik era kaset lebih seru

Published 19 Oktober, 2026 · Updated 19 Oktober, 2026 · By Emily Garcia - indocrowdfunding.com

Foto : Emily Garcia - indocrowdfunding.com

Maia Estianty Soroti Perubahan Nilai Royalti Musik di Era Digital

Indocrowdfunding.com – Maia Estianty memandang perjalanan industri musik telah mengalami perubahan besar sejak peralihan dari kaset dan CD menuju distribusi digital. Bagi musisi yang dikenal sebagai bagian dari Duo Maia itu, masa penjualan rekaman fisik menghadirkan pengalaman ekonomi yang lebih terasa bagi para pelaku musik dibandingkan kondisi saat ini.

Pandangan tersebut disampaikan Maia saat menghadiri Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/10). Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa dirinya belum menyiapkan perilisan karya baru dalam waktu dekat, meski masih memiliki banyak materi musik yang tersimpan.

“Sebenarnya karya-karya masih banyak, cuma hanya menjadi bank data aja. Karena memang menurut aku bekerja di dunia musik tuh sudah enggak seasik dulu. Jadi aku selalu ngomong di podcast atau di mana bahwa mungkin royaltinya zaman dulu kita masih area ring back tone masih seru ya,” ujar Maia.

Pernyataan itu menggambarkan perbedaan suasana antara industri musik masa lalu dan sekarang. Pada era kaset, CD, serta layanan ring back tone, karya musik memiliki jalur pemanfaatan yang lebih mudah dirasakan secara langsung oleh pencipta maupun penyanyinya. Penjualan produk fisik menjadi salah satu bentuk perputaran ekonomi yang lekat dengan perjalanan banyak musisi Indonesia pada masa tersebut.

Penjualan Fisik Dinilai Memberi Dampak Lebih Nyata

Bagi Maia, kaset dan CD bukan sekadar format untuk mendengarkan lagu. Keduanya juga menjadi bagian dari sistem yang membuat hasil karya memiliki nilai komersial yang jelas. Ketika pendengar membeli album fisik, hubungan antara popularitas sebuah karya dan pemasukan artis terasa lebih dekat.

Situasi itu kini berubah seiring dominasi layanan digital. Musik dapat diakses dengan lebih praktis, cepat, dan luas, tetapi Maia melihat nilai royalti yang diterima pelaku musik tidak lagi semanis periode penjualan fisik. Ia membandingkan keadaan tersebut dengan masa ketika kaset, CD, dan ring back tone masih menjadi bagian penting dari konsumsi musik.

“Kalau zaman sekarang tuh bener-bener digital, itu royaltinya tidak semanis zaman dahulu. Zaman kita masih ring back tone , masih main di fisik, belum ada digital. Jadi masih dapat jual kaset, jual CD, itu masih nyata. Musisi tuh makmur gara-gara itu. Menurut aku sekali lagi begitulah,” kata dia.

Perubahan format memang membawa konsekuensi bagi cara karya musik beredar. Jika sebelumnya pendengar umumnya membeli album atau single dalam bentuk benda fisik, era digital membuat lagu tersedia melalui berbagai kanal berbasis internet. Kemudahan tersebut memperluas akses pendengar, tetapi pembahasan tentang penghargaan ekonomi bagi pencipta, pemusik, produser, dan penyanyi tetap menjadi perhatian dalam industri.

Pengalaman Maia juga memperlihatkan bahwa keberadaan katalog lagu tidak selalu langsung diikuti keinginan untuk merilisnya. Ia menyebut karya-karya yang dimilikinya saat ini lebih banyak tersimpan sebagai bank data. Hal itu menandakan bahwa proses merilis musik bukan hanya persoalan kesiapan materi, melainkan juga pertimbangan terhadap kondisi industri dan nilai yang diterima dari sebuah karya.

Festival Musik Menjadi Ruang Bertemu dengan Pendengar

Walau menyoroti tantangan dalam sistem royalti, Maia tetap menikmati energi pertunjukan langsung. Festival musik dengan penonton besar memiliki daya tarik tersendiri karena menghadirkan suasana santai, akrab, dan penuh interaksi antara artis dengan penggemar.

“Jadi kalau yang kayak begini-begini yang festival yang rame, itu suasana posisinya seru, yang kita ketawa-ketawa, bergembira bersama, bisa nyanyi bareng rame-rame, enggak perlu tegang. Nah, ini kita mau,” tutur dia.

Panggung festival memberi ruang bagi lagu-lagu untuk kembali hidup melalui nyanyian bersama. Bagi penampil, respons langsung dari kerumunan menjadi pengalaman yang berbeda dengan perilisan karya melalui platform digital. Penonton tidak hanya mendengarkan, melainkan ikut membangun suasana lewat sorakan, nyanyian, dan perjumpaan kolektif yang berlangsung di lokasi acara.

Duo Maia, yang beranggotakan Maia Estianty dan Mey Chan, turut tampil dalam Synchronize Fest 2026. Kehadiran keduanya di Gambir Expo Kemayoran pada Minggu (18/10) menjadi bagian dari semarak festival musik tersebut.

Refleksi Maia tentang royalti mempertemukan dua sisi perkembangan musik: akses digital yang kini sangat dekat dengan keseharian pendengar dan kenangan atas masa ketika album fisik menjadi penopang utama pendapatan musisi. Di tengah perubahan itu, penampilan di festival tetap menawarkan bentuk hubungan yang nyata antara karya, musisi, dan publik yang menyanyikannya bersama-sama.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Maia Estianty nilai royalti musik era kaset?

Maia Estianty nilai royalti musik era kaset is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Maia Estianty nilai royalti musik era kaset matter?

Maia Estianty nilai royalti musik era kaset matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.